Posted in Inspirasi

Bukan Tuhan Tidak Membantu..

dsc_3642

Saat memulai studi PhD di Fall semester 2014 bulan Agustus – Desember, saya semangat sekali mempelajari berbagai hal terkait dengan studi, terutama tentang menulis satu research grant (dana penelitian). Ada banyak kesempatan untuk melamar research grant yang tersedia; sama seperti beasiswa. Mulai dari jumlah dananya disekitaran $2000 sampai ratusan ribu dollar. Silahkan kalikan saja dengan 13 ribu kalau ingin tahu jumlahnya dalam bentuk rupiah. Salah satu rencana saya adalah bekerja sama dengan pembimbing akademik untuk menulis satu proposal penelitian lalu mengirimkannya kepada satu yayasan (foundation) atau semacamnya yang sedang membuka kesempatan untuk dana penelitian. Bisa memenangkan satu research grant merupakan nilai tambah tersendiri – kita bisa melaksanakan riset sembari kuliah dan didanai. Di masa depan, pengalaman pernah memenangkan sebuah research grant bisa memperkuat CV yang dimiliki.

Karena sedang semangat sekali, di akhir semester bulan Desember, ada tiga proposal untuk research grant yang saya dan pembimbing akademik selesaikan. Kemudian, tiga proposal ini kami kirimkan ke tiga kesempatan dana penelitian yang sedang buka. Menyelesaikan tiga proposal ini sangat tidak mudah, karena harus membagi waktu dengan perkuliahan dan tugas-tugas akadmeik yang ada. Saat itu, rasanya hanya saya yang berhasil menyelesaikan proposal penelitian sesuai target; soalnya, diawal semester, mahasiswa lain di grup saya juga berencana menulis proposal, tetapi tidak selesai di akhir semester. Saya berikan usaha terbaik waktu itu untuk semua proposal yang dikerjakan. Bimbingan demi bimbingan dengan pembimbing akademik dijalani; revisi demi revisi ditekuni, hingga akhir ketiga proposal itu dikirimkan. Ah… rasanya lega sekali setelah semuanya selesai. Hati berharap ada proposal yang akan sukses di tahun 2015.

Di awal tahun 2015, satu persatu pengumuman dari research grant yang dilamar keluar. Sayangnya, hasil yang diinginkan tidak hadir dalam kenyataan. Ketiga proposal yang saya kirim itu semuanya GAGAL; tidak ada satu pun yang berhasil. Di kamar, saya terdiam beberapa saat. Ingin rasanya banting sana dan sini; meluapkan amarah sekeras-kerasnya! Siang malam saya mengerjakan proposal ini, tapi ternyata hasil yang didapat NIHIL, tak satupun proposal yang lulus mendapatkan dana penelitian. Keesokkan harinya, dengan wajah lesuh, saya menemui pembimbing akademik di kantornya. Ada sedikit rasa malu dengan beliau karena takut dianggap tidak mampu menjadi partner dia dalam menulis proposal dana penelitian. Tetapi, disisi lain, tidak ada lagi yang bisa saya berikan, karena saya sudah benar-benar maksimal dalam menulis proposal tersebut. Professor pembimbing akademik saya, kemudian, menasehati saya kalau memang memenangkan sebuah dana penelitian bukanlah pekerjaan yang mudah; ambil pelajaran dari pengalaman ini, lalu kita coba lagi nanti. Jujur, saya bukan orang yang mudah menerima hasil yang berbeda disaat sudah berusaha maksimal. Butuh waktu beberapa minggu untuk saya bisa melupakan kegagalan dan mulai mencari kesempatan research grant yang lain.

Tahu tidak apa yang terjadi berikutnya?

Di awal tahun 2016, di e-mail saya masuk satu informasi pengumuman kalau Columbia University sedang membuka peluang research grant terkait dengan beasiswa International Fellowships Program yang dilaksanakan dari tahun 2001 – 2013. Deadline waktunya sedang mepet sekali, hanya beberapa minggu lagi dari waktu saya membaca informasi tersebut. Untungnya, topik research grant yang dibuka oleh Columbia Universiity ini sejalan dengan topik tiga proposal yang saya tulis sebelumnya di tahun 2014. Akhirnya, dengan sedikit revisi sesuai dengan yang diminta oleh pihak penyelenggara dan melengkapi semua dokumen yang diminta, saya kirimlah satu proposal dana penelitian yang sebelumnya pernah dikirim dan gagal itu. Saya tidak terlalu berharap bisa mendapatkan research grant itu, karena sudah punya pengalaman gagal sebelumnya; selain itu, research grant ini pasti sangat kompetitif sekali mengingat jumlah dana yang ditawarkan lumayan dan diselenggarakan oleh kampus besar seperti Columbia University.

Ternyata, Tuhan berkehendak lain. Di Bulan Mei 2016, diumumkan kalau saya adalah salah satu pemenang untuk research grant ini! Pemenang yang lain berasal dari Belanda, Vietnam, Mesir, dan Afrika Selatan. Proposal yang memenangkan dana penelitian ini, kemudian, menjadi topik penelitian Disertasi saya yang akhirnya berhasil saya seminarkan di akhir bulan Desember 2016. Rasa syukur dan bahagia tentu saja terluap tanpa henti saat itu. Namun, ada satu pesan yang ingin sampaikan pada teman-teman semua.

Seandainya, saat Fall semester 2014 lalu saya tidak sungguh-sungguh mengerjakan proposal dana penelitian itu, mungkin saya tidak akan bisa melamar research grant yang dibuka oleh Columbia Unversity di awal tahun 2016. Jika tidak bisa mengirim proposal, berarti saya mungkin harus mencari topik penelitian lain untuk Disertasi dan belum tentu bisa melakukan seminar proposal disertasi di bulan Desember 2016, karena menulis proposal disertasi bukanlah hal yang mudah. Jika semua ini yang terjadi, saya mungkin akan sangat-sangat kesulitan untuk menyelesaikan studi PhD saya di Spring semester di tahun 2017 ini.

Lihatlah, begitu banyak yang bisa menjadi “tidak jadi” andai saja di Fall semester itu saya tidak bersungguh-sungguh menyelesaikan proposal dana penelitian yang sedang dikerjakan. Kegagalan yang dirasakan setelahnya memang sangat pahit sekali; namun, rasa keberhasilan yang didapatkan setelah kegagalan itu ketika saya terus berusaha kembali sangat-sangat manis sekali, hingga bisa memudahkan penulisan Disertasi saya.

Kawan, Tuhan pada dasarnya sudah menyiapkan berbagai situasi dalam hidup kita untuk dipilih, dan dijalani dengan sungguh-sungguh sesuai dengan impian yang kita miliki. Bukan Dia tidak pernah membantu membimbing jalan hidup kita, tetapi mungkin kita tidak cukup bersungguh-sungguh dalam menjalani setiap situasi yang diberikannya, sehingga hasil yang didapatkan berikutnya adalah akibat dari “ketidaksungguhan” kita ini; seperti situasi yang akan terjadi ketika saya tidak sungguh-sungguh mengerjakan proposal penelitian di 2014 waktu itu.

Dalam dunia ini, tidak ada satu kebetulan. Setiap situasi yang kita hadapi, menuntut kita untuk memilih, apakah akan bersungguh-sungguh menjalaninya atau tidak. Kegagalan dan keputusasaan mungkin hal yang akan kita dapatkan walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi, ingatlah, untuk terus keep going! Kesungguhan dan usaha maksimal yang sudah kita berikan akan mengantarkan kita pada satu fase keberhasilan di masa depan. Kita tidak pernah tahu kapan akan datang manfaatnya; namun, percayalah, kita bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu pun akan ada hasil positif yang tetap akan kita dapatkan, walau hanya sekedar dalam bentuk pelajaran dan pengalaman tentang kegagalan, tetapi tetap tidak semua orang melalui fase ini, bukan?

Yuk, kita sibukkan diri kita dengan mengejar prestasi dan mendesain masa depan yang lebih baik. Bersungguh menjalani setiap situasi yang diberikan Tuhan pada kita, karena, lagi, tidak ada kebetulan dalam hidup ini. Salah merespon satu situasi, dampaknya akan terus berkepanjangan di masa beritkutnya dalam hidup kita.

Saya juga percaya, ada tujuan kenapa Tuhan membuat anda membaca tulisan saya ini. Mungkin Dia ingin anda merefleksikan situasi ini dalam hidup anda, dan memperbaikinya untuk di masa depan nanti.

Let’s keep going and break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Twitter @01_budi | FB Page: sdsafadg | Line: @zux2328h

 

 

Posted in Inspirasi

T.I.D.U.R

dsc_2388

Malam tadi, saya tidur pukul 7 malam selepas shalat Isya. Bangun jam 12 malam, cuci muka lalu hidupkan Laptop, kerja kembali. Pukul 3 pagi tidur kembali dan bangun di jam 6 pagi untuk menunaikan shalat Subuh. Selepas itu, kembali ke tempat tidur dan bangun pukul 8 pagi. Gambaran ini hanya satu dari jadwal hari-hari saya yang tidak beraturan selama menempuh studi S3 di Negeri Paman Sam ini. Terkadang tidur jam 3 sore dan bangun jam 5 sore; tidak tidur sampai jam 2 atau 3 pagi, dan seterusnya.

Ah, saya selalu merindukan waktu-waktu tidur saat di Indonesia yang teratur setiap hari.

Kawan, salah satu tantangan yang akan anda hadapi saat menempuh studi di luar negeri adalah harus pandai mengatur waktu. Di awal semester mungkin masih bisa menikmati waktu tidur yang teratur dan sesuai kebiasaan. Namun, situasi akan berubah drastis seiring bertambahnya pertemuan kelas dan tugas-tugas yang harus dikerjakan.

Setiap minggu untuk setiap kelas selalu ada daftar bacaan artikel, book chapter, atau pun satu buku yang harus dibaca SEBELUM MASUK KELAS. Setidaknya, ada 2 atau 3 bacaan yang harus diselesaikan. Mungkin terdengar tidak berat bila anda membaca penjelasan saya ini. Tetapi, situasi akan terasa beratnya ketika anda harus menjalaninya bersama dua mata kuliah lainnya, tugas, kegiatan mahasiswa, dan lain sebagainya.

Beberapa minggu lalu, saya mendapatkan satu pesan dari teman yang baru memulai studi S2-nya di Amerika. Dia mengeluhkan banyaknya jumlah bacaan plus bacaannya susah sekali dimengerti. Di kelas, dia merasa ‘keteteran’ mengikuti alur diskusi teman-temannya yang kebanyakkan asli orang Amerika. Di satu sisi, dia harus memahami isi bacaan yang sulit dan disisi lain dia harus bisa menyampaikan idenya dalam bahasa Inggris; tentu saja teman-temannya asli orang Amerika tidak sulit sama sekali dengan bahasa Inggris. Situasi-situasi seperti inilah yang sering dihadapi mahasiswa internasional. Alhasil, agar bisa mengimbangi teman-teman kelas lainnya, kita harus berusaha lebih lagi belajarnya; akhirnya, waktu tidur harus mau dikorbankan sedikit dan mulai tidak teratur.

Kawan, saya tidak menulis cerita sederhana ini untuk membuat anda takut atau khawatir bagaimana nanti kalau beneran jadi studi ke luar negeri. Melainkan, saya ingin anda memahami satu situasi yang akan anda hadapi saat studi ke luar negeri nanti. Sejauh ini saya sudah berhasil menyelesaikan studi di University of Manchester, Inggris dan sekarang tengah menempuh S3 di Lehigh University, Amerika.

Saya mau bilang, kawan, ayolah coba menimba ilmu di negeri orang. Coba dan alami sebuah pengalaman proses menuntut ilmu yang berbeda. Anda punya sebuah potensi yang besar, bahkan Tuhan pun mengakui kalau anda adalah makhluk yang sempurna.

Luruskan niatnya untuk menuntut ilmu. Ikhlaskan diri untuk menjadi pribadi yang tangguh, positif, dan mencerahkan. Kita tidak tahu, mungkin dengan berawal dari membangun karakter diri ini, Tuhan  memberikan ridho-Nya – melipatkan jarak dan waktu untuk menjalani mimpi yang sudah dimiliki ini.

Yuk, semangat! Let’s break the limits..!!

If everything seems under control, you’re bot going fast enough

– Mario Andretti 

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Twitter @01_budi | FB Page: sdsafadg | Line: @zux2328h

Posted in Pertanyaan

Bisakah Ambil Jurusan S2 yang Berbeda dengan S1 di UK dan USA?

  • Pertanyaan:

Halo assalamualaikum kak budi.

Terimakasih telah membuatkan sarana untuk bertanya bagi kami yang bermimpi melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan sedang berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. Semoga semua kebaikan yang kak budi lakukan untuk kami, scholarship hunters diterima oleh Allah SWT aamiin.

Sebelumnya saya sudah bertanya melalui fb messengger, tapi hingga saat ini, saya belum mendapatkan balasan. Namun saya memaklumi, mungkin ada ribuan pesan di inbox kak budi, sehingga pertanyaan saya terlewat dan belum terbaca.

Kak budi, saya tertarik sekali dengan bahasa Inggris sejak SMA. namun karena ada beberapa hal, saya tidak kuliah di jurusan sastra inggris. Background s1 saya adalah kesejahteraan sosial. Nah, yang saya ingin tanyakan adalah apakah bisa saya melanjutkan S2 ke luar negeri melalui beasiswa dengan jurusan sastra inggris? Beberapa waktu yg lalu saya mengirimkan pertanyaan lewat e-mail kepada seseorang lulusan Monash university (australia) jurusan penerjemahan. Pertanyaan yang saya ajukan kepada beliau sama seperti pertanyaan yang saya ajukan ke kak budi. Dan beliau menjawab, tidak bisa. biasanya untuk beasiswa s2, harus linear dengan S1. Bagaimana dengan beasiswa di UK atau US kak? Apakah S2-nya harus linear dengan S1? Semoga kak budi berkenan menjawab pertanyaan saya:) wassalam

Hana Sofi Dania_Bandung_STKS Bandung_

  • Jawaban Budi:

Hi Hana. Terima kasih untuk pertanyaannya.

Pertama, pahami terlebih dahulu kalau setiap beasiswa dan setiap kampus itu bisa berbeda kebijakan dan hal-hal lain terkait, jadi kita tidak bisa “memukul rata” kalau semua beasiswa itu seperti “ini”, dan semua kampus di luar negeri seperti “itu”. Kita harus tetap eksplor dan memastikan langsung ke pihak beasiswa atau pihak jurusan yang akan dilamar itu agar mendapatkan jawaban yang pasti ya. Hal ini penting karena saya lihat kebanyakkan kita hanya “dengar kata orang”, misal katanya begitu kak, atau katanya begini kak, tanpa mau mengecek langsung dengan sumber utamanya; ini yang terkadang saya sangat sayangkan.

Kedua, bisakah lanjut studi ke Inggris atau Amerika dengan beasiswa tapi di jurusan yang berbeda dengan S1 dahulu?

Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya:

  • Jawabannya BISA, jika si pelamar punya pengalaman yang sejalan dengan jurusan yang akan diambil itu. Misal, mau ambil jurusan Sastra Inggris. Walaupun S1-nya jurusan ekonomi misalnya, tapi sejak lulus dia kerja sebagai guru bahasa Inggris, kerja sebagai penerjemah, aktif di berbagai organisasi terkait bahasa Inggris, ada paper tentang bahasa Inggris, ada prestasi terkait bahasa Inggris dan lain sebagainya. Dalam kondisi ini, biasanya pihak kampus di luar negeri atau pun pihak beasiswa lebih melihat pengalaman si pelamar ketimbang apa yang dipelajarinya saat S1 lalu.
  • Jawabannya TIDAK BISA, jika jurusan yang dituju adalah jurusan yang dianggap harus memiliki latar belakang S1 jurusan tersebut agar bisa mengikuti perkuliahan S2 nanti. Biasanya, ini jurusan-jurusan seperti MBA atau tekhnik. Tetapi, lagi, setiap beasiswa dan jurusan di kampus-kampus bisa berbeda kebijakannya. Seperti kebijakan di Monash University bisa jadi berbeda dengan kampus-kampus lain di Australia, jadi jangan berpikiran semua kampus dan jurusan Sastra Inggris di Australia semuanya seperti itu. Sepengetahuan saya, sekarang tidak terlalu banyak kampus atau beasiswa yang melihat jurusan S1-nya. Mereka lebih melihat “bagaimana pengalaman yang sudah dimiliki oleh si pelamar”. Silahkan baca e-books gratis untukmu scholarship hunters di blog ini lengkapnya ya. Tapi, lagi, cek langsung ke jurusannya; kirim e-mail ke mereka.

Menurut saya, pihak beasiswa dan kampus-kampus diluar lebih melihat “pengalaman” yang dimiliki si pelamar – serelevan apa pengalaman-pengalaman yang dimiliki si pelamar dengan jurusan yang ingin mereka ambil saat S2. Singkatnya, kalau S1nya berbeda, lalu tidak punya pengalaman terkait dengan jurusan yang akan diambil saat S2; terus apa yang bisa menjadi indikator kalau si pelamar ini sudah punya “bekal” untuk menjalankan studi S2 di jurusan itu nanti? Makanya, tidak linear biasanya bisa ditoleransi, tapi harus ada pengalaman terkait dengan jurusan yang akan diambil itu.

Semoga bermanfaat. Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Twitter @01_budi | FB Page: sdsafadg

 

Posted in Pertanyaan

Apakah nanti semua yang ditulis di study objective harus tercapai semua?

  • Pertanyaan: 

Artikelnya awesome kak.. anyway, study objective yang kak budi tulis sebagai target selama kuliah, apakah harus tercapai semua? dan apakah sudah tercapai? Thanks a bunch kak.

  • Jawaban Budi:

Hi Arum. Terim kasih untuk pertanyaannya.

Pertama, kakak ingin jelaskan dulu tentang study objective ini agar punya pemahaman dasarnya.

Study Objective adalah salah satu hal yang menjadi persyaratan untuk setiap beasiswa, terutama kalau kuliahnya di luar negeri. Terkadang, namanya digunakan yang lain, seperti motivation letter. Inti isinya sama saja; hanya bila ada poin-poin yang diminta dimasukkan kedalamnya, itu mungkin yang akan menjadi pembedanya.

Kenapa Study Objective penting? Karena pihak sponsor/komite seleksi beasiswa/ kampus yang akan dilamar ingin tahu bagaimana latar belakang studi kita sebelumnya, pengalaman secara akademik, dan rencana studi kita nanti kalau diterima di kampus yang dituju.

Perlu diingat, kampus di luar negeri biasanya tidak sembarangan menerima siswa. Ada kondisi dimana terkadang kampus tidak menerima mahasiswa walau skor TOEFL atau IELTSnya sudah tinggi. Salah satu penyebabnya adalah karena study objective si mahasiswa tidak bisa “dipenuhi” oleh pihak jurusan dikampus. Jadi, kampus diluar itu akan membaca dan memahami apa tujuan studi kita dan apakah mereka punya sumber daya untuk mendukung rencana studi kita itu. Mereka akan lebih memilih menolak mahasiswa bila dirasa tidak ada “sumber daya” yang akan bisa membantu si mahasiswa saat studi nanti, misalnya tidak ada professor yang tertarik dengan topik penelitian kita, tidak ada lab yang bisa mendukung, atau study objectivenya tidak sejalan dengan tujuan dari jurusan yang dilamar itu, dan lain sebagainya.

Jadi, peranan study objective bisa dikatakan sangat penting, bukan hanya untuk agar dapat beasiswa, tetapi juga agar bisa diterima di kampus di luar negeri. Fase agar bisa diterima di kampus luar negeri ini lebih berat dari fase saat akan memenangkan beasiswa.

Kedua, apakah nanti jika sudah diterima oleh beasiswa dan diterima di kampus luar negeri, kita harus memenuhi semua “target” yang ditulis di study objective? Jawabannya: Iya. Karena memang begitulah seharusnya, bukan?

Lalu, bagaimana kalau target itu tidak tercapai? Selama studinya tidak bermasalah, tidak ada sanksi atau konsekuensi yang akan kita terima, kecuali kalau pihak beasiswanya punya kebijakan tertentu.

Perlu diingat, ada kemungkinan ketika kita memulai studi di kampus luar negeri, kita akan melaksanakan riset yang berbeda dari yang disampaikan di study objective. Menurut saya, ini tidak masalah. Riset S2 dan S3 saya berbeda sekali dari yang ditulis di study objective. Bukan karena ingin berbeda, tetapi, ketika memulai studi, banyak hal yang dipelajari dan ada dosen pembimbing, selain itu ada juga keterbatasan waktu studi yang harus juga dipertimbangkan. Jadi, semua hal-hal yang ditemui saat studi bisa jadi membuat kita berubah dari apa yang disampaikan dalam study objective. Menurut saya, ini tidak masalah, selama anda mengikuti passion dan future goals yang ingin anda raih.

Semoga bermanfaat. Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Twitter @01_budi | FB Page: sdsafadg

Posted in Pertanyaan

Apakah Lulusan Universitas Swasta Punya Kesempatan Dapat Beasiswa?

  • Pertanyaan: 

Ka mau tanya, kan saya dari univ swasta nah bisa ga dari univ swasta meraih beasiswa luar negeri? Apakah ada pembeda misalkan univ negeri lebih didahulukan/mudah mendapat full scholarship? mohon penjelasannya. soalnya saya agak minder gitu loh, sama pesaing univ negeri.

Adytia Putra_cianjur_universitas jenderal achmad yani.

  • Jawaban Budi:

Hi Adytia. Terima kasih untuk pertanyaannya.

Bisakah lulusan universitas swasta mendapatkan beasiswa S2 atau S3 lanjut studi ke luar negeri? Jawabannya: BISA.

Saat dapat beasiswa S2 dan S3 ini, saya sudah bertemu teman-teman yang mendapatkan beasiswa S2 dan S3 juga walau mereka lulusan universitas swasta.

Tetapi, satu hal perlu dipahami, yaitu setiap beasiswa memiliki tujuan dan persyaratan yang berbeda-beda, jadi tidak bisa semuanya dianggap sama semuanya.

Misalnya, memang ada beasiswa yang untuk dosen yang mengajar di kampus baik negeri maupun swasta, nah dalam konteks ini kalau yang bukan dosen melamar, sudah pasti tidak akan diterima. Ada beasiswa yang hanya diperuntukkan pegawai negeri di instansi tertentu saja, jadi yang bukan pegawai negeri di instansi yang dimaksud tidak akan lulus kalau melamar, dan seterusnya. Jadi, kuncinya adalah memahami dengan baik informasi beasiswa yang diterima atau yang akan dilamar. Baca dengan baik kriteria pelamar seperti apa yang mereka cari dan refleksikan apakan sesuai dengan latar belakang saya atau tidak.

Kebanyakkan beasiswa yang disponsori oleh pemerintah atau yayasan dari luar negeri tidak melihat apakah si pelamar lulusan universitas negeri atau swasta, tetapi yang mereka lihat adalah bagaimana profil si pelamar, pengalaman kerja dan organisasinya, bagaimana kemampuan bahasa Inggrisnya, bagaimana pengalaman risetnya, dan seterusnya. Latar belakang ini lebih penting untuk mereka lihat. Contoh beasiswa ini adalah beasiswa Fulbright, Prestasi, Chevening, dan lain-lain. Eksplor dengan baik setiap informasi beasiswa yang diterima.

Sponsor/ komite seleksi beasiswa itu mencari “Sebuah paket yang lengkap”, artinya mereka melihat kandidat lebih dari sekedar lulusan universitas swasta atau negeri. Makanya, saya pernah menulis e-books gratis untuk panduan teman-teman Indonesia dalam menyiapkan diri untuk memenangkan beasiswa studi ke luar negeri. Silahkan download dan baca ebook lengkapnya disini gratis: Ebooks Gratis Tentang Beasiswa

Pesan saya, tidak perlu minder kalau lulusan universitas swasta. Fokus pada memperbaiki profil diri kita sebaik mungkin. Sudah banyak lulusan universitas swasta mendapatkan beasiswa studi ke luar negeri. Pelajari dan baca ebooks gratis itu dengan baik ya. Karena kunci utama memenangkan beasiswa studi ke luar negeri itu bukan seberapa cerdas kita, melainkan sebaik apa persiapan yang sudah kita lakukan.

Semangat ya! Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Twitter @01_budi | FB Page: sdsafadg

Posted in Pertanyaan

Waktu Sudah Mepet, Gimana Kalau Surat Rekomendasinya dari Atasan/Kolega saja?

  • Pertanyaan:

Hai pak budi, kebetulan sekali saya baru mendapatkan info mengenai beasiswa chevening.. dan ternyata saya hanya memiliki waktu pengiriman berkas persyaratan (surat rekomendasi 2 orang, ijasah dan transkrip, passport, dan pilihan 3 jurusan di universitas di UK) paling lambat adalah tanggal 3/4 November 2016 ini..

Dikarenakan informasi yang saya terima tersebut sangat telat, akan tetapi saya benar-benar ingin mencoba peruntungan atas impian saya untuk dapat kuliah dengan biaya full beasiswa dari LN melalui chevening tersebut.

Dan kebetulan saya ingin apply master degree lagi dengan jurusan berbeda yang sebelumnya saya telah melewati pendidikan S1 di bidang manajemen, dan baru saja menyelesaikan S2 di bidang manajemen syariah di april 2016 lalu. Sedangkan bidang baru yang ingin saya apply ini adalah IT (software, hardware, maupun robotic).

Yang ingin saya tanyakan adalah,

1. Kira-kira apabila saya mencantumkan 2 surat rekomendasi dari 2 orang IT expert dengan gelar head of IT dept. head (dari 2 perusahaan tempat saya pernah bekerja) dapat menjadi pertimbangan chevening untuk menerima saya atau tidak ya? Soalnya kan saya tidak ada kenalan dosen di bidang IT.

2. Kira-kira saran dari pak budi apa ya yang perlu saya siapkan atau saran lainnya dikarenakan waktu yang sudah injury time seperti ini?

Anyway, thanks ya pak atas sharing dan jawabannya.

Regards,
FRI

Jawaban Budi:

Hi Ryan. Terima kasih untuk pertanyaannya.

Bila merujuk pada website chevening bagian references ada penjelasan siapa yang bisa menjadi referee:

” Who can be a referee? Please select your referees carefully; they should be people who can comment on your general suitability to receive a Chevening Award. Referees should be known to you, either in an academic or professional capacity. They should not be a relative or close personal friend.” (Ini link lengkapnya: Surat Rekomendasi)

Artinya, pemberi surat rekomendasi bisa yang mengenal anda secara akademik atau di bidang profesional anda (pekerjaan). Jadi, kalau anda mau menggunakan 2 surat rekomendasi dari atasan atau mereka yang kenal anda secara profesional, jawabannya bisa.

Idealnya, referees kita ada yang pembimbing akademik dulu dan atasan sekarang kalau diminta 2 surat rekomendasi.  Tetapi, dalam kondisi Ryan, silahkan dicoba saja.

Perlu diingat, proses seleksi chevening ini nanti ada fase kita harus melamar sendiri ke kampus di Inggris. Nah, disaat proses inilah surat rekomendasi juga dikirimkan ke kampus bersangkutan, karena salah satu persyaratan melamar ke kampus di luar negeri biasanya.

Apakah kalau Ryan punya 2 surat rekomendasi semuanya dari atasan atau kolega akan berpengaruh terhadap aplikasi Ryan? Menurut saya tidak terlalu kalau yang dimaksud hal yang negatif. Justru kalau yang beri surat rekomendasi atasan dan kolega yang punya jabatan dan track record bagus, surat rekomendasinya lebih bagus.

Tetapi, nanti kalau sudah masuk fase melamar ke kampus di Inggris, usahakan ada surat rekomendasi dari pembimbing skripsi/akademik dahulu, karena kampus yang dituju ingin melihat bagaimana performa anda saat studi sebelumnya.

Saran saya, maksimalkan persiapan semua aplikasinya, sepert surat rekomendasi, sertifikat IELTS, dan yang lainnya. Setelah semua sudah siap, esai-esai singkat dalam aplikasi (online) usahakan dijawab dengan baik, koreksi dan edit beberapa kali, jangan sekali duduk selesai dan kirim, karena ini yang salah satu menentukan – mereka melihat kualitas anda melalui esai-esai ini.

Semoga sukses! Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Twitter @01_budi | FB Page: sdsafadg

Posted in Bahasa Inggris

Pendaftaran Sekolah Inggris Periode 3

 

segera-dibuka-2

Silahkan baca informasi dibawah ini dengan teliti dan ikuti setiap langkah pendaftaran dengan baik


1. Apa itu Sekolah Inggris?

  • Sebuah program belajar materi dasar bahasa Inggris secara online dan gratis.
  • Ini adalah program tambahan untuk membantu siswa-siswa Sekolah TOEFL agar memiliki pengetahuan dasar yang lebih baik lagi untuk meraih skor TOEFL yang ditargetkan.
  • Bagi yang belum ikut Sekolah TOEFL tetap bisa mendaftar dan mengikuti program Sekolah Inggris ini dan bisa mendaftar Sekolah TOEFL yang akan dibuka periode baru di bulan Desember nanti.

2. Bagaimana sistem belajarnya?

  • Sistem belajar dirancang untuk memfasilitasi siswa dengan berbagai latar kesibukkan yang berbeda, mulai dari siswa SMA, Mahasiswa, Pekerja Professional, maupun Ibu Rumah Tangga.
  • Setiap hari Senin siswa akan diberikan satu handbook materi yang bisa didownload.
  • Siswa mempelajari handbook ini selama satu minggu.
  • Di hari Minggu pukul 20.00 – 22.00 siswa mengikuti Temu Online di FB Group. Jadwal selama Ramadhan: 21.00 – 22.00 WIB.
  • Di Temu Online ini akan dibahas handbook yang dipelajari setiap minggunya.
  • Setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu akan diberikan “Questions of the Day (QOTD)”.
  • Siswa wajib menjawab Questions of the Day ini.
  • Pembahasan QOTD juga akan diberikan di hari Selasa, Kamis, dan Sabtu.
  • Siswa bebas bertanya tentang materi di social media yang disiapkan mentor di handbook.
  • Sistem belajar fleksibel tetapi teratur dan materi yang diberikan memiliki alur yang jelas.
  • Panduan belajar lengkap akan diberikan di FB Group Sekolah Inggris.

3. Siapa Mentor Sekolah Inggris?

  • Budi Waluyo, M. A.
  • Beliau juga pendiri dan mentor Sekolah TOEFL.
  • Penerima Beasiswa S2 IFP studi di University of Manchester, Inggris
  • Sedang studi S3 di Lehigh University, USA dengan beasiswa Fulbright Presidential Scholarship

4. Siapa saja yang bisa ikut belajar?

  • Siswa SMA, Mahasiswa, Pekerja Profesional maupun Ibu Rumah Tangga.
  • Mereka yang ingin serius memperbaiki kemampuan bahasa Inggris dan kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran TOEFL di Sekolah TOEFL.

5. Apa persyaratan menjadi siswa?

  • Mau serius dan tekun belajar.
  • Menolak membiarkan keterbatasan secara finansial, keterbatasan fasilitas belajar, serta keterbatasan waktu membatasi ruang gerak untuk meraih mimpi, baik untuk meraih beasiswa studi ke luar negeri, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan lain sebagainya.
  • Sekolah Inggris dibuat untuk membantu “keluar dari keterbatasan yang ada” agar dapat mendesain dan berjuang meraih masa depan yang lebih baik.

3 Langkah Pendaftaran Sekolah Inggris


Gagal mengikuti 3 langkah dibawah ini berarti gagal mendaftar

Langkah 1

1. Pilih dan isi salah satu formulir dibawah ini berdasarkan latar belakang yang dimiliki:

  • Kategori SMA dan Mahasiswa.

Klik link ini: https://goo.gl/forms/dSQd6ewypDnaDyLP2

  • Kategori Non Mahasiswa.

Klik link ini: https://goo.gl/forms/TTdZBWMSajOYpgYx2

Langkah 2

2. Bergabung di Facebook Grup Sekolah Inggris.

  • Klik link dibawah ini dan anda akan segera disetujui untuk bergabung.
  • Bila sudah disetujui di FB Group, baca perintah/ informasi yang ada di FB Group terkait proses pembelajaran.

Klik link dibawah ini untuk request bergabung di FB Group Sekolah Inggris sesuai latar belakang yang dimiliki:

  • Kategori Mahasiswa.

Klik link ini: https://www.facebook.com/groups/396451307360618/

  • Kategori Non Mahasiswa.

Klik link ini: https://www.facebook.com/groups/794511604021310/

Langkah 3

3. Follow atau Like salah satu atau semua Social Media dibawah ini agar tidak ketinggalan informasi:

Follow Twitter       : @01_budi dan @SekolahToefl

Follow Facebook   : https://www.facebook.com/budi.waluyo.33

Like FB Page          : https://www.facebook.com/Sdsafadg-879319065432901/

Follow Instagram  : @sdsafadg dan @Sekolah_TOEFL

Add/Follow Line   : @zux2328h

Selesai

Cek informasi di FB Group Sekolah Inggris bila anda sudah disetujui masuk


Posted in Bahasa Inggris

Peluang Riset

Bingung mencari topik buat skripsi, thesis, paper untuk conference, ide penelitian masa depan saat melamar beasiswa atau semacamnya-

Beberapa orang pernah menghubungi saya untuk minta izin melakukan penelitian di Sekolah TOEFL untuk skripsi dan paper untuk conference. Secara pribadi, saya mendukung hal-hal positif seperti ini. Artinya, Sekolah TOEFL bisa berkontribusi untuk bidang penelitian juga, diluar hal-hal yang menjadi fokusnya.

Hari ini saya ingin mengumumkan bahwa saya membuka peluang bagi teman-teman yang ingin melakukan penelitian di Sekolah TOEFL atau pun di Sekolah Inggris. Kita punya ribuan siswa tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Profesi mereka bervariasi, mulai dari siswa SMA, Mahasiswa, Pekerja Professional, sampai Ibu Rumah Tangga. Silahkan dimanfaatkan dengan baik.

Saya bisa bantu menghubungkan anda dengan siswa, seperti menyebarkan questionnaire, survei atau pun permohonan menjadi responden untuk wawancara.  Kemungkinan besar anda akan mendapatkan respon yang banyak dari siswa, karena memang kita fokus kepada bagaimana agar bisa membawa perubahan positif untuk diri sendiri dan orang lain.

  • Bingung mencari topik penelitiannya?

Dibawah ini saya berikan gambaran-gambaran topik penelitian yang bisa menjadi starting point anda:

  1. A comparative study of Sekolah TOEFL/Sekolah Inggris and Massive Online Open Courses (MOOC)
  2. An analysis of a sustainable online learning system.
  3. How to build an online learning system that is suitable for disadvantaged people.
  4. The effectiveness of an online learning system for enhancing student motivation, student attitude and student achievement.
  5. Analyzing the effects of Sekolah TOEFL/Sekolah Inggris on student’s self esteem.
  6. Analyzing the effects of Sekolah TOEFL/Sekolah Inggris on students with low self-esteem.
  7. Searching for the appropriate communication styles in an online learning system.
  8. Sekolah TOEFL/Sekolah Inggris and Massive Online Open Courses (MOOC): How different are they?
  9. Knowledge of TOEFL and students’ future achievements.
  10. Why has/have Sekolah TOEFL/ Sekolah Inggris attracted more people than other online learning systems?
  11. An effective method to increase student participation in an online learning system.
  12. How to reduce student anxiety in an online learning system?
  13. The blended learning system for disadvantaged people.
  14. How do Indonesians perceive TOEFL or English?
  15. The impact of international English tests on Indonesians.
  16. Integrating technology and online learning resources into ELT.
  17. Analyzing the effectiveness and success of Sekolah TOEFL/Sekolah Inggris.
  18. Other factors affecting the teaching and learning process in an online learning system.
  19. Lessons learned from sekolah TOEFL/Sekolah Inggris.
  20. Analyzing the expected returns of education among Indonesians.

Dan seterusnya. Silahkan eksplor sendiri sesuai bidang ilmu anda.

  • Bagaimana prosedurnya bila ingin melakukan penelitian di Sekolah TOEFL dan Sekolah Inggris?

1. Pastikan anda sudah memahami secara menyeluruh apa itu Sekolah TOEFL dan Sekolah Inggris. Silahkan eksplor dahulu informasi di blog ini.

2. Pastikan anda menjaga etika-etika dalam penelitian, seperti menjaga kerahasiaan responden, dan lain-lain.

3. Pastikan anda sudah memahami apa yang ingin anda teliti.

4. Selanjutnya, hubungi saya.

Yuk, kita saling bantu dalam kebaikan.

Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi 

Posted in Studi di Amerika

Penghibur Hati Musafir Penuntut Ilmu di Hari Raya

Lama sudah rasanya saya tidak menulis cerita di blog ini; kerasa ada yang hilang – seperti menikmati satu makanan tanpa garam; sesuatu yang kecil, namun akan sangat terasa di lidah, serta sedikit mengurangi rasa nikmatnya makanan bila sebelumnya sudah sering menikmati makanan yang selalu ditambahkan sedikit garam. Tentu akan terlewatkan bagi mereka yang memiliki kebiasaaan berbeda. Malam ini, I made up my mind: saya harus lanjutkan menulis cerita di blog ini. Tahu tidak kenapa? Karena bagi saya, setiap cerita hidup yang dilalui setiap hari adalah sebuah rahmat dari Tuhan, dan harus disyukuri. Tidak sedikit yang sudah menutup mata, dan tidak mampu menjalani hari ini misalnya, hanya karena panggilan Tuhan lebih dulu datang daripada panggilan takbir shalat Eid pagi ini. Menulis adalah kebiasaaan orang-orang besar; menulis adalah salah satu cara untuk hidup lebih lama dari umur kita; menulis adalah cara terbaik merefleksikan semua nikmat yang sudah diberikan Tuhan dan merangkumnya menjadi satu pelajaran bagi diri sendiri maupun orang lain.

* * *

Pukul 04.30 pagi ini suara alarm jam mulai ribut seperti biasa, tetapi bukan untuk membangunkan sahur, melainkan untuk mengingatkan kalau waktu untuk shalat subuh sudah masuk. Mata rasanya masih berat sekali, namun dipaksakan juga melangkah ke kamar mandi. Malam tadi tidur jam 1 pagi. Tak heran kalau mata ini masih masih berat dibuka. Di Indonesia, euforia Idul Fitri tengah berlangsung karena lebih cepat 11 jam waktunya dari Amerika. Sedangkan disini, pukul 08.00 pagi nanti baru akan ditunaikan shalat Eid. Sudah janji dengan dua orang teman asal Indonesia kalau pukul tujuh ini akan bertemu di Fulbright house dan berangkat ke Masjid bersama.

Di kota Bethlehem tempat saya tinggal ini, ada satu Masjid besar yang menjadi tempat Muslim Association of Lehigh Valley (MALV). Sejak pertama kali tiba di tahun 2014, saya selalu menunaikan shalat Eid di Masjid ini. Kesulitannya hanya satu: tempatnya jauh dan harus pergi dengan mobil. Biasanya, saya selalu nebeng dengan Qashim, seorang teman dari Pakistan di mobilnya, tapi kali ini ada dua mahasiswa Indonesia yang baru datang dan akan studi S2 di Lehigh University. Akhirnya, saya putuskan untuk pergi dengan taksi dan mencoba jasa Uber untuk pertama kalinya. Setelah sign up malam tadi, pagi ini saat bertemu dengan Rahma dan Satrih, mahasiswa asal Indonesia yang baru datang itu, segera digunakanlah aplikasi Uber di HP. Sangat gampang sekali; tinggal masukkan alamat untuk pick up, lalu segera muncul berapa menit lagi taksi uber akan sampai ditempat. Tetapi, ada satu kebingungan yang belum terpecahkan, yaitu di HP saya tidak ada internet connection, sedangkan untuk memesan Uber harus terkoneksi dengan internet. Saya belum tahu apakah di Masjid nanti ada wifi atau tidak. Bila di Masjid nanti tidak ada wifi, bagaimana pesan Uber buat pulang? Ah, nyantai saja… whatever happens, happens.. nantilah memikirkan tentang itu. Stay positive saja.

Dalam waktu 8 menit, satu mobil Ford C-Mac Hybrid Merah tiba didepan Fulbright House dan kami bertiga segera masuk ke mobil. Bertemulah kami dengan Higinio, laki-laki asal Puerto Rico yang menjadi sopir. Logat Latin Americanya terasa kental sekali. Sejak masuk mobil sampai turun mobil lama kami berbincang tentang berbagai hal. Mulai dari berapa gaji yang didapatnya selama bekerja dengan Uber sampai sistem pemerintahan sosialis yang tidak berjalan di beberapa negara. Entahlah, apa kaitan antara topik-topik ini. Yang terpenting, dia sudah membawa kami ke Masjid dengan selamat. Turun dari mobil, kami langsung menuju ke tempat shalat masing-masing. Ruang tempat shalat didalam Masjid sudah hampir penuh dengan jamaah. Salah satu hal yang menarik dari Masjid ini adalah jamaah yang datang dari berbagai negara; terlihat jelas dari warna kulit, bentuk wajah, sampai bahasa yang digunakan. Yah, walaupun hanya sendirian menunaikan shalat Eid kali ini (dua teman lagi shalat di tempat wanita), sedikit terasa kalau tidak sendirian yang sedang jauh dari rumah.

Suasana Jamaah di dalam Masjid

Suara takbiran terus berkumandang dengan nada yang berbeda dari nada takbiran di Indonesia. Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi, dan shalat Eid pun ditunaikan. Pukul 09.45 nanti akan ada shalat Eid kloter kedua untuk mereka yang terlewatkan shalat Eid kloter pertama ini. Sekitar setengah jam, shalat Eid plus ceramah selesai dan setiap jamaah mulai bersalaman dan berpelukan sambil berkata,” Eid Mubarak brothers!”. Saya terdiam sejenak, perasaan mulai sedikit gloomy; sendirian saja. Terbayang biasanya setiap setelah shalat Eid akan bersalaman dan bermaafan karena kenal dengan jamaah sekitar. Sampai teguran dari seorang pria membuyarkan lamunan saya. “Eid Mubarak brother!”, ucapnya seraya menyalami dan memeluk tubuh saya. Tersenyum, itu yang bisa saya berikan. Tidak tahu siapa dia, tetapi tegurannya sudah sedikit menyadarkan saya kalau semua yang disini sama – saudaramu juga, kawan.

20160706_083934
Begel yang disiapkan untuk sarapan pagi para Jamaah Shalat Eid
Makanan yang disiapkan untuk sarapan pagi para Jamaah Shalat eid
Makanan yang disiapkan untuk sarapan pagi para Jamaah Shalat eid
Beberapa Jamaah mengambil makanan
Beberapa Jamaah mengambil makanan

Selesai shalat dan bersalam-salaman, saya langsung lanjut mencari tempat disiapkannya sarapan pagi. Masjid ini menyiapkan makanan untuk jamaah sarapan pagi sambil bercengkerama selesai shalat Eid. Perut sudah terasa lapar sejak tadi, maklum sebelum berangkat hanya minum air putih saja. Jangan tanya soal lontong atau ketupat ya; makanan itu tidak ada didapur saya.

* * *

Satu begel, keju, telur dadar, dan campuran kentang sudah ada di atas piring kertas saya; saatnya menikmati sarapan pagi. Satu meja dibawah satu pohon kecil menjadi tempat saya menikmati sarapan, seraya menunggu Satrih dan Rahma keluar dari tempat shalat. Beberapa menit kemudian, mereka keluar dengan beberapa orang Indonesia dan asik berfoto ria. Setiap kali shalat Eid di Masjid ini memang selalu ada kesempatan bertemu dengan orang Indonesia. Kebanyakkan dari mereka sudah bekerja dan bukan mahasiswa Lehigh University. Kali ini kami bertemu dengan Pak Ali dan Ibrahim beserta keluarganya. Ada juga Connie, perempuan asal Amerika, seorang istri Professor di Departemen Filsafat di Lehigh University. Tahu tidak? Kekhawatiran awal tentang bagaimana pulang nanti ternyata langsung terselesaikan. Ibu Connie dengan sukarela menawarkan diri untuk mengantar kami pulang.

Selanjutnya, kami berdiskusi dengan pak Ibrahim yang berasal dari Bogor dan sudah tinggal di Amerika sekitar 30 tahunan. Istrinya orang Jordan. Bila istrinya pensiun beberapa tahun ke depan, mereka berencana pulang ke Bogor dan menjalani hidup disana, meskipun istrinya masih belum terlalu fasih bahasa Indonesia. Diskusi kami juga panjang lebar dengan ibu Connie, seorang guru di salah satu Sekolah di Easton. Studi S2-nya diselesaikan di Wisconsin Madison dan S3-nya didapat dari University of New Mexico. Bidang studinya TESOL – pengajaran bahasa Inggris, sama seperti S2 saya dahulu. Dia berencana untuk melanjutkan karirnya sebagai Kepala Sekolah, mengingat usia yang tidak muda lagi. Banyak cerita didapat dari Ibu Connie. Satu anak perempuannya sedang berkeliling dunia selama 6 bulan dengan suaminya. Mereka berdua dulu studi di jurusan yang sama dengan saya di Lehigh University. Anak perempuan bungsu beliau sedang bekerja di New Mexico. Obrolan kami pun semakin bertambah panjang ketika Ibu Connie ternyata salah mengambil jalur mengantar kami pulang.

IMG_3303
Ibu Connie, Satrih, Rahma, dan Saya didepan Masjid seusai Shalat Eid hari ini

Lebaran kali ini memang tanpa keluarga. Lontong dan ketupat pun tidak ada. Makan siang hari ini pun hanya dengan mie rebus. Ibu tidak bisa dihubungi malam tadi. Siang ini baru beliau menelpon saya dan syukur sinyal sedang kuat, akhirnya bisa berlebaran. Namun, Tuhan punya cara lain untuk menghibur hati para musafir yang tengah menuntut ilmu di negeri orang. Mungkin tidak bertemu dengan saudara sekandung atau pun keluarga lainnya. Tetapi, ada banyak saudara seiman dari berbagai negara yang siap untuk menggantikan posisi mereka sementara, beserta berbagai cerita unik dibaliknya. Pak Ali, Ibrahim, Ibu Connie, Satrih dan Rahma mungkin yang dikirim untuk sementara menggantikan posisi keluarga saya dalam menikmati hari raya lebaran ini.

Happy Eid Mubarak everyone!

Semoga semua amal ibadah kita diterima Allah S.W.T. dan kita semakin lebih baik menjalani lembaran-lembaran baru masa depan.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi 

 

Posted in Inspirasi

Skor TOEFL yang Tinggi Bukanlah Jaminan

10726720_626819364102328_1050810484_nAda yang bertanya,”Kak, apakah semakin tinggi skor TOEFL kita akan semakin besar pula peluang kita mendapatkan beasiswa tersebut? Misal, untuk daftar beasiswa Fulbright minimal skornya 550, berarti kalau skor kita 600 bisa lebih dipilih daripada pelamar lain yang skornya 550?”
 
Jawabannya ”Belum tentu.”
 
Masih sedikit yang memahami bahwa skor TOEFL bukan segala-galanya bagi sponsor beasiswa. Tujuan diletakkannya skor TOEFL minimal adalah setidaknya semua pelamar telah memenuhi standar kemampuan bahasa Inggris yang dibutuhkan untuk studi di luar negeri. Jadi, siapapun diantara pelamar yang terpilih, sponsor beasiswa boleh agak lega dari segi bahasa semua pelamar sudah memadai kemampuannya.
 
Skor TOEFL ini ibaratnya sebuah tiket, tiket untuk masuk mengikuti proses seleksi beasiswa ditahap selanjutnya. Bila skor TOEFL kita dibawah standar minimal yang diminta oleh pihak beasiswa yang akan kita lamar, misal diminta skornya minimal 550, lalu skor TOEFL kita hanya 530, biasanya sudah langsung gugur ditahap administrasi.
 
Sebaliknya, jika skor TOEFL kita pas 550, biasanya ini bisa membuat kita untuk ‘dipertimbangkan’ lulus ke tahap selanjutnya. Ingat, saya menulis disini untuk dipertimbangkan karena belum tentu juga sudah punya skor TOEFL minimal lantas kita merasa dijamin bakal lulus ke tahap selanjutnya. Hal yang sama juga berlaku untuk IELTS atau IBT ketika kita menggunakannya untuk melamar ke universitas di luar negeri.
 
“Wah, kalau begitu tidak ada gunanya donk belajar TOEFL?”
 
Tidak belajar TOEFL berarti tidak akan pernah bisa memenuhi skor TOEFL minimal yang ditetapkan pihak beasiswa, dengan kata lain tidak bisa mendapatan tiket untuk ikut proses seleksi beasiswa.
 
“Lalu, apa yang harus dilakukan?”
 
Tetap belajar TOEFL dengan serius dan Tekun, sembari menguatkan profil diri kita dari sisi pengalamana kerja, pengalaman organisasi, publikasi, serta terus mematangkan topik rencana penelitian masa depan yang ingin dilakukan saat studi nanti. Penjelasan lebih lengkapnya silahkan baca e-book gratis “Untukmu Scholarship Hunters” yang ada di blog sdsafadg.com.
 
Ingat, saat melamar beasiswa, jumlah pelamar yang menjadi saingan kita bisa ribuan. Saat mengikuti seleksi beasiswa S2 saya dulu ada sekitar 9 ribuan pelamar dari seluruh Indonesia dan yang diambil hanya 50 orang. Di seleksi beasiswa S3 lalu saya tidak tahu ada berapa jumlah pelamarnya, tetapi yang diambil hanya 5 orang dari seluruh Indonesia.
 
Sangat kompetitif, bukan?
 
Tips dari saya, nikmati setiap proses dalam mempersiapkan diri untuk melamar beasiswa ke luar negeri. Lakukan sebaik mungkin. Setiap orang yang ingin melamar beasiswa pasti memiliki tantangan dan kesulitan seperti yang sedang kita hadapi; artinya, bukan hanya kita yang sedang berjuang keras.
 
Memenangkan beasiswa studi ke luar negeri terkadang bukanlah tentang seberapa pintar kita, tetapi tentang seberapa baik persiapan yang telah kita buat. Semakin baik persiapan, semakin kita memahami situasi yang akhirnya membuat setiap hal yang kita lakukan terlihat lebih cerdas dari pelamar yang lain.
 
Yuk, semangat! “It always seems impossible until its done – Nelson Mandela”.
 
Let’s break the limits..!!