Menjadi Mahasiswa PhD di Amerika

Foto bersama pembimbing akademik saya dan mahasiswa bimbingannya
Foto bersama pembimbing akademik saya dan mahasiswa bimbingannya

Mungkin sebagian orang masih banyak yang bertanya-tanya bagaimana sih rasanya menjadi seorang mahasiswa PhD? Bagaimana bedanya dengan perkuliahan mahasiswa S1 atau S2? Kebanyakan kabar angin yang beredar biasanya mengidentikkan studi PhD dengan publikasi dan penelitian, dimana terkesan berat sekali, mikir terus, sehingga hanya sebagian orang saja yang sanggup menempuh jalur ini. Bahkan, lebih menakutkannya lagi, menempuh studi PhD bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun, tak jelas sampai kapan selesainya, apalagi ketika studi PhD di tempuh di negara asing. Benarkah demikian?

Sebagai tambahan informasi, saya ingin cerita apa yang sudah saya alami dan rasakan selama satu semester menempuh studi PhD di Amerika. Saya tahu, untuk beasiswa melanjutkan studi ke jenjang S2 ada begitu banyak peminatnya, tapi untuk jenjang S3, mungkin bisa dihitung dengan jari. Kabarnya, kuota beasiswa pemerintah yang diberikan untuk melanjutkan studi S3 jarang bisa terpenuhi setiap tahunnya. Semoga, tulisan saya ini bisa sedikit memberikan pencerahan bagi yang sedang bingung ingin melanjutkan studi S3 atau yang masih menyusun rencana studinya di masa depan.

Saya mulai cerita ini dengan sejarah bagaimana saya bisa berakhir pada jenjang PhD. Pada bulan Juli tahun 2011 yang lalu, dengan menggunakan pesawat Qatar Airlines yang didanai oleh beasiswa IFP dari Ford Foundation, Amerika, penerbangan internasional pertama saya dimulai. Tujuan penerbangan adalah kota tempat dua klub raksasa sepakbola di liga Inggris berada, yaitu Manchester. Sebuah Unconditional Letter (surat tanda diterima sepenuhnya) dari University of Manchester sudah dikantongi dan beasiswa IFP siap mendanai sampai selesai. Sesampai di Manchester, saya mengikuti pre-sessional English course sebelum studi S2 dimulai.

Perubahan keinginan saya untuk melanjutkan ke jenjang S3 terjadi ketika mengikuti pre-sessional English course ini. Di akhir perkuliahan, saya mendapatkan nilai tertinggi 15/15 untuk tugas akhir menulis paper dan presentasi, hanya beberapa orang saja yang bisa mendapatkan nilai tersebut. Kepercayaan diri saya kemudian meningkat drastis, tidak hanya menargetkan akan lulus dengan predikat Distinction, tapi juga langsung membulatkan tekad, saya harus lanjut ke PhD! Sejak saat itu, disela-sela studi S2, saya suka bertanya-tanya dengan mahasiswa S3 yang sedang studi di University of Manchester.

Setiap hari kamis ada pertemuan mahasiswa Indonesia dengan Mas Yanuar Nugroho, orang Indonesia yang menjadi Professor di University of Manchester; ada juga Mbak Ersa mahasiswa PhD yang suka membantu mengomentari dengan pedas tugas-tugas kuliah kami. Pertemuan ini disebut dengan nama “Kemisan’ yang sampai sekarang masih ada. Selain suka bertanya, saya juga mengobservasi dan membaca cerita-cerita para mahasiswa PhD di luar negeri. Yang paling sering saya lihat adalah kelebihan apa yang mereka miliki dari saya. Kemudian, saya mulai mempelajari hal-hal yang menjadi kelebihan mereka sehingga bisa mendapatkan beasiswa S3.

Walaupun studi Master di Inggris penuh tekanan karena durasi waktu belajarnya yang hanya satu tahun, saya selalu mencuri-curi kesempatan menulis sebuah proposal penelitian untuk melamar beasiswa S3. Terkadang, di waktu ‘kemisan’ datang, saya coba mendiskusikan topik penelitian pada mahasiswa dan mas Yanuar. Kemisan punya sebuah blog yang menyediakan link-link bermanfaat untuk mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Inggris, mulai dari tentang perbaikan belajar bahasa Inggris, cara menulis esai, sampai contoh proposal penelitian dan disertasi mahasiswa Indonesia yang sudah menyelesaikan studi S3 di University of Manchester. Bila tertarik, ini link blog kemisan: http://kemisan.wordpress.com/.

Dari blog ini, saya coba obrak-abrik contoh proposal penelitian para mahasiswa PhD yang diterima di University of Manchester. Saya analisa apa yang membuat topik penelitian ini menarik, bagaimana cara penulis menyajikan permasalahan, dan lain-lain. Tentu saja, keraguan selalu ada tentang apakah topik yang saya tulis ini menarik atau tidak. Yang jelas, saya harus percaya diri dahulu. Perkara, proposal penelitian kurang menarik dan lain-lain nanti dipikirkan. Proposal penelitian ini setiap waktu saya perbaiki. Ada saja inspirasi yang datang setelah diskusi ataupun membaca artikel-artikel penelitian. Target saya, setelah tamat S2, proposal penelitian ini selesai dan bisa digunakan untuk melamar beasiswa S3 Fulbright langsung. Singkat cerita, meskipun tertatih dan harus kerja siang-malam, saya mendapatkan beasiswa S3 seperti yang direncanakan.

Sebenarnya, perasaan saya ketika mendapatkan beasiswa S3 sama seperti kebanyakan yang ada dipikiran orang-orang, misalnya S3 harus melakukan penelitian yang ‘hebat’, bakal studi bertahun-tahun, harus ada publikasi yang banyak, kemudian terbayang sudah kesulitan-kesulitan keseharian menjalani hidup di negeri orang dalam ‘penjara’ tuntutan studi dari Professor pembimbing dan jurusan. Yang membuat saya kurang percaya diri salah satunya adalah tampang seperti anak kecil yang saya miliki ini. Terkadang, tidak enak juga kalau terlihat seperti anak yang masih muda, susah mendapatkan perhatian kalau memberikan pendapat. Hal ini terbukti saat pertama kali sampai di Amerika, walaupun sudah saya jelaskan kalau saya mahasiswa S3, masih saja ada yang menganggap saya sebagai mahasiswa Undegraduate.

Kebiasaan saya sebelum menjalani sesuatu adalah membaca situasi dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan nanti dengan baik. Berkaca dari pengalaman studi Master di Inggris yang penuh tekanan, jenjang S3 pastilah melebihi itu. Hari demi hari saya jalani sebagai mahasiswa PhD di jurusan Comparative and International Education di Lehigh University. Pembimbing akademik saya bernama Alexander Wiseman, seperti namanya, bapak Professor ini sangat bijak sekali dan gaul. Selama studi, baru dengan pembimbing satu ini saya bisa ‘tossan’ seperti teman dekat. Saya bersyukur, cara dia membimbing dan menghormati keadaan dan opini pribadi saya tentang apapun memberikan sebuah encouragement diawal perkuliahan.

Hal-hal yang lalu saya harus jalani dan rasakan sebagai mahasiswa PhD, pertama, sembari menjalani perkuliahan, saya harus juga menggodok topik penelitian yang mau ditulis untuk jurnal. Selain itu, topik penelitian ini juga harus bisa ditulis dalam bentuk proposal dan diajukan pada beberapa penyedia dana penelitian. Seorang mahasiswa PhD biasanya memiliki pertemuan rutin mingguan dengan pembimbing akademik dimana tempat mendiskusikan mulai dari rencana publikasi, menulis proposal, sampai masalah-masalah saat kuliah berjalan. Ketika bertemu dengan pembimbing akademik, saya sudah harus siap dengan hal-hal yang mau dibicarakan. Pembimbing akademik mengharapkan banyak hal dari mahasiswa PhD bimbingannya, karena melalui mereka para pembimbing ini bisa nampang nama di artikel-artikel jurnal penelitian, mendapatkan kredit atas artikel yang terpublikasi, dan lain-lain, selain dari usaha yang mereka lakukan sendiri.

Kedua, membaca artikel-artikel penelitian adalah makanan sehari-hari yang tidak boleh ditinggalkan. Jumlah bacaan dan apa yang dibaca sangat menentukan kesuksesan studi di kelas dan dalam menulis proposal penelitian. Mahasiswa PhD harus paham teori-teori dasar dan metodologi penelitian, karena dua hal ini yang selalu digunakan dalam melakukan penelitian. Dengan jumlah waktu yang terbatas serta setiap mata kuliah memberikan tugas membaca yang tidak sedikit, manajemen waktu sangat penting. Beberapa kali saya harus melewatkan artikel yang dirasa tidak penting atau karena waktu yang tidak mencukupi. Jika ini terjadi, saya berusaha bersiap diri sebelum masuk kelas, mulai berhati-hati dalam berkomentar dan lain-lain. Tidak membaca artikel yang ditugaskan bisa berarti ketertinggalan beberapa langkah dari teman kelas yang lain.

Jurusan yang saya ambil bagian dari ilmu sosial, artinya banyak menulis dan berargumen, berbeda dengan jurusan ilmu eksak seperti tekhnik. Maka, bacaan adalah bahan bakarnya. Prinsip belajar saya sederhana, tanya dan ungkapkan apapun yang tidak dipahami dan dipahami walaupun nantinya dianggap bodoh. Di awal kuliah, saya sudah siap dianggap ‘bodoh’, tapi itu untuk beberapa pertemuan awal saja. Biasanya, setelah dua atau tiga pertemuan, saya bisa melihat keseluruhan gambaran mata kuliah yang diajarkan dan bisa menyesuaikan diri. Itulah mengapa saya suka sekali dengan kalimat Steve Jobs yang mengatakan “Stay Foolish, Stay Hungry.

Ketiga, sistem perkuliahan PhD di Amerika berbeda dengan beberapa negara lain. Di negara lain, seperti Belanda dan mungkin juga Inggris, mahasiswa PhD tidak harus mengambil mata kuliah seperti mahasiswa S1 dan S2, langsung terjun fokus pada topik penelitian. Di Amerika, mahasiswa PhD harus mengambil mata kuliah selama kurang lebih beberapa semester, dalam kasus saya harus mengambil mata kuliah selama 5 semester atu 2,5 tahun. Padahal, beasiswa Fulbright dan kebanyakan beasiswa lainnya hanya mencover selama 3 tahun, memang setelah selesai mengambil mata kuliah, mahasiswa PhD bisa bebas mau mengerjakan tugas Disertasi di Amerika atau kembali ke negara asalnya, mengerjakan dari rumah. Itulah sebabnya kenapa mahasiswa PhD di Amerika biasanya selesai paling cepat selama 4 tahun.

Ketiga hal tersebut rasanya yang paling jelas saya rasakan selama menjadi mahasiswa PhD di Amerika. Sejauh ini, menjadi mahasiswa PhD tidak terlalu menakutkan. Cukup jalani saja, persiapkan diri dengan baik, dan belajar membaca situasi, terutama berkaitan dengan rencana-rencana studi setiap semesternya. Bagi teman-teman yang masih ragu atau bingung mau lanjut studi S3 atau tidak, sepertinya saya harus menyarankan lanjut saja. Semuanya bergantung dengan bagaimana rencana dibuat, kalau sudah terencana dengan baik, bulatkan tekad, fight for it!. Tidak terlalu berbeda antara studi S1, S2, dan S3 di Amerika, hanya bobot studi akademiknya yang lebih berat. That’s what it takes. karena jenjang studi sudah semakin tinggi.

Bagi yang tertarik melanjutkan ke jenjang S3, di blog ini saya berikan tautan yang berisi contoh proposal penelitian S3 saya yang lalu. Selamat mencoba!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi 

Advertisements

16 Comments

  1. Mas, saya ingin bisa mendaptkan beasiswa S2 Full diluar negeri… Tapi saya masih belum bisa memantapkan kecakapan berbahasa inggris saya,sekarang saya masih di semester 5 mau ke 6.. Terimakasih

    Liked by 1 person

    1. Saya dulu juga mulai dari nol kq bahasa inggrisnya. Baca aja di e-book yg sy bagikan gratis. Memang kalau mau belajar di negara berbahasa Inggris, harus bisa bahasa Inggris dan sebagian penerima beasiswa mulai dengan perjuangan memperbaiki bahasa Inggrisnya dulu.

      Liked by 1 person

  2. Terima kasih sudah berbagi.. Kasusnya mirip yang diatas saya.. Saya berniat untuk melajutkan S2 di LN tahun 2015 ini dg beasiswa, namun masih terkendala bahasa.. Selain e-book yang kakak bagikan gratis.. Bagaimana cara bs mengupgrade kemampuan bahasa inggris? 😀

    Like

  3. saya sudah bekerja 5 tahun di program pemberdayaan masyarakat dan sangat tertarik melanjutkan S2. belum pernah tes TOEFL. tapi ketertarikan saya di bidang tempat saya bekerja. kira2 langkah apa yg sy tempuh terlebih dulu ya mas? fyi adakah batasan umur utk S2, hehe. maklum lulusan tahun 2006.

    Like

  4. Ass wb wowwwww sangat menginsprasi sekali blognya mas waloyo, terimakasih udah sharing ilmu dan pengalamanya, semoga yang kuasa memberikan pahala kepada mas waloyo, OK, tx, s semoga bertambah sukses,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s