Semester Musim Semi

Pemandangan salah satu jalan di dalam kampus Lehigh di musim dingin
Pemandangan salah satu jalan di dalam kampus Lehigh di musim dingin

Setelah libur musim dingin selama kurang lebih satu bulan, semester musim semi pun dimulai. Kuliah di Amerika umumnya memiliki dua semester dalam satu tahun; semester musim gugur (fall semester) dan semester musim semi (spring semester). Buat mahasiswa yang ingin menambah atau bahasa kita biasanya semester pendek bisa diambil saat musim panas, dimana kuliah akan libur selama tiga bulan. Ini enaknya kuliah di Amerika, waktu liburannya banyak, bahkan di musim semi ini juga ada namanya spring break, libur sekitar seminggu, belum lagi ditambah liburan hari-hari besar lainnya, seperti easter break, dan sebagainya. Tetapi, jangan salah, walaupun banyak liburnya, waktu kuliah adalah waktunya belajar, tidak bisa main-main kalau tidak mau menderita di ujung semester. Makanya, mahasiswa-mahasiswa di Amerika sangat memanfaatkan waktu libur dengan baik, sebagian besar sudah membuat rencana jauh-jauh hari tentang apa yang mau dilakukan ketika liburan datang, karena kalau sudah kuliah, jangan harap bisa bergerak kemana-mana selain ke perpustakaan.

Pada dasarnya, cuaca di Amerika masih berada dalam musim dingin, salju masih bertebaran dimana-mana dan temperatur masih minus dibawah 0 derajat celcius. Musim semi baru akan datang sekitar akhir bulan Maret; saat itu rerumputan yang kini terlihat gundul dan keriting, bakal berbunga warna-warni; pepohonan sudah akan mulai berdaun kembali. Setidaknya, begitu pemandangan yang saya alami ketika di Inggris dahulu, pastinya tidak berbeda di Amerika. Di penghujung musim dingin ini salju tidak lagi terlihat menarik. Perasaan senang dan gembira pertama kali salju turun kadang berubah perlahan menjadi kekesalan bila terlalu banyak, terutama bagi yang memiliki kendaraan. Selain itu, mahasiswa tidak bisa lagi tinggal berdiam diri didalam kamar menikmati kehangatan heater; harus keluar menghadiri kelas, diskusi, ikut seminar, dan lain-lain dimana harus menembus dinginnya suhu. Di kota saya, Bethlehem, beruntung tahun ini musim tidak seburuk tahun lalu. Salju turun beberapa kali dan temperatur sudah beberapa kali minus 10 derajat celcius; hari rabu ini pun akan kembali turun salju dan suhupun akan tempus minus 14 derajat.

Dengan memakai penutup telinga, sarung tangan, dan jaket saya mulai berangkat ke kampus yang hanya berjarak sekitar sepuluh menit dari rumah. Tetapi, kelas saya ada di Mountain Top campus, harus naik bus untuk sampai kesana. Lehigh University punya bus gratis yang disiapkan untuk mahasiswa yang akan kuliah di Mountain Top. Kampus ini termasuk salah satu kampus terluas di Amerika; ada tiga tempat, yaitu lower campus, mountain top, dan goodman campus. Masing-masing kampus punya fungsi yang berbeda-beda, misalnya lower campus merupakan pusat kantor-kantor dan perpustakaan, mountain top tempatnya jurusan engineering dan education belajar, sedangkan goodman campus adalah pusat olahraga, berbagai lapangan mulai dari football, hockey, dan yang lainnya terhampar luas di goodman campus. Tidak sulit bagi mahasiswa untuk berpergian dari satu kampus ke kampus lainnya karena ada bus service. Untuk melihat jadwal bus, mahasiswa tinggal download aplikasi yang tersedia di app store. Jadi, bisa dengan mudah mengatur waktu kapan harus bernagkat ke halte bus.

Bus Serivice yang membawa mahasiswa ke Mountain Top Campus
Bus Service yang membawa mahasiswa ke Mountain Top Campus

Di semester musim semi ini, ada satu mata kuliah yang sangat saya tunggu-tunggu. Mata kuliah ini tentang “experiencing the United Nations”, artinya mahasiswa akan banyak mengunjungi kantor Persekutuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ada New York, termasuk dengan eksplorasi Non-Government Organizations (NGOs) yang bekerja dibawah PBB. Mengunjungi PBB bukanlah hal yang baru bagi saya atau pun mahasiswa Lehigh lainnya. Kurang lebih satu dekade sudah partnership antara Lehigh dan United Nations berlangsung, dan Lehigh University sudah menjadi anggota ke-enam didalam PBB yang tercatat sebagai sebuah NGO tapi berupa universitas. Bila semester perkualiahan sudah mulai begini, akan mulai banyak kesempataan menghadiri acara-acara di PBB dan harga tiket kadang dipotong setengah sampai gratis. Inilah mata kuliah pembuka semester musim semi hari ini, I feel so excited about it! Katanya, pendaftaran sudah ditutup jauh sebelum waktunya disebabkan banyak mahasiswa yang berminat.

Salah satu nilai tambah dan keuntungan dari kuliah di luar negeri adalah ada banyak kesempatan untuk mahasiswa terlibat dalam aktifitas-aktifitas berskala internasional. Organisasi internasional atau pun sosok tokoh yang dulunya hanya bisa dilihat lewat TV dan dibaca dari buku sudah berada dalam jangkauan kaki. Saya ingat waktu masih duduk di bangku SMP selalu ditanya siapa sekretaris umum PBB? Oleh sebab itu, nama Kofi Annan tidak perlu hilang dari ingatan saya, meskipun tidak terlalu mengerti apa itu PBB. Sekarang, kesempatan berkunjung ke kantornya Kofi Annan terbuka dengan lebar dan mudah. Saya ingat waktu di Inggris pernah menonton pidato populer Malala di YouTube, gadis yang coba dibunuh oleh tentara Taliban dan akhirnya memenangkan Nobel Perdamaian tahun lalu. Semester lalu, bisa menghadiri langsung diskusi bersama Malala dan Ban ki moon, Sekretaris Umum PBB. Seperti tumbuhan, jika berada di lahan yang subur dan penuh nutrisi, pasti bisa tumbuh besar dan berkembang biak dengan baik, mungkin begitulah gambaran studi di kampus luar negeri yang memiliki koneksi internasional dan fasilitas belajar yang bagus untuk mahasiswanya.

Ini hari pertama masuk kelas, tapi ternyata hari pertama juga saya terlambat. Pagi hari tadi sibuk baca-baca materi yang akan dibahas untuk kelas hari ini, membuat saya lupa untuk masak, padahal harus makan. Sarapan pagi sudah di skip, tidak mungkin berlanjut dengan makan siang pula. Kalau tadi keuntungan belajar di luar negeri, yang satu ini mungkin hal yang cukup menyebalkan. Kita harus memikirkan mau makan apa; mau makan diluar keseringan mahal, mau murah masak sendiri tapi makan waktu, belum lagi hasil masakan yang didapat jauh dari kata lezat. Soal makanan, tinggal di Indonesia rasanya adalah pilihan yang terbaik. Nasi padang harga sepuluh ribuan lebih dari cukup untuk mengisi perut. Beruntunglah mahasiswa yang hobi masak; andai saya bisa tinggal bersama mereka..he.

Semester musim semi sudah dimulai, ibarat genderang perang sudah ditabuh. Tidak ada lagi waktu untuk berleha-leha dan main-main. Belajar di luar negeri perlu berhati-hati, jangan sekali-sekali meremehkan. Teman saya yang baru pertama kali belajar di Amerika sudah kena batunya; dia merasa nialinya baik-baik saja, semua mata kuliah dilalui dengan baik, ternyata hasil IPK yang didapat jauh dibawah standar yang diharapkan. Sebenarnya, ketika studi S2 di Inggris, saya juga mendapatkan pengalaman yang sama. Di semester satu percaya diri sekali, semua mata kuliah dilewati dengan mudah sambil tersenyum bangga, eh, ternyata nilai yang keluar jauh dari harapan. Saya jadi menyimpulkan,” If you feel safe, you may get the opposite”. Jadi, lebih baik merasa unsafe dan tidak nyaman selalu, jadi bisa lebih berhati-hati dan terus memperbaiki sebanyak mungkin. Itu yang saya lakukan di semester lalu, dan hasil yang didapatkan lebih dari yang diharapkan.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi 

Advertisements

8 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s