Ketika Anak Desa Bertemu TOEFL..

International Week di Lehigh University
International Week di Lehigh University

TOEFL bisa dikatakan tiket awal untuk seseorang bisa melamar beasiswa studi S2 atau S3 ke luar negeri. Ada beasiswa yang menetapkan standar skor TOEFL minimal di awal seleksi untuk para pelamar yang tertarik; ada juga jenis beasiswa yang tidak menetapkan standar skor diawal, tapi diujung proses si pelamar harus tes TOEFL. Suka atau pun tidak, TOEFL tidak bisa dilepaskan dari studi di luar negeri. Bahkan, walaupun TOEFL sebenarnya untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris seseorang, tidak sedikit negara-negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, seperti Jepang, menggunakan skor TOEFL sebagai referensi, selain menggunakan tes bahasa asli mereka sendiri.  Di Indonesia pun bila ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, TOEFL masih digunakan sebagai salah satu tes masuk. Singkatnya, kalau punya mimpi studi S2 atau S3 ke luar atau dalam negeri, dengan atau pun tanpa beasiswa, there is no way to run from TOEFL.

Disisi lain, TOEFL bukanlah barang umum yang sudah dikenal banyak orang. Banyak beasiswa luar negeri yang ditawarkan ke pelajar-pelajar Indonesia, namun biasanya penerima beasiswa akan didominasi dari orang-orang yang berasal dari kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan lain-lain. Bagi para pelajar yang berasal dari kota-kota kecil, mungkin kenal TOEFL, tapi hanya dengan pengetahuan yang terbatas; biasanya, nanti dululah belajar TOEFL, bahasa Inggris di sekolah saja belum lurus. Sponsor beasiswa luar negeri sebenarnya sangat tertarik dengan pelamar-pelamar yang berasal dari daerah-daerah terpencil. Kenapa? Karena jika mereka bisa menyekolahkan anak-anak dari daerah terpencil, anak-anak ini akan kembali ke daerahnya dan mampu membantu menyelesaikan permasalahan lokal di daerahnya. Bayangkan, bila setiap daerah terpencil di Indonesia ada anak-anak seperti ini, pemerintah akan terbantu dalam usaha pemerataan pembangunan dan penyelesaain isu-isu lokal lain. Namun, lagi, masalahnya skor TOEFL yang rendah tidak bisa dilupakan begitu saja karena nanti di kampus luar negeri bahasa Inggris adalah media komunikasi dalam pembelajaran, bagaimana bisa belajar dengan baik kalau penjelasan dosen di kelas tidak paham? atau semua buku dan artikel dalam bentuk bahasa Inggris, apa mau diterjemahkan per-kata setiap hari?

Dulu, saya juga berada dalam situasi yang sama, berangkat dari membenci bahasa Inggris, akhirnya masuk kuliah di jurusan bahasa Inggris, bukanlah hal yang mudah. Saya harus berjuang dulu mengejar ketertinggalan dari teman-teman yang sudah fasih berbicara bahasa Inggris. Ketika ingin sekali melanjutkan studi ke luar negeri, TOEFL juga menjadi salah satu kesulitan terbesar yang harus saya takhlukkan. Salah seorang dosen saya ada yang bilang,” Budi, kalau TOEFL mu tidak sampai 500, sudah lupakan saja mimpimu mau ke luar negeri”. Haduh.. sakitnya tuh disini! Tetapi, itulah kenyataannya, TOEFL saya masih rendah waktu itu, mau bilang apa? Kata-kata Dosen ini selain menyakitkan, saya jadikan penyulut semangat, diujung proses kata-kata beliau menjadi hal yang selalu menarik untuk dibagikan.

Dari pengalaman sebagai ‘anak desa’ yang awalnya tidak mengenal TOEFL, kemudian harus berjuang mendapatkan skor yang tinggi agar bisa melamar beasiswa dan diterima di kampus luar negeri, saya sangat memahami beratnya perjuangan menakhlukkan TOEFL. Anak desa disini saya gunakan untuk merujuk pada mereka yang berasal dari kota kecil, dimana sumber dan fasilitas belajar sangat terbatas. Meskipun terkadang di perkuliahan S1 ada mata kuliah TOEFL atau ada kursus TOEFL, masih saja terasa TOEFL ini seperti makhluk aneh yang sulit sekali untuk dipahami. Perasaan sudah belajar siang malam, tanya sana sini, baca tips meraih skor TOEFL 550 dalam waktu sebulan, tapi masih juga skornya tidak bergerak, naik sepuluh angka saja sudah untung. Apalagi, kebanyakan kita yang berasal dari kota kecil cuma tahu TOEFL Prediction atau paling tinggi TOEFL ITP karena sering disebut-sebut dan di tes dikampus. Soal TOEFL IBT dan IELTS, kening langsung mengkerut mendengar namanya, padahal dua tes ini yang digunakan untuk melamar kampus di luar negeri. Kondisi ini tidaklah mengherankan karena terbatasnya tempat bertanya dan kedua tes internasional tersebut juga hanya tersedia di kota-kota besar. Bagi anak-anak ‘desa’ perlu usaha lebih untuk menemukan informasi tentang ini dan memahaminya.

Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta - bersama penerima beasiswa IFP
Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta – bersama penerima beasiswa IFP

Tulisan ini tidak akan membahas tentang tips-tips jitu meraih skor TOEFL tinggi, dan lain sebagainya. Buku-buku tentang itu ada banyak dipasar. Mau yang gratis, tinggal cari di google. Yang ingin dibahas adalah apa yang harus dilakukan ketika seorang anak desa bertemu TOEFL dan harus meraih skor TOEFL tinggi agar bisa mewujudkan mimpinya ke luar negeri. Kita anak desa boleh merasa bingung saat mulai belajar TOEFL, bahasa Inggris di sekolah saja masih belepotan! Tapi, kita harus ingat bahwa orang-orang tidak peduli dengan bagaimana kondisi dan latar belakang kita. Yang mereka ingin tahu adalah apakah kita bisa bersaing dengan para pelamar beasiswa lainnya atau tidak, bisa meraih skor TOEFL tinggi kemudian diterima di universitas luar negeri atau tidak. Orang tidak melihat bagaimana kamu memulai sesuatu; mereka hanya peduli dengan bagaimana kamu mengakhiri sesuatu. Mau jungkir balik usahamu, tapi diujung kamu gagal, tidak ada yang akan melihatmu. Sebaliknya, jika kamu berhasil mengakhiri sesuatu dengan kesuksesan, mereka sendiri yang akan berebut ingin mendengar cerita bagaimana kamu memulai.

Ketika anak ‘desa’ bertemu TOEFL hendaknya dia bersiap diri menggunakan strategi layaknya seperti sebuah peperangan. Pernah menonton film tentang pertempuran kan? Satu hal yang selalu menjadi kunci dalam menyusun strategi peperangan adalah Peta. Belum pernah saya temukan ada tentara yang menyusun strategi dengan cara menelusuri medan pertempuran langsung tanpa melihat peta. Kenapa? Karena akan sangat melelahkan, dan yang paling penting mereka tidak bisa melihat keseluruhan daerah yang menjadi medan tempur. Peta membantu melihat gambaran besar dari sebuah daerah, kemudian menyusun strategi berdasarkan kondisi wilayah yang ada. Dalam belajar TOEFL, orang yang baru mengenal tes ini umumnya sangat tertarik dengan buku-buku tips meraih skor tinggi. Seumur-umur saya belum pernah beli buku seperti ini, karena kata-katanya terlalu manis, bisa kena diabetes nanti, alias mengambil tes berulang-ulang. Sebaiknya, belajar langsung dari buku-buku TOEFL terbitan luar negeri yang berisi materi dan kumpulan soal, tanpa ada embel-embel apa-apa, murni materi dan contoh soal. Dengan begitu, kita bisa lebih mengenal tes TOEFL yang sebenarnya dan bisa mulai menyusun peta.

TOEFL terdiri dari beberapa skil dan setiap skil mempunyai topik-topik. Mulailah dengan memetakan skil-skil apa yang di tes, dan di setiap skil, topik-topik apa saja yang masuk menjadi soalnya. Dengan cara ini, kita akan bisa melihat gambaran besar tentang tes yang akan dihadapi berikut dengan hal-hal yang harus dikuasai. Setelah semuanya dipetakan, mulailah pelajari satu persatu topik di setiap skil. Setiap kali mengerjakan latihan, tandai setiap soal yang benar itu ada didalam topik apa, kemudian untuk soal yang salah juga ditandai di topik apa. Untuk soal yang benar, tandai di peta kalau topik itu sudah dikuasai. Di soal yang salah, buka lagi topik itu dan pelajari, kalau perlu tanya dengan orang lain sampai bisa menguasainya. Soal TOEFL itu dibangun berdasarkan topik. Walaupun menurut kita soalnya berbeda, esensi dari soal itu merujuk pada topik terterntu. Misal, jika diibaratkan Matematika, minggu lalu soalny 2 + 3, minggu depan mungkin 8 + 7, beda soalnya, tapi topiknya sama, yaitu tentang penjumlahan. Jadi, kalau kita kuasai konsep dasar dari setiap topik, mau bagaimanapun soalnya kita paham dasar mencari jawabannya. Bahkan, kalau menebak, tebakkan kita berdasarkan pertimbangan; soal ini tentang topik ini, tidak mungkin ini jawabannya, dan lain-lain.

Untuk menguasai sebuah tes, kita perlu memahami tes itu secara keseluruhan terlebih dahulu, mengenal setiap seluk beluk materi yang diuji. Kemudian, kumpulkan jadi satu, inilah semua hal yang harus dihadapi. Setelah itu, bisa fokus. Banyak ornag yang sulit meraih skor TOEFL tinggi karena cara belajarnya mengikuti arus, tidak menentukan mana awal dan akhir dari belajar tentang ini. Hari demi hari belajar TOEFL, saat waktu tes tiba, melihat soal kepala langsung bingung. Semua yang dipelajari seperti tidak ada yang muncul. Padahal, sebenarnya ada, hanya dia tidak memegang karakter soal yang muncul dari sebuah topik materi. Jangan berharap soal yang muncul di tes akan sama dengan soal yang dikerjakan saat latihan, tapi topik dari soal itu akan tetap sama. Memang harus berusaha keras dan belajar dengan tekun, tapi juga harus cerdas belajarnya. Berusaha keras tidak menjamin usaha sesuai keinginan, namun berusaha dengan cerdas, setidaknya kita paham kemana energi harus dialokasikan.

Ujian itu akan selalu diatas kemampuan kita sekarang, karena memang tujuannya untuk meningkatkan kualitas diri. Ini berarti akan sulit, susah, dan seterusnya. Tapi, mundur lalu menyerah juga bukan pilihan yang gampang, ada banyak orang yang siap melontarkan kata-kata pedas di luar sana. Either way, selalu ada konsekuensi di setiap keputusan. Kenapa tidak memutuskan untuk terus berjuang? Tapi dengan cerdas, bukan asal seruduk.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi 

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s