Rindu Suara Adzan

Ketika menunaikan shalat Idul Adha tahun lalu..

Dahulu, saya punya seorang Nenek yang setiap waktu shalat tiba, suaranya nyaringnya akan mulai terdengar di telinga, menyuruh menunaikan shalat. Dari mulai sejak jam 4 pagi beliau bangun, masak air, kemudian ketika suara Adzan terdengar, dia beranjak membangunkan saya. Makanya, sedari SD saya terbiasa bangun di awal subuh, sampai pernah tersiram air panas yang dibawa nenek karena subuh-subuh sudah mengurusi burung pipit peliharaan dan berlari mengejar burung yang terbang dari sangkar. Jarak Masjid Jamik tidak jauh dari rumah, jadi suara Adzan keras terdengar, dan mulai beranjak SMP, saya terbiasa berjalan atau berlari menuju Masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Ada satu hal yang membuat semangat saya selalu berkobar untuk segera berlari ke Masjid sebelum atau disaat mendengar suara Adzan. Seorang Ustadz pernah berkata,” Ada tujuh golongan orang-orang yang akan mendapatkan naungan dari Allah disaat tidak ada seornang pun yang mampu memberikan  perlindungan..”. Salah satu diantaranya adalah pemuda yang hatinya selalu terpaut dengan Masjid. Niat hati tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan selagi muda dan mendengar cerita tentang bagaimana panasnya di Padang Mahsyar selalu membuat bulu kuduk merinding.

Hampir setahun sudah menjalani studi di Amerika, rasanya ada rindu yang tumbuh ingin mendengar suara Adzan mengalun merdu dari speaker Masjid. Disini, suara Adzan cuma bisa didengar seminggu sekali, yaitu di hari Jum’at dan nada Adzan yang berkumandang terasa asing ditelinga; biasa saja. Saya ingat waktu kecil suka sekali latihan Adzan dengan suara cengkukan dan nafas sepanjang mungkin; rasanya disana bisa terasa semangat si Muadzin ingin orang-orang datang menunaikan shalat berjamaah, melupakan kehidupan dunia sejenak. Suara Adzan yang saya dengar setiap hari Jum’at hanya seperti orang bicara. Sepertinya, salah satu keindahan kehidupan beragama Islam di Indonesia adalah kita punya cara pelaksanaan ibadah yang penuh dengan semangat dan suka cita; Adzan berkumandang dimana-mana, selesai shalat Dzuhur terasa sejuk sambil bercengkerama dengan teman, saat Magrib tiba, ruangan Masjid mulai ramai, dan di waktu subuh, tidak sendiri mengayun kaki menuju Masjid.

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi sebentar dengan beberapa teman yang berasal dari negara yang katanya negara Islam. Mereka cukup terkejut ketika mendengar saya masih melaksanakan shalat lima waktu. Waktu kuliah yang terkadang mengambil waktu shalat, kemudian tidak adanya orang yang mengingatkan bisa membuat ringan melupakan kewajiban shalat. Saya juga selalu berusaha untuk menjaga ibadah ditengah sibuknya perkuliahan dan waktu shalat yang berubah-rubah di setiap musim. Waktu tidur selalu mengikuti seberapa banyak tugas kuliah yang ada. Mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di negara orang bisa dianggap sebagai seseorang yang tengah dalam perjalanan karena hanya menetap sementara waktu. Menjamak shalat diizinkan, meskipun sebaiknya tidak membuat kita menggampangkan ibadah. Tapi, ya memang tidak mudah juga menjaga waktu shalat ketika hidup di negara non-muslim, keringanan bisa menjamak shalat sangat membantu sekali.

Saya sering sekali dalam kesendirian memikirkan tentang semua pengalaman yang sudah didapatkan dan apa sebenarnya yang ingin dikejar. Mau belajar sekeras mungkin, menguasai teori sebanyak mungkin, menerbitkan artikel penelitian di jurnal, diskusi, dan lain sebagainya, setelah itu mau apa? Toh, tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari kehidupan dunia ini dalam keadaan hidup; kematian pasti menghampiri. Kita bersikeras dalam berargumen, tidak mau kalah, sakit hati ketika kalah atau gagal, selanjutnya mau kemana kalau sukses? Saya belajar banyak tentang teori dalam pendidikan, berargumen dan berdebat di kelas, tak jarang seusai kelas hati saya sakit sekali rasanya karena merasa dipermalukan atau direndahkan oleh teman di kelas, tapi pikiran saya selalu teringat tentang kenapa harus begitu? Bukankah yang menciptakan teori di bidang pendidikan itu seorang manusia? Bila itu buatan manusia, pasti jauh dari sempurna. Terus dan terus, hampir setiap hari saya memikirkan tentang kehidupan yang pada dasarnya setiap kondisi didesain oleh manusia sendiri.

Sungguh, saya rindu suara Adzan. Suara ini yang mampu memanggil hati dan memaksa diri melupakan kehidupan dunia sejenak. Tidak ada yang abadi dari dunia ini, lalu kenapa harus sampai melupakan ilahi? Semakin kesini, saya sudah merasakan studi di negara asing, sudah mengunjungi berbagai tempat, sudah bertemu dengan orang-orang yang di Indonesia dianggap ‘hebat’, tapi justru ini yang membuat saya berpikir bahwa sebenarnya hidup seharusnya tidak perlu jauh dari sajadah. Banyak hal yang bisa diprediksi, tapi banyak juga prediksi manusia yang salah. Jadi, ketika kita sedang mengejar sesuatu, diri terasa berat sekali bersaing, rasanya akan kalah dan lain sebagainya, ingatlah kalau hanya dengan seiizin Allah sesuatu bisa terjadi. Tidak perlu sengsara dengan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Tetap sempurnakan ibadah, dan berdo’a pada-Nya. Kita tidak perlu kemenangan dihadapan manusia. Disaat Allah dinomor satukan, Dia akan membalas lebih, lebih dari yang bisa kita bayangkan.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi 

Advertisements

3 Comments

  1. Amin semoga bisa pulkam
    Btw, kakak kena culture shock ya… lebih enakan suasana masjid indo ternyata.. #hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s