Penghubung Mimpi

Office Lens_20150110_145759

Saat sedang asing membolak-balikkan halaman buku diatas mesin scanner, pikiran saya terusik ingin melihat siapa pengarang buku tentang ICT yang akan dipresentasikan minggu depan ini. Buku itu kemudian saya angkat dan betapa terkejutnya ketika tahu bahwa pengarangnya adalah Prof. Neil Anderson dari James Cook University, Australia. Foto beliau sedang berdiri dengan sebuah Laptop ditangan membuat saya tersenyum, teringat satu cerita tentang beliau saat saya sedang berjuang meraih beasiswa S3 dahulu. Ah.. ternyata memang semua hal yang terjadi dalam hidup ini sudah direncanakan dengan matang oleh Sang Khalik dan selalu ada hikmah yang bisa diambil sebagai bekal perbaikan di masa depan.

Setelah menyelesaikan studi S2 di University of Manchester di tahun 2012, saya langsung menyusun rencana untuk melamar beasiswa S3. Untuk bisa mendapatkan beasiswa S3, memiliki seorang Professor yang sudah menyatakan ketersetujuannya untuk menjadi pembimbing sangat penting, berbeda dengan S2 yang tidak terlalu diharuskan. Dengan bekal proposal penelitian yang dikerjakan sambil studi S2 lalu, saya mulai browsing di Internet, setiap website universitas di berbeagai negara dibuka dan dibaca. Targetnya mencari Professor yang memiliki ketertarikan dengan bidang penelitian saya dan langsung kirim e-mail. Dalam satu bulan, mungkin saya sudah mengirim e-mail ke lebih dari sepuluh Professor di berbagai universitas di Amerika, Inggris, Kanada, Jerman, dan Australia. Ada Professor yang membalas, dan ada yang tidak. Salah satu dari Professor yang membalas e-mail saya adalah Prof. Neil Anderson. Kami berdiskusi via e-mail dan akhirnya saya meminta sebuah surat persetujuan beliau untuk menjadi pembimbing saya di James Cook University.

Ada dua target beasiswa yang ingin saya lamar saat itu: beasiswa Fulbright dan Australia Awards. Aplikasi beasiswa Fulbright tidak terlalu rumit dan deadlinenya lebih awal dibulan April. Saya pun lebih berharap bisa mendapatkan beasiswa Australia Awards karena jarak Australia yang dekat dengan Indonesia, bisa pulang kapan saja. Makanya, respon dari Prof. Neil Anderson merupakan sebuah hal yang menggembirakan sekali. Saya bisa melampirkan surat dari beliau dalam aplikasi beasiswa Australia Awards. Sayangnya, beasiswa Fulbright mengumumkan hasilnya terlebih dahulu dan saya harus memutuskan apakah menerima beasiswa tersebut atau tidak. Dengan berat hati, saya kirim sebuah e-mail pada Prof. Neil Anderson dan memohon maaf kalau sepertinya saya tidak bisa melanjutkan studi di James Cook University seperti yang direncanakan karena sudah mendapatkan beasiswa Fulbright studi ke Amerika. Saya pikir beliau akan marah dan kecewa, tetapi ternyata beliaupun menjawab dengan bijak kalau dalam studi, funding itu nomor satu, jadi ambillah beasiswa itu.

Lama sudah tidak berkomunikasi dengan Prof. Neil Anderson dan saya sudah memulai studi di Amerika, malam ini buku beliau berada ditangan saya dan minggu depan saya sendiri yang akan mempresentasikan buku tersebut. Sebuah kebetulan kah ini? Tidak. Ada satu cerita lagi. Ketika sedang berjuang meraih beasiswa S3 waktu itu juga, saya mengajar TOEFL salah satu dosen di universitas negeri yang ingin melamar beasiswa S3. Beberapa bulan berikutnya saya berangkat ke Amerika. Tahu apa yang terjadi selanjutnya? Di liburan musim dingin awal tahun ini saya berangkat ke Boston menemani seorang teman yang ingin mengunjungi MIT dan Harvard University. Teman ini mempunyai teman yang tantenya tinggal di New Hampshire, sekitar 2 jam dari Boston. Kami memutuskan untuk numpang menginap dirumahnya. Setelah bertemu dan berbicara panjang lebar, ternyata suami si tante merupakan teman dekat si dosen yang saya ajar sebelum berangkat ke Amerika. Beliaupun tanpa ragu menelpon si dosen dan kami pun berbincang panjang lebar, sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebuah kebetulan kah? Kebetulan itu berarti kita mengangap Tuhan kecolongan, tidak merencanakan segala sesuatu tentang hidup kita dengan baik. Tidak mungkin terjadi.

Dari dua cerita ini, saya ingin menyampaikan bahwa memang setiap hal yang dilalui dalam hidup ini akan terhubung nanti di masa depan. Namun, apakah itu akan menjadi sebuah keuntungan bagi kita dalam meraih mimpi sangat bergantung dengan cara kita ‘menggunakannya’. Jangan dilihat ini sebagai sebuah fenomena lalu kita menunggu, mengikuti alur hidup begitu saja. Ada sebuah penelitian tentang “Six degrees of separation”. Di penelitian atau teori ini dikatakan bahwa sebenarnya jarak antara seseorang dengan sesuatu yang dinginkan hanya dipisahkan oleh enam derajat. Misalnya, ada orang yang ingin bertemu dengan idolanya, jarak dia dengan idolanya tersebut hanya dipisahkan oleh enam orang. Begitu juga kalau ada yang berkeinginan studi ke luar negeri dengan beasiswa, hanya terpisah enam derajat dari titik tempatnya berdiri sekarang. Berarti mudah donk? Nah, disinilah poin yang perlu dipahami. Enam derajat disini bisa berarti hanya kiasan sebagai perumpaan bahwa sebenarnya jarak antara kita dengan sesuatu yang diinkan itu dekat, namun jarak yang dekat itu bisa tidak tercapai bila kita tidak bisa menemukan enam derajat itu yang mana dalam hidup.

Mimpi yang kita miliki itu diibaratkan sebagai sebuah titik akhir dari sebuah perjuangan, sedangkan tempat dimana kita berada sekarang adalah titik lainnya. Seberapa jauh atau dekat jarak antara titik akhir dan titik tempat kita berada tidak ada yang tahu, selain diri kita sendiri. Bagaimana cara memangkas jarak agar kita bisa segera meraih titik akhir tersebut? Kita harus mulai berpikir tentang apa yang ada disekeliling dan siapa yang kira-kira bisa membuka jalan menuju hal yang diinginkan. Misal, dulu saya tidak bisa menulis, tapi ingin bisa menulis karya ilmiah agar punya prestasi dan bisa menjadi keunggulan dalam aplikasi beasiswa. Selama kuliah S1, saya selalu berusaha mencari siapa orang yang bisa mengantarkan saya pada tujuan ini. Kemudian, saya bertemu dengan salah satu kakak senior yang sudah langganan juara menulis tingkat kampus sampai nasional. Diam-diam saya gali informasi tentang beliau dan belajar dari semua karya beliau. Dari sana, saya mulai melihat hal-hal lain yang berkaitan dengan dunia kepenulisan, mulai dari cara membangun ide sampai trik-trik memenangkan sebuah lomba. Cerita selanjutnya, saya ke United Kingdom untuk S2, beliau ke Amerika; kemudian, saya ke Amerika, beliau ke United Kingdom. Saya tidak pernah memberitahu beliau dan mungkin beliau tidak pernah tahu kalau lewat tulisannya dahulu saya pertama kali belajar menulis.

Ada kalanya dimana kita merasa bahwa hidup ini sempit, tidak ada jalan yang bisa mengantarkan kita menuju apa yang diinginkan. Semangat kita besar menggelora, siang malam berusaha, tapi jalan terasa buntu dan sudah berusaha meyakinkan diri kalau pasti akan berhasil, namun disudut hati kecil selalu ada sedikit ketidakpercayaan; apakah benar mimpi ini akan bisa diraih? Perlu diketahui, berjuang itu tidak hanya secara fisik tetapi juga harus punya strategi, karena yang membedakan manusia dengan hewan dan tumbuhan adalah akalnya, hingga dianggap sebagai makhluk yang sempurna. Dengan akal pikirannya, manusia bisa menelusuri dalamnya lautan melebihi kemampuan ikan; bisa terbang melintasi langit lebih jauh dari yang dilakukan burung. Hal yang selalu saya lakukan ketika ingin meraih sesuatu adalah dengan mencari terlebih dahulu siapa yang bisa mengantarkan saya kesana, lalu mulai belajar dari sana, nanti akan berkembang dan mulai terlihat hal-hal lain yang berkaitan. Begitu juga dengan teman-teman yang membaca tulisan ini, harus pandai mengambil pelajaran dan mencari tahu bagaimana bisa mengambil keuntungan agar bisa membantu kalian dalam meraih keingin studi ke luar negeri. Rasanya, tidak ada yang kebetulan, tapi, tidak sedikit yang menyia-nyiakan kesempatan.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi 

Advertisements

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s