Ketika Salju Tak Lagi Menarik…

Tanah yang di musim panas dipenuhi rerumputan hijau kini tertutup salju...
Tanah yang di musim panas dipenuhi rerumputan hijau kini tertutup salju…

Masih jelas sekali teringat saat perjalanan pertama kali ke luar negeri menuju Manchester, salju merupakan salah satu hal yang ingin sekali dilihat. Tiba di musim panas, sampai tak sabar menunggu musim dingin yang datang di bulan Desember. Pernah suatu pagi, tiba-tiba terbangunkan oleh suara gemuruh diatap rumah, kemudian langsung berlari ke arah jendela, terlihat butiran-butiran es putih turun beruntun seperti air hujan. Waktu itu langsung tersenyum, akhirnya bisa juga melihat salju, ditunggu beberapa jam biar menumpuk dulu, sampai diabadikan lewat sebuah video. Wah.. senangnya bukan main. Setelah agak siang, keluar dari kamar berharap bisa berfoto ria. Ada seorang tukang bersih-bersih sampah di halaman tempat tinggal. Saya beranikan diri berbincang dengan beliau yang terlihat asik membersihkan halaman dari butiran-butiran es yang menumpuk. Dari beliau saya mengetahui kalau yang barusan turun bukan salju melainkan hail alias frozen rain. Waduh.. pantesan bunyi turunnya kayak timpukkan batu. Sejak saat itu, hail sering turun di Manchester. Lumayan rasanya kalau lagi jalan ketimpuk.

Di bulan berikutnya salju pun turun, menutupi kota Manchester. Beberapa bandara harus ditutup karena sudah berubah menjadi badai salju. Sayangnya, salju hanya turun satu atau dua kali waktu itu, jadi tidak terlalu terasa membosankan. Sekarang, tinggal di Lehigh, Amerika, daerah pegunungan, jangan ditanya sudah berapa kali turun salju disini. Rasanya hampir setiap minggu di HP selalu datang pesan “Winter Weather Advisory” yang mengingatkan tentang badai salju yang akan datang ditanggal ini, dari jam ini sampai jam ini. Awalnya, saya menganggap biasa saja peringatan seperti ini karena sudah terlalu sering dapat pesan ini, sampai beberapa minggu lalu dengan mata kepala sendiri melihat dari jendela kamar dahsyatnya badai salju. Anginnya kuat sekali berhembus dan salju deras turun, andai saya masih berada di perpustakaan, pasti tidak bisa pulang kerumah. Tubuh kecil begini bisa melayang dengan mudah kayaknya.

Salju menumpuk disetiap ruas jalan, dan cuaca dinginnya terasa masuk menusuk tulang, membuat malas mau kemana-mana, jenuh, bosan. Bahkan, satu ceret air minum saya letakkan di pinggir jendela, berfungsi seperti kulkas, air didalam ceret itu akan dingin, walaupun jendela hanya dibuka sedikit. Ada seorang teman dari Myanmar yang awalnya sangat menanti-nantikan salju dan namanya juga berarti salju, sekarang tidak terlihat menikmatinya lagi. Kita yang berasal dari daerah tropis biasa dibuai oleh keindahan dan keromantisan salju yang ditampilkan di film-film. Warna putihnya terlihat damai dan berkilau dibawah cahaya lampu, beberapa tersangkut di atap-atap dan tangkai-tangkai pepohonan yang daunnya sudah habis berguguran. Salju itu terlihat indah kalau belum terjamah, biasanya kalau turun di malam hari, esok paginya akan mulai terlihat kotor dan salju yang turun tidak terlihat rapi lagi karena yang berada di jalanan sudah dipinggirkan dan ditabur garam agar tidak licin.

Benar memang, sebuah nikmat itu baru akan terasa nikmatnya bila sudah jauh dari genggaman, dan saat itu tidak ada lagi yang bisa diperbuat selain berusaha mendapatkan kesempatan kedua. Sewaktu sedang belajar di UI, saya selalu mengeluh dengan panasnya Jakarta sampai ke ubun-ubun; sekarang, malah mengeluh dengan cuaca yang dingin sekali. Begitulah, terkadang salah satu manfaat menjalani studi dan hidup di negara orang adalah kita jadi bisa melihat sebuah kebaikan yang ada di negara sendiri. Tidak hanya dari segi cuaca, bisa juga tentang makanan, suasana belajar, pergaulan, ibadah, dan lain sebagainya. Khususnya tentang studi, saat terasa penat dengan tugas-tugas kuliah yang menggunung, tak jarang saya berharap berada di posisi sebagai mahasiswa di universitas di Indonesia; di akhir pekan, bisa jalan kemana-mana, setiap hari tidak perlu terlalu banyak membaca dan menulis, dosen pun kadang absen tanpa kabar, ah.. situasi yang hampir tidak mungkin terjadi disini.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi 

Advertisements

4 Comments

  1. Gak cm ingin sekedar jd pembaca tulisan mas budi saja. Tapi juga menulis dan berada dikesamaan keadaan yg membawa sj pd posisi sm dengan mas budi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s