Menyelesaikan Soal GRE Satu Jam Lebih Awal…

Liburan musim dingin di Harvard University..
Liburan musim dingin di Harvard University..

Banyak yang bertanya tentang GRE, mulai dari bagaimana tesnya sampai tips belajarnya. Sebenarnya, setiap kali mendengar nama GRE saya selalu ingin tertawa mengingat satu pengalaman pribadi. Saya tipe orang yang tidak terlalu ingin berpusing ria dengan hal-hal yang menurut saya kurang berguna bagi diri sendiri. Begitu juga dengan GRE, tes yang sangat tidak masuk akal dan tidak bermanfaat bagi mahasiswa yang akan mempelajari ilmu sosial sains di bidang pendidikan seperti saya. Mungkin, GRE masih memiliki kegunaan untuk mereka yang berlatar belakang ilmu eksak atau pun tekhnik. Tetapi jangan salah, saya juga jarang bertindak bodoh tanpa mempelajari terlebih dahulu seluk beluk sesuatu yang akan dihadapi.

Ceritanya, waktu itu saya sudah melewati fase wawancara beasiswa S3 Fulbright, kemudian Aminef menyediakan tes TOEFL IBT dan GRE yang semuanya dibiayai, termasuk akomodasi hotel dan transportasi. Disaat yang bersamaan, saya juga sedang sibuk mengajar di beberapa universitas di Bengkulu demi bertahan hidup sehari-hari. Jadi, di satu sisi harus mempersiapkan diri menghadapi TOEFL IBT dan GRE, disisi lain harus mengajar, padahal di jam ngajar, pergi jam tujuh pagi, pulang kerumah hampir tengah malam. Bahkan, research proposal S3 saya perbaiki disela-sela waktu setelah shalat subuh. Saya paham sekali kalau mau seberapa sempurna pun manusia, dia tidak akan bisa memiliki semuanya. Hidup itu selalu tentang pilihan dan fokus pada apa yang sudah dipilih.

Sebelum mengambil keputusan kemana fokus akan disalurkan apakah ke pekerjaan atau pada tes, saya pelajari dulu tentang dua tes ini. Latar belakang saya sebagai lulusan Inggris, tidak ada pengalaman sama sekali yag berhubungan dengan tes TOEFL IBT. Tetapi, ketika mendapatkan beasiswa S2 dulu, beberapa teman ada yang memilih untuk melanjutkan studi ke Amerika. Dari cerita mereka, saya jadi tahu kalau tes TOEFL IBT menghabiskan waktu sekitar 4 jam. Soal GRE, hanya ada satu orang yang bisa mendapatkan skor tinggi, itupun karena memang hobinya di hitung-hitungan. Kemudian, saya browsing universitas-universitas di Amerika, mencari tahu kenapa dua tes ini diminta oleh mereka sebagai persyaratan. Saya pun menemukan keberagaman dalam persyaratan, ternyata rata-rata universitas lebih menekankan pada skor TOEFL IBT untuk minimal skor, tapi tidak terlalu meletakkan skor minimal untuk GRE. Dengan kata lain, GRE dianggap sebagai persyaratan tambahan saja untuk melihat kemampuan akademik lain dari si pelamar. Ada juga yang beranggapan kalau nanti skor GRE si pelamar di rangking setelah semua lamaran masuk di Universitas.

Dari informasi ini, saya jadi memahami kalau untuk mahasiswa jurusan sosial sains, GRE bisa hanya sebuah persyaratan pelengkap, tapi penting untuk TOEFL IBT. GRE juga bisa sangat penting untuk mereka yang akan mempelajari bidang eksak atau tekhnik. Singkat cerita, dalam waktu sekitar 3 minggu sebelum tes, saya hanya belajar TOEFL IBT, sedangkan untuk GRE hanya sebatas tahu struktur tesnya saja. Waktu tes tiba, mulainya sekitar jam dua atau tiga dan berakhir pukul enam sore. Saya ingat sekali saat itu lebih memikirkan soal bagaimana shalat Ashar kalau keluarnya jam enam sore. Duduk didepan komputer, tes dimulai. Tahu apa yang saya lakukan? Setiap kali soal muncul, segera saya arahkan crusor ke salah satu pilihan A, B, C, D, dan E, kemudian baca Bismillah.. klik! Terus begitu, terutama di soal quantitative reasoning atau matematika – ini pelajaran yang paling tidak saya sukai. Masuk ke bagian Verbal, agak sedikit lambat karena background saya bidang bahasa, tapi tetap saja kosakata yang digunakan soal tidak ada dalam percakapan sehari-hari bahasa Inggris. Lanjut ke analytical writing, saya menimati sesi yang satu ini, dan tidak bisa main-main karena kalau nilai rendah di writing, bisa berdampak buruk kedepannya.

Pukul lima sore, saya selesai. Satu jam lebih awal. Hebat ngak? Tapi mau tahu hasilnya bagaimana? Kalau tidak salah skor saya itu nomor tiga dari paling bawah. Tidak ada perasaan khawatir karena prioritas saya waktu itu di skor TOEFL IBT dulu dan beberapa universitas yang saya tuju tidak secara eskplisit menerapkan skor GRE tertentu. Dan memang saya juga pilih-pilih, universitas yang secara jelas menerapkan skor minimal GRE, langsung dicoret dari rencana. Selanjutnya, Aminef memberikan kesempatan kedua untuk tes TOEFL IBT dan GRE, disini mulai sedikit belajar tentang GRE, namun tetap saja saat masuk soal quantitative, saya angkat tangan. Kelemahan saya di hitung-hitungan, bahkan kadang sulit membayangkan angka yang sedang dijelaskan orang. Meskipun demikian, akhirnya berangkat juga ke Amerika.

Perlu dipahami, mungkin dicerita saya GRE diabaikan, tapi itu juga bergantung dengan kondisi pelamar masing-masing. Kalau si pelamar tidak mendapatkan beasiswa dan ingin melamar universitas di Amerika, baiknya diusahakan semaksimal mungkin, walaupun sebenarnya soal GRE kadang tidak masuk akal jika dipikirkan tentang manfaatnya saat studi nanti. Saya juga tipe orangnya cuma modal semangat saja, jadi saat melamar beasiswa, harus pilih-pilih mana beasiswa yang menanggung semua biaya, dengan kata lain saya cuma bawa otak saja. Beasiswa IFP saat S2 dan sekarang Fulbright S3, bisa dikatakan saya hanya modal bawa otak saja, dan otak saya pun tidak terlalu pintar sebenarnya, hanya sebelum apa-apa persiapan yang dilakukan harus maksimal. Ada orang bijak mengatakan jika kita merasa tidak terlalu pintar dikelas atau dimana saja, maka berusahalah belajar dua atau tiga kali lebih banyak dari mereka yang pintar, karena disanalah cara mengejar ketertinggalan.

Di blog ini saya sudah letakkan link untuk download sebuah buku GRE terbaru dan memberikan cara belajar yang bagus jika hanya ingin mengejar skor yang tinggi. Silahkan klik link ini untuk download.

Ini juga ada informasi dari Aminef tentang tips belajar GRE.

BELAJAR TES GRE GRATIS DAN TIPS

Halo!

AMINEF kembali dengan tips dan informasi seputar beasiswa Fulbright. Kali ini, kami akan membahas Mengenai GRE.

Apakah GRE itu?

GRE (Graduate Record Examination) adalah tes standar yang diambil oleh mereka yang mendaftar ke program jenjang S2 atau S3 di Amerika Serikat dan di beberapa negara lain di dunia.

Tes ini terdiri dari 3 bagian yaitu Analytical Writing, Verbal, dan Quantitative Reasoning.

Berikut ini beberapa tautan yang bisa digunakan untuk belajar GRE gratis:

http://www.ets.org/gre/general/prepare
http://www.mygretutor.com/
http://www.testprepreview.com/gre_practice.htm
http://www.800score.com/loadergre.html
http://www.kaptest.com/…/gre-practice/free-gre-practice-test
http://www.4tests.com/gre
http://www.ets.org/gre/revised_general/prepare

Buku belajar GRE juga tersedia di toko buku di kota anda lho.

Beberapa kampus di Amerika memang ada yang tidak membutuhkan tes ini sebagai salah satu persyaratan pendaftarannya. Namun, mengingat Kandidat Fulbright program S2 dan S3 nantinya akan didaftarkan ke 4-5 universitas di Amerika, maka tes ini wajib diambil oleh Kandidat.

Seperti biasa, biaya pendaftaran tes dan akomodasi serta transportasi (bagi Kandidat Fulbright yang membutuhkan) akan ditanggung oleh AMINEF.

Nantikan ‪#‎FulbrightIndonesiaTips‬ berikutnya hari Rabu, 4 Maret jam 5 sore.

Selamat belajar!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi 

Advertisements

8 Comments

  1. i ve been thinking that we have lots in common. i m a person who think that “if something doesnt affect much for my goal, i would deny and neglect it”

    i m pretty sure ur bismillah hack more worth than ayah kursi as it delivers you to your intended place..haha

    good luch abang….

    Like

  2. Suka bgt dengan kata-kata ini Kak, “seberapa sempurna pun manusia, dia tidak akan bisa memiliki semuanya. Hidup itu selalu tentang pilihan dan fokus pada apa yang sudah dipilih.”

    Dan satu yang saya tangkap di tulisan Kakak, yang paling penting strategi, & selalu mendahulukan urusan Agama di atas segala urusan. Mungkin ini pertolongan Allah, karena Kakak ingin melaksanakan sholat Ashar, jadi dimudahkan segala urusannya. Inspiratif Kak… 🙂

    Liked by 1 person

  3. Terimakasih atas info dasar, pengalaman dan link nya terkait GRE, pak.

    Dulu sudah pernah baca sekilas terkait GRE tapi karna rata rata Univ yang meminta GRE untuk jurusan eksak dan bisnis maka saya abaikan. karna itu bukan jurusan saya, jadi saya anggap penting tapi gak penting banget bagi saya.

    Karna perjalanan mencari beasiswa sambil memantaskan diri penuh perjuangan, akhirnya ketika di Mesir sekarang ini melihat satu satu nya kampus yg memakai bahasa inggris dengan salah satu persyaratan nya adalah GRE, sempat kaget karna beberapa kampus di oxford untuk bagian sastra, komunikasi, ilmu sosial, creative writing dst tidak mensyaratkan GRE.

    Akhirnya saya tersadar bahwa American University in Cairo terkenal dalam bidang bisnis nya, pantes aja mewajibkan GRE meski faculty yg saya liat untuk jurusan Journalism & Mass Communication.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s