Tentang Sebuah Hostel

Suasana disekitaran Hostel di senja hari..
Suasana disekitaran Hostel di senja hari..

Pernah punya pengalaman tinggal di Hostel saat mengunjungi sebuah kota? Terkadang menikmati sesuatu yang berbeda jauh dengan situasi yang sering dinikmati kebanyakan orang dapat memberikan sedikit pembelajaran tentang hidup. Di tulisan ini saya ingin berbagi cerita yang sedang dijalani sekarang – tinggal di sebuah hostel dengan semua ‘keunikkannya’ di ibu kota negeri Paman Sam, Amerika, yaitu Washington, DC.

Menjalani studi dan hidup di negeri orang sangat menuntut kemandirian sekaligus keberanian dalam mengambil keputusan. Tidak ada tempat untuk bersandar dan melempar tanggung jawab. Banyak buku atau pun film-film motivasi yang memberi semangat untuk mengejar impian meraih beasiswa studi ke luar negeri. Kata-kata manis, bijak, motivasi, sampai tips-tips yang bisa mempermudah meraih mimpi tersebut disajikan dengan sangat menarik. Mimpi itu selalu indah ketika sesuai dengan keinginan. Sayangnya, terkadang mewujudkan sebuah mimpi tidak cukup dengan hanya menyandarkan diri pada support dari orang lain, tanpa punya inisiatif sendiri.

Terlepas dari enaknya studi ke luar negeri dengan beasiswa, ada perjuangan menjalani hidup jauh dari keluarga dan sanak saudara didalamnya. Kalau hidup di negeri sendiri saja bisa dapat masalah, apalagi hidup di negeri orang lain yang semua sistemnya berbeda jauh. Mulai dari hal yang kecil seperti urusan makan sehari-hari sampai masalah studi. Jika ada masalah, diri sendirilah yang harus bisa menemukan solusi keluar dari masalah; keluarga jauh, apalagi sanak saudara, mau menjelaskan dengan mereka, bisa butuh waktu berhari-hari agar mereka memahami situasi.

Pagi ini saya berangkat menuju Washington, DC bersama tiga orang teman lain untuk menghadiri CIES conference. Di konferensi ini saya juga akan mempresentasikan paper dalam sesi panel bersama grup mahasiswa bimbingan Professor pembimbing. Berbeda dengan biasanya, kali ini saya berencana tinggal disebuah hostel mahasiswa Internasional. Alasannya sederhana, pertama, dompet sedang tipis, dan, kedua, lokasi hostel ini hanya sepuluh menit dari Hilton hotel tempat konferensi. Washington, DC kota yang ramah dan enak dibandingkan dengan New York, tapi dari segi biaya hidup tidak jauh berbeda. Jadi mahasiswa di negeri orang harus bisa tahu diri, terutama soal kondisi ekonomi, salah perhitungan bisa terkorban biaya makan sehari-hari.

Sekitar empat jam-an perjalanan menggunakan mobil, kami sampai di Hilton Hotel. Setelah melakukan registrasi, saya dan Hang, teman dari Vietnam, memutuskan untuk mencari makan siang. Memang dasar orang Asia, semua makanan direstoran terlihat tidak menarik karena didominasi oleh roti dan teman-temannya, ditambah lagi harganya yang lumayan buat gigit jari. Kami pun memutuskan untuk mencari makan di luar, dan berakhir di restoran Cina di pinggir jalan Connecticut Ave. Sudah bisa ditebak apa yang bakal dipesan, kalau tidak nasi, pasti mie. Berhubung kami berdua masih merasa sedikit pusing karena naik mobil tadi, mie menjadi pilihan. Tempat makan yang cukup enak, tapi tidak demikian dengan makanannya. Setidaknya, disyukuri bisa mengganjal perut untuk beberapa jam kedepan.

Semua kami yang datang menghadiri konferensi ini tinggal di tempat-tempat yang berbeda, berusaha mencari akomodasi yang semurah mungkin, mulai dari yang gratis numpang tinggal ditempat teman sampai yang sharing cost untuk kamar di Hilton hotel. Saya sendiri beberapa minggu lalu diajak seorang teman tinggal disebuah hostel yang hanya $27 semalam dengan fasilitas lengkap termasuk internet. Harga yang bisa dikatakan murah untuk kota sebesar Washington, DC dan lokasinya dekat dengan Hilton Hotel. Di ujung mendekati hari keberangkatan, si teman membatalkan reservasinya di hostel ini, alhasil tinggallah saya sendiri.

Sehabis makan siang dengan Hang dan menghadiri satu sesi konferensi, saya pamit untuk pulang ke hostel yang saya sendiri tidak tahu dimana lokasinya. Baterai handphone hampir habis dan internet tidak ada. Dengan berbekal sebuah peta yang difoto dari Netbook, saya berjalan keluar Hilton hotel mencoba menerka-nerka jalan menuju Hostel. Dari informasi di google, lokasi hostel hanya sepuluh menit dari Hilton hotel. Ternyata yang terjadi adalah hampir satu jam berjalan tidak juga ketemu. Bertanya dengan orang, tidak tahu. Mau pulang lagi ke Hilton hotel juga tidak ada gunanya.

Taman yang dilalui ketika mencari hostel... dimusim semi, pepohonanya baru akan terlihat indah,,,
Taman yang dilalui ketika mencari hostel… dimusim semi, pepohonanya baru akan terlihat indah,,,

Satu hal yang menarik dari cara orang Amerika membagi nama jalan. Bila jalan itu bertuliskan angka, maka biasanya jalan tersebut akan berurutan, bisa kebelakang bertambah atau kedepan berkurang. Dijalan alamat hostel yang saya cari bertuliskan 18th street, berarti ketika saya menemukan 20th street yang harus dilakukan adalah mencari tahu arah kemana jalan ini yang semakin ke ujung berkurang ke 19th dan akhirnya 18th. Metode mencari lokasi seperti ini sudah beberapa kali saya lakukan dengan hanya berbekal peta kertas, meskipun tidak semudah yang dibicarakan, karena harus berjalan menyusuri sampai ke ujung jalan. Masalah pun terselesaikan, hostel yang dicari ketemu, walaupun ternyata nama hostel itu hanya ditulis diatas secarik kertas kecil yang ditempelkan diatas pintu.

Pengalaman pertama tinggal di hostel ini sebenarnya cukup membuat khawatir, khususnya soal keamanan. Di Hostel, kita tidak menyewa ruang kamar, melain sebuah tempat tidur. Kemudian, saya pikir ruang tidur perempuan dan laki-laki terpisah, ternyata campur aduk, dan orang yang tinggal berasal dari berbagai negara. Perasaan terkejut merupakan kesan pertama saya saat masuk melihat kamar. Empat buah tempat tidur bertingkat berada diruangan dengan baju, celana, jaket, sepatu, koper, dan lain-lain bergantung dan bertebaran didalam ruangan. Disini, saya baru sadar kalau ternyata kamar pribadi saya masih sangat rapi.

Lu, Konin, dan satu orang perempuan berkulit hitam menjadi teman pertama saya di kamar ini. Hanya ada tiga laki-laki dan lima perempuan yang tinggal dikamar ini. Ketika saya bercerita tentang ini, buang jauh-jauh pikiran tentang freesex atau hal-hal lain yang berkaitan dengan itu. Ini tipikal pemikiran orang kita, dan memang di awal datang saya juga berpikir demikian. Tapi akhirnya, setelah berbincang dan berdialog dengan mereka semua, saya tersadar, ternyata semua yang tinggal disini berbagi satu hal, yaitu membutuhkan tempat tinggal yang murah agar bisa tetap menjalani aktifitas di kota mahal ini. Berdiskusi dengan mereka memberikan satu pencerahan tentang perjuangan menjadi mahasiswa internasional di negeri orang. Mereka semua merantau ke negeri liberti ini, misalnya Lu adalah mahasiswa PhD di Kanada yang sedang magang di salah satu perusahaan di Washington, DC, Konin berasal dari Cili yang sedang menjalani kerja dengan salah satu universitas, dan yang lainnya.

Soal tempat tidur yang berada di satu ruangan, masing-masing mengurusi urusannya sendiri, tidak ada yang usil. Ganti pakaian dan lain-lain dilakukan di kamar mandi. Saya bahkan berpamitan dengan mereka untuk menggunakan satu space dilantai untuk menunaikan shalat.

Kondisi didalam kamar Hostel...
Kondisi didalam kamar Hostel…

Di malam hari saya coba duduk di ruangan tamu, orang-orang yang tinggal di hostel ini terlihat lebih banyak dan dapur yang dekat dengan ruang TV penuh, karena mereka semua masak sendiri untuk makan malam. Canda dan tawa mereka terdengar sembari saya menuliskan cerita ini. Perasaan saya seketika berubah dari khawatir dan takut, menjadi merasa punya teman yang juga sedang berjuang menyelesaikan sesuatu yang harus dilakukannya ditengah mahalnya biaya tempat tinggal di DC. Menjadi mahasiswa internasional memang berat dan penuh tantangan, tapi ternyata saya juga tidak sendiri.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi 

Advertisements

7 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s