Menanam Surat Cinta

Suasana di penghujung musim dingin, mulai memasuki musim semi di Amerika..
Suasana di penghujung musim dingin, mulai memasuki musim semi di Amerika..

Hari ini, ditengah cuaca di Lehigh yang cerah tapi dingin berangin ribut, alhamdulillah satu surat cinta datang menghampiri, meminta untuk menjalin komitmen menjalani hidup selama lima tahun bersamanya. Ini surat cinta pertama selama studi di Amerika dan kedua selama studi di luar negeri. Entahlah, saya selalu merasa berat menolak surat cinta yang datang menghampiri sebagai sebuah hasil dari kerja yang dilakukan hampir setiap hari ditengah sibuknya melakukan kewajiban lainnya. Surat cinta ini walau hanya berupa kata-kata, rangkaiannya tampak begitu teratur dan rapi, membentuk satu rupa yang mungkin melebihi keindahan seorang manusia. Sejenak termenung, pikiran terbang mencoba memutar ulang beberapa kenangan usaha-usaha yang sudah dilakukan siang dan malam.

Sejauh ini, satu hal yang selalu saya ingat ketika menginginkan sesuatu: “Memang harus menanam dahulu baru bisa memanen. Jangan pernah berharap bisa memanen sesuatu yang tak pernah kau tanam”. Seperti filosofi menanam, diperlukan ketekunan setiap jam dan hari merawat dan menjaga tanaman agar jauh dari hama dan kerusakkan, dibutuhkan waktu untuk tanaman tumbuh besar, berbunga dan berbuah. Setiap kali memiliki keinginan, memperhitungkan tentang usaha yang harus dilakukan dalam menjaga ketekunan dan fokus serta waktu yang dibutuhkan sampai bisa menikmati hasil sangatlah penting. Melihat tanaman tetangga sebelah yang sudah lebih dulu berbunga dan berbuah memang enak dan terasa menyenangkan, tapi jangan lupakan usaha dan waktu menunggu yang sudah dilakukannya hingga bisa menikmati hasil yang demikian.

Tidak sedikit yang konsultasi dengan saya menanyakan segala sesuatu tentang meraih beasiswa studi ke luar negeri dan bagaimana cara melewati berbagai tes bahasa Inggris yang ada. Terkadang, saat saya menyebarkan satu informasi beasiswa, disitu ada sedikit perasaan menyesal juga. Tahu kenapa? Saya menyesal karena jawaban dari kebanyakan pertanyaan yang diberikan sudah tersedia lengkap di informasi yang disebar, jadinya malah membuat dongkol hati. Kalau meluangkan waktu untuk membaca dan memahami hal berkaitan dengan keinginan sendiri saja sudah enggan, lalu bagaimana bisa melalui tantang-tantangan besar lainnya dalam perjalanan meraih beasiswa studi ke luar negeri? Memang tidak mudah mencerna satu informasi beasiswa, tapi disanalah waktunya kita menanamkan ketekunan untuk tidak mudah menyerah; tidak bisa paham sekali baca, ulangi lagi beberapa jam berikutnya, pahami per poin, buat catatan agar tidak lupa, kemudian mulai bangun dan penuhi satu per satu persayaratannya. Di sini kita sedang memupuk tanaman yang akan kita tuai hasilnya nanti.

Begitu juga dengan belajar bahasa Inggris. Saya termasuk orang yang akan menolak bila ada yang berkata bahasa Inggris itu hanya untuk orang yang otaknya encer saja, apalagi jika ada yang menganggap dia tak kan pernah bisa menguasai bahasa Inggris, itu bohong besar! Yang ada itu, usaha yang dilakukan tidak cukup besar untuk melampaui kemalasan diri yang dimiliki. Setiap orang punya kadar kecerdasan yang berbeda, daya paham yang tidak sama, maka temukan dan sadari di level mana kita di bahasa Inggris. Kalau kira-kira kita termasuk level golongan bawah, berarti usaha yang dilakukan harus dua atau tiga kali lipat dari yang dilakukan orang di level atas. Ini saya sampaikan bukan karena saya sudah enak bisa bahasa Inggris dan studi di luar negeri, melainkan karena kondisi saya dahulu lebih parah dari teman-teman yang tidak bisa bahasa Inggris. Titik perubahan terjadi disaat rasa benci terhadap bahasa Inggris menjadi butuh karena berguna dalam mencari pekerjaan dan melanjutkan studi. Siang malam belajar, sindiran dan celaan diterima, kegagalan sudah biasa, ya seperti itulah kalau sedang menanam, hujan badai, kering kerontang, harus bisa ditahan dan tekun merawat tanaman agar bisa tumbuh besar dan memiliki hasil.

Demikian juga dengan surat cinta yang saya terima ini, bukan hal yang mudah didapatkan. Jauh sebelum berangkat ke Amerika, saya bangun mimpi untuk kembali memiliki satu karya di tahun pertama masa studi. Targetnya, tiga karya selama menjalani studi PhD, selain karya-karya lain di bidang akademik. Ditengah padatnya perkuliahan di negeri Paman Sam, saya harus bisa meluangkan waktu beberapa jam dalam seminggu untuk menulis. Satu tulisan memakan waktu minimal dua jam, lebih lama lagi bila menginginkan hasil yang lebih baik. Di sisi lain, ada juga esai kuliah dan artikel ilmiah yang harus dikerjakan dan deadlinenya diujung mata. Namun, setiap kali merasa capek, penat, lelah, dan jenuh, saya selalu ingat dengan nasehat kalau tidak akan mungkin bisa memanen sesuatu yang tidak pernah ditanam, sudah ditanam pun belum tentu berbuah hasil yang diinginkan. Hampir satu tahun berusaha dan menunggu, akhirnya usaha meraih mimpi di luar bidang akademik ini tercapai juga, mendapatkan surat cinta dari satu Penerbit besar.

Seorang teman semasa studi di Manchester lalu pernah memberi nasehat,” Budi, kalau kamu dicela dan direndahkan orang, tamparlah mereka dengan prestasi.” Banyak yang lupa kalau orang yang sekarang pintar, itu dulunya bodoh, jika ada orang sekarang besar, itu awalnya kecil. Ada proses pertumbuhan yang melibatkan waktu dan usaha di dalamnya. Arti sebuah hasil terletak pada sebesar apa rintangan yang dilewati, makanya Tuhan selalu menempatkan kita di situasi tersulit terhadap keinginan yang dicapai, karena Dia tahu kita akan lebih menghargai hasil yang diberikan-Nya di ujung perjalanan nanti. Jangan juga menilai setiap hari berdasarkan sebanyak apa hasil yang bisa dipanen, lihatlah juga pada seberapa banyak benih yang sudah ditanam. Apa yang dituai di masa depan selalu bergantung dengan apa yang sudah di tanam di masa kini. Proses ini yang akan membawa kita pada satu hasil – surat cinta sebagai konfirmasi atas perjuangan yang telah dilakukan sidang dan malam.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi 

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s