Salju Musim Semi

Foto sekitaran Lehigh University yang diambil minggu lalu..
Foto sekitaran Lehigh University yang diambil minggu lalu..

Baru satu minggu yang lalu saya mengambil satu foto di kampus seusai menunaikan shalat Jum’at, hari ini kondisi sudah berubah kembali seperti sebelumnya; salju turun sejak pagi sampai malam, warna putih kembali mendominasi menutupi permukaan tanah, bangunan, sampai dedaunan yang hijau pun dipaksa menampung bunga salju yang berjatuhan. Minggu lalu, hati cukup senang ketika melihat tumpukan salju sudah banyak yang mencair, cuaca cerah, matahari bersinar, walaupun udara masih terasa dingin menusuk tulang. Sambil jalan meninggalkan Dialogue Center tempat shalat Jum’at, saya coba abadikan detik-detik terakhir musim dingin, menuju musim semi. Ternyata, meskipun kalender menyatakan hari ini adalah awal musim semi, alam belum menyetujuinya; saat buka mata di pagi hari, melihat ke luar jendela, bunga-bunga salju deras berjatuhan, dalam prakiraan cuaca ada peringatan badai salju sampai pukul delapan malam ini. Jelas sudah kalau hari ini  resmi masuk musim semi di Amerika, kecuali di Bethlehem, Pennsylvania.

Foto yang di ambil hari ini...
Foto yang di ambil hari ini…

Hari Jum’at ini merupakan minggu kedua setelah daylight saving di mulai tahun 2015. Di Amerika, jam akan di putar mundur satu jam saat memasuki musim dingin di bulan November, kemudian dimajukan kembali satu jam di bulan Maret. Tahun ini jam di majukan satu jam tanggal 8 Maret lalu. Sistem ini disebut dengan nama daylight saving. Manfaatnya banyak terasa di musim dingin dimana aktifitas semuanya dimundur satu jam, jadi bangun tidur akan dapat bonus satu jam di pagi hari, sambil menunggu hari agak cerah. Diwaktu jam dikembalikan seperti semula, banyak hal yang harus diputar kembali, misalnya jadwal shalat Jum’at. Sebelum daylight saving dimulai, waktu shalat jum’at pukul 12.30, berarti setelah dayligh saving, harusnya shalat Jum’at dilakukan pukul 13.30, sayangnya minggu lalu tak satu jama’ah pun saya temui di Dialogue Center. Maka, hari ini berangkat seperti biasa pukul 12.30 lewat, dan benar memang, salju ditangga-tangga menuju Dialogue Center masih rapi dan bersih dari jejak kaki manusia, artinya pasti belum ada orang didalam.

Tanggga menuju Dialogue Center yang masih bersih dari jejak kaki orang..
Tanggga menuju Dialogue Center yang masih bersih dari jejak kaki orang..

Kalau shalat Jum’at disini, tidak banyak yang diharapkan; asal ada dua orang Jama’ah lagi yang datang, shalat bisa ditunaikan. Saya putuskan untuk menunggu beberapa menit di dalam ruang shalat. Satu per satu mahasiswa Lehigh yang berasal dari berbagai negara akhirnya berdatangan. Satu orang mengambil inisiatif menjadi Khatib dan Adzan dikumandangkan. Ditengah Khutbah, seorang Jama’ah berdiri dan menunaikan shalat empat rakaa’t, mengabaikan khotbah. Sudah bisa ditebak, dia pasti memiliki kelas atau hal yang harus dilakukan segera hingga tidak bisa menunggu sampai shalat Jumat ditegakkan. Setengah jam kemudian, shalat dimulai dengan delapan orang Jama’ah, lumayan dibandingkan dengan minggu lalu. Setidaknya, hari ini sudah resmi waktu shalat Jum’at kisaran jam setengah dua siang.

Kuliah di negeri Paman Sam selain harus siap dengan atmosfir akademik yang penuh dengan tekanan, harus siap juga menikmati ‘keganasan’ musim dinginnya. Tidak semua states di Amerika mengalami musim dingin yang buruk dengan salju yang menumpuk, bahkan beberapa states terang benderang tanpa ada salju yang bertebaran di jalan. Tapi, untuk tempat yang langganan tumpukkan salju, nanti akan dapat memahami kenapa orang-orang Amerika banyak memilih menghabiskan liburan musim dingin di daerah tropis. Salju sebenarnya indah, namun hawa dinginnya yang membuat hati kadang dongkol dengan suasana yang tidak berubah dari hari ke hari.

Namun demikian, katanya disaat seseorang membulatkan niat untuk menuntut ilmu, malaikat berbaris dan melebarkan sayap mereka disepanjang jalan sambil mendoa’akan untuk keberhasilan dan keselamatannya. Dan jika ajal datang menjemput diwaktu diri tengah berjuang menuntut ilmu, kematian yang didapatkan adalah kematian yang mulia, setara dengan kematian seseorang yang sahid dalam perjuangan membela agama di medan pertempuran; sudah pasti surga menunggu. Setiap kali menghadapi kesulitan selama studi disini, kalimat di atas selalu menjadi penghibur hati. Hidup itu ujungnya mati. Seberat apapun masalah, kalau mati belum menjadi resikonya, berarti masih ringan; dan biarpun mati resikonya, tidak ada jalan menghindarinya bukan? Sebelum itu, pastikan hidup yang dijalani penuh arti. Terkadang, yang membunuh seseorang bukanlah pedang, pistol, atau pun senjata lainnya, tapi ketika dia dilupakan, karena tidak ada sesuatu yang mengingatkan orang tentang dirinya.

Meja dan kursi taman yang sudah dipenuhi salju..
Meja dan kursi taman yang sudah dipenuhi salju..
Tanaman yang sudah menjadi kerangka dipenuhi salju...
Tanaman yang sudah menjadi kerangka dipenuhi salju…

 

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s