Kenapa Harus Menulis?

IMG_0266 (2)
World War II Memorial, Washington, DC 

Waktu menunjukkan hampir jam 12 malam, saya mulai merapikan buku-buku dan netbook yang berserakan di atas meja. Perpustakaan kampus ini sebenarnya buka 24 jam dan mahasiswa bebas keluar masuk bahkan tidur di dalamnya. Kepala saya rasanya sudah terasa sesak dengan semua materi berbau ilmiah, belum lagi ditambah berbagai kegiatan yang harus dikerjakan dan diikuti. E-mail saja datang silih berganti sudah seperti mengirim SMS saja dan harus dijawab karena dari Professor dan teman sekelas kerja kelompok. Bulan April merupakan penghujung semester musim semi di Amerika. Artinya, semua mahasiswa sibuk mengerjakan tugas dan mempersiapkan diri untuk ujian. Sesampai dirumah, saya hempaskan badan diatas kasur hitam yang terasa empuk sekali walaupun bentuknya seperti kasur di rumah sakit, sambil tangan meraih handphone yang tergeletak diatas meja, sengaja ditinggalkan tadi.

Selang beberapa menit, saya membaca satu e-mail yang tiba-tiba muncul saat tengah asik melihat-lihat pesan yang masuk. Perlahan e-mail ini dibaca, dugaan saya hanya beberapa kalimat saja, ternyata e-mail itu panjangnya bukan main, tapi anehnya mata saya justru semakin mengejar kalimat berikutnya terus menerus sampai diujungnya ditutup dengan kalimat:

” Terimakasih mas Budi atas tulisan-tulisanmu, aku akan terus mencoba untuk meyibak kegelapan dalam mimpiku agar menjadi terang, membuatnya menjadi realistis untukku hingga bisa terwujud.”

“Nb : setiap pagi, ketika mulai membuka laptop dan googling, yang pertama kali aku buka adalah blogmu. Dan ketika buka sosmed twitter yang aku amati adalah twet2mu.”

Rasa lelah dan penat sehabis mengerjakan tugas terasa hilang seketika. Segera saya bangkit dari tempat tidur dan kembali menghidupkan Netbook, menuliskan cerita ini. Saya ucapkan terima kasih pada teman yang sudah mengirimkan e-mail itu. Setelah berpusing ria seharian, satu e-mail ini menutupnya dengan sempurna. Namun, sebenarnya, ada alasan lain kenapa saya memutuskan untuk menunda sejenak tidur dan kembali mengetikkan satu tulisan di blog ini.

Tahu kenapa saya suka sekali menuliskan setiap cerita yang dialami?

Hidup ini tidak bisa selesai dengan usaha dan inteligensi saja. Orang yang pintar belum tentu sukses, apalagi orang yang biasa saja. Orang yang berusaha siang malam belum tentu berhasil, apalagi yang usahanya setengah-setengah. Tapi, adilnya Tuhan, Dia menyimpan rahasia masa depan kita serapat-rapatnya, bahkan biarpun Dia sudah memberitahu sejak kita di dalam kandungan, dibuatnya kita lupa. Seringkali dalam setiap kesempatan, prediksi kita yang awalnya 99% akurat bakal terjadi, ternyata di ujung menit terakhir situasi berubah 360 derajat, berbeda dengan perkiraan kita.

Saya menulis dan berbagi hal lain yang bisa dibagi agar bisa mempermudah jalan hidup ke depannya. Kita tahu bahwa untuk merayu seseorang diperlukan sesuatu yang disukainya. Begitu juga dengan Tuhan. Rayulah Tuhan dengan cara menanam kebaikan sebanyak-banyaknya. Bukan saat kita menghadapi kesulitan, tapi jauh sebelum itu. Kita tidak pernah tahu kalau kebaikan kecil yang dilakukan sekarang malah menjadi penyelamat di masa depan nanti. Saya selalu memikirkan masalah-masalah yang bakal dihadapi beberapa hari, bulan, sampai tahun ke depan. Semakin saya khawatir, semakin saya dorong diri untuk segera bebrbuat kebaikan apa yang bisa dibuat.

Setiap kali membaca komentar yang berisi terima kasih dan do’a, itu rasanya seperti disirami air dingin pegunungan yang terasa sejuk, dapat sudah tabungan saya untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Buat teman-teman yang punya sejuta mimpi untuk diraih, janganlah lupakan untuk juga berinvestasi dengan menanam kebaikan. Sebisanya, sesuai dengan kemampuan yang ada. Menulis adalah salah satu caranya. Menginspirasi dan berbagi lewat tulisan tidak harus menunggu diri hebat dan berprestasi dahulu. Menulis itu kebiasaan, dan kebiasaan tidak bisa dibangun dalam waktu sehari. Banyak yang menunda berbagi lewat tulisan, menunggu sampai meraih sesuatu, namun sayangnya setelah mendapatkan apa yang diinginkan, tulisan tidak juga dibuat.

Menulis itu adalah kebiasaan orang hebat. Silahkan lihat orang-orang yang namanya sampai sekarang masih diingat dan menjadi pelajaran bagi banyak orang, pasti mereka menulis buku atau pun artikel. Orang yang sering menulis, biasanya cara penyampaiannya lewat tutur kata lebih struktur karena sudah terlatih mengedit tulisan berkali-kali.

Dan ingat satu hal,” We are not following successful people to please them but to surpass them”. Jadi, kalau misalnya teman-teman mengikuti tulisan-tulisan saya tentang meraih beasiswa studi ke luar negeri, itu bukanlah untuk menyenangkan hati saya, melainkan untuk melampaui saya. Begitu juga dengan orang lainnya. Kita butuh role models agar bisa mendesain jalan hidup yang diinginkan, tapi hidup kita tidak harus sama persis dengan mereka.

Hanya, jangan dipikir itu mudah. Mimpi itu bayar. Bukan dengan uang, melainkan dengan kerja keras, ketekunan, dan keyakinan.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi 

Advertisements

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s