Dibalik Seksinya Amerika..

Suasana pemutaran film The Hunting Ground..
Suasana pemutaran film The Hunting Ground..

Saya tinggal di Packer house atau lebih dikenal dengan nama Fulbright house karena hanya lima orang penerima beasiswa Fulbright terpilih yang diizinkan tinggal disini selama satu tahun pertama. Lokasi rumah ini disisi jalan West Packer Ave dimana saya bisa melihat jalanan dengan jelas dari jendela kamar di lantai dua. Hampir setiap malam, terutama saat akhir pekan, selalu terdengar suara canda tawa sampai teriakkan kegirangan laki-laki dan perempuan yang lewat di jalan ini. Mereka rata-rata mahasiswa yang memanfaatkan akhir pekan untuk berpesta ria dan memang selalu ada saja pesta setiap minggu disini. Meja belajar saya tepat disisi jendela, jadi bisa mendengar dengan jelas suara-suara mahasiswa – mahasiswi yang lewat di jalanan. Terkadang, saya luangkan waktu untuk mengintip dari celah jendela, penasaran melihat apa yang mereka kerjakan, karena dalam beberapa kesempatan, terdengar suara perempuan dan laki-laki tertawa riang cekikikan, entah apa yang sedang mereka lakukan.

Salah satu teman memberi tahu kalau kehidupan malam di Lehigh termasuk peringkat atas diantara kampus-kampus lain di Amerika. Di Internet ada website yang membuat rangking kehidupan malam kampus – kampus di Amerika dan biasanya menjadi salah satu daya tarik bagi calon mahasiswa baru. Dan memang benar, hampir setiap minggu ada saja pesta yang diadakan dirumah-rumah mahasiswa dan akhir pekan merupakan waktunya melupakan studi sejenak. Tahun lalu saya sempat ikut ajakkan teman untuk menghadiri sebuah pesta teman dari India. Jam 12-an malam kami berangkat dan sekitar jam dua kami pulang. Di pesta itu tidak terlalu ekstrim, ada alkohol dan juga coca-cola. Selalu ada game dan berjoget ria, namanya juga pesta.

Jadi mahasiswa Internasional harus bisa menempatkan diri dan jangan terlalu hanyut dalam suasana yang membuat lupa diri. Sejak saat itu saya tidak terlalu peduli dengan acara pesta yang diadakan malam hari. Saya kira laki-laki dan perempuan yang lewat di jalanan depan rumah ini selalu menuju ke sebuah tempat pesta. Mahasiswa disini bisa memanfaatkan tempat tinggalnya cuma untuk mengadakan pesta, mulai dari pesta ulang tahun sampai perayaan akhir semester. Jelas sekali mereka terlihat sedang bersenang – senang. Tetapi, sepertinya tebakkan saya salah.

Satu hari yang lalu, sebuah film dokumenter berjudul “the Hunting Ground di putar di Zoellner Arts Center, Lehigh University. Film ini dibuat oleh Kirby Dick yang pernah masuk nominasi piala Oscar sebanyak dua kali. Kirby Dick pun diundang dalam pemutaran film ini di ruang Teater. Tidak ada yang membuat saya tertarik datang untuk menonton film ini selain e-mail dari Professor yang berisi kalau mau nilai tambahan, nonton dan tulis refleksi tentang film dokumenter ini. Ditengah banyaknya tugas kuliah di semester ini, saya tahu pasti sedikit teman sekelas yang datang. Dengan sedikit malas, saya langkahkan juga kaki menuju salah satu gedung khusus pertunjukkan di kampus ini. Setelah film ini diputar, rasanya baru saja selesai melihat sesuatu yang ‘mengerikan’ terjadi diantara kalangan mahasiswi Freshmen di kampus-kampus besar di Amerika, sesuatu yang tidak pernah terlintas dipikiran saya sebelumnya.

Film dokumenter ini mengakat tentang kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual yang dialami mahasiswa – mahasiswi di kampus di Amerika. 16% sampai 20 % mahasiswi di perkosa di kampus. Sekitar 88% dari korban tidak melamporkan kasus yang dialaminya. Mahasiswa, terutama perempuan, yang baru saja masuk memulai tahun pertama di kampus menjadi target pemerkosaan dan kekerasan seksual. Salah satu korban bercerita, dia diundang ikut sebuah pesta di hari – hari pertamanya di kampus, karena teman yang mengundang dan pesta bukanlah hal yang aneh di kampus, dia pun menyetujui untuk pergi. Dia tidak menyangka kalau di pesta itu akan menjadi momen yang tak terlupakan dalam hidupnya, seorang laki-laki mengajaknya berbincang, minum, kemudian dibawa ke toilet dan dipaksa memenuhi birahinya. Beberapa korban lain di tarik ke dinding kemudian diperkosa sambil berdiri, ada juga yang digilir hingga beberapa orang.

Di Amerika, kampus biasanya memiliki Greek House yang disebut dengan Fraternities dan Sororiities, sebuah sistem Brother dan Sister. Fraternities tempat mahasiswa laki-laki tinggal dan sororirities tempat mahasiswa perempuan. Terlihat seperti sebuah sistem yang bagus, memisahkan laki-laki dan perempuan, Sayangnya, kebanyakan pemerkosaan dan kekerasan seksual justru terjadi di Fraternities. Mereka suka membuat pesta dan di pesta inilah biasanya akan disediakan banyak minuman beralkohol. Mahasiswa Freshmen yang baru saja lulus SMA dan mulai menjalani kehidupan perkuliahan biasanya mudah terjebak. Kebanyakan korban pemerkosaan dan kekerasan seksual yang terjadi dimulai dengan korban diajak minum dan kemudian hilang kesadaran, kehormatan itu pun diambil.

Mahasiswa yang menjadi korban kebanyakkan memilih untuk tidak memberitahu orang lain. Kalaupun mereka memberi tahu pihak universitas, yang terjadi malah mereka yang disalahkan karena menghadiri pesta tersebut, memakai pakaian terlalu seksi, dan lain sebagainya. Kampus pun tidak menyarankan mereka untuk memberitahu publik karena reputasi universitas bisa ternodai. Mahasiswa yang menjadi korban pemerkosaan dan kekerasan seksual dalam film dokumenter ini studi di kampus-kampus ternama di Amerika, seperti Harvard University, Stanford University, Columbia University, dan lain sebagainya. Bahkan, ada pelaku yang diberi gelar ‘predator’ dimana datang ke pesta hanya untuk memuaskan birahinya. Sayangnya, walaupun setiap kampus mengatakan serius menangani kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual, hukuman yang diberikan pada pelaku antara lain, di skor selama satu hari, satu semester, selama musim panas, atau membayar denda $75, hanya 26% yang ditahan. Sungguh, tidak sebanding dengan kehormatan perempuan yang sudah diambilnya.

Dalam film ini bahkan ditunjukkan bagaimana kumpulan ‘predator’ membuat slogan “No means Yes. Yes means Anal”. Budaya di Amerika berbeda dengan budaya di Indonesia. Disini, mahasiswi yang sudah diperkosa terlihat biasa saja sampai dia memberitahu. Selain itu, memang ada mahasiswa Amerika yang memilih tinggal bersama dengan pasangannya satu rumah atau apartemen tanpa menikah, tidak terlihat aneh. Jadi, dengan budaya pesta setiap akhir pekan, hidup bebas dengan pasangan, ternyata tidak sedikit kasus pemerkosaan yang terjadi. Saya jadi teringat mahasiswa yang hilir mudik lewat didepan rumah setiap malam akhir pekan.

Bila korban melaporkan kasus pemerkosaan yang terjadi padanya dan si pelaku adalah student athlete, terutama pemain Football, umumnya hampir tidak akan ditangani. Bahkan, polisi punya keterbatasan dalam menginterogasi student athlete. Di Amerika, olahraga, terutama Football, hal yang sangat penting bagi sebuah universitas, baik untuk mendapatkan reputasi maupun uang. Salah seorang korban pernah melaporkan kasus pemerkosaan yang dialaminya, karena si pelaku pemain Football yang sedang naik daun dan diandalkan oleh kampus, kasusnya baru ditangani beberapa tahun kemudian. Demikian juga dengan Fraternities, walaupun sudah banyak kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual yang terjadi di tempat tinggal mahasiswa ini, kampus tidak mau menutupnya karena 60% uang yang didapatkan dari donasi kampus datang dari Alumni Fraternities.

Kehidupan Freshmen di kampus-kampus Amerika kelihatannya menyenangkan, penuh dengan pesta dan bergembira ria, namun dibalik itu semua, ada birahi yang mencari korban dan ada kehormatan yang dirampas. Tetapi, disisi lain, alkohol dan pesta sepertinya dua hal yang tidak bisa dipisahkan disini, dan kasus pemerkosaan selalu diawali dengan hilangnya kesadaran korban lewat minuman keras yang sudah ditambahi sesuatu. Bisakah kasus pemerkosaan di kampus di Amerika diselesaikan bila alkohol dan pesta masih tersebar dimana-mana? Entahlah, sebagai mahasiswa internasional, baiknya mengambil pelajaran dari kebudayaan yang ada di negeri liberti ini, semoga tidak terjadi di negara saya, Indonesia.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi

Advertisements

6 Comments

  1. I watched the same documentary movie last week, I agree with you. If under the influence of alcohol, anything can happen. I feel safe with my hijab so no one bother me on the way home at night. I understand the way the girls dress for party also become one of the influence of sexual harassment. However, those athletes do their sexual harassment on purpose. They plan well who will be the next target and they even keep some pictures of the girls as their trophies. We can’t blame the victims but as long as they have parties with alcohol, sexual harassment will always happen.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s