Autumn In Love

283304_239808409386321_6093910_n
Manchester, UK

Angin musim gugur bertiup pelan melambai – lambai mengesankan rasa dingin tak kalah menyentuh kulit wajah dan telapak tangan setiap anak manusia yang melintasi alam terbuka, rasanya seperti tersentuh tetesan air dingin dari bongkahan es yang mencair dari freezer. Suasana terasa sedikit mencekam dengan warna langit yang kelabu disambut tarian – tarian daun maple diudara yang telah memerah dimainkan angin. Setiap jengkal tanah yang ditumbuhi rumput atau dilapisi semen tempat pejalan kaki di Whitworth Park dipenuhi dedaunan maple yang berwarna kekuningan sampai kemerahan. Pepohonan maple disekitar Whitworth park tampak akan segera menggundul merontokkan satu persatu daunnya sebagai pertanda musim gugur telah tiba di Manchester, Inggris.

Di Amerika dan Inggris musim gugur dikenal dengan nama ‘Fall’. Kata yang sedikit aneh karena sebutan untuk anak manusia yang tengah di mabuk asmara percintaan juga menggunakan kata ‘fall’, yaitu fall in love. Akankah kata fall disini juga berarti musim gugur? Ataukah kata ini sengaja diselipkan dan dipasangkan dengan kata love untuk menggambarkan bahwa insan yang tengah di mabuk asmara akan berguguran satu persatu dihadapan pujaan hatinya tanpa bisa berbuat apa – apa? Bertekuk lutut tanpa bisa berpikir jernih mengesampingkan semua logika ilmiah maupun agama. Jika demikian, lebih baik kata fall digantikan dengan kata autumn sebagaimana orang – orang Kanada menyebut musim gugur ditempatnya. Maka, kita bisa merubah kata fall in love menjadi autumn in love sebagai sangkalan bahwa seorang anak manusia yang tengah dilanda asmara mungkin tak bisa menemukan logika ilmiah untuk menolak sesosok pujaan hati yang telah menjelma menjadi realiti dihadapannya, namun didasar hatinya yang terdalam masih menyadari keberadaan aturan – aturan Tuhan yang tak bisa dipungkiri dengan cara apapun serta menggunakan alasan seberapa pun. Satu parodi kehidupan yang dirancang Tuhan tersimpan rapi di Lauhul Mafuz terjadi hari ini.

Seorang anak laki – laki dengan perawakan bangsa Asia duduk terdiam sambil menyila kedua tangannya didada, mencoba mengurangi kecupan – kecupan udara dingin yang senantiasa mencari cela untuk menembus pori kulit tropisnya yang tipis sekali dibandingkan dengan pori – pori kulit bangsa Inggris yang tebal karena terbiasa hidup jauh dari sinar matahari. Matanya khusyuk memandangi seorang perempuan Cina yang sedang asik bercengkerama dengan dua orang anak kecil yang dituntun ibunya dengan menggunakan kereta dorong. Perempuan itu mencoba menarik perhatian kedua anak kecil itu dengan berlaku manis dihadapannya, dengan menyentil – nyentil pipi mereka, sampai berbicara lucu dengan bahasa yang entah mungkin hanya kedua anak kecil tersebut yang mengerti – terbukti mereka tertawa melihat tingkah Zhinu. Dia berhasil membuat anak kecil itu tertawa, sebenarnya hanya dengan paras cantiknya saja hal itu bisa terjadi, konon katanya bayi pun bisa memberikan respon yang berbeda ketika melihat wajah cantik dan jelek dengan senyuman dan tangisan, sayangnya dia tidak bisa menciptakan senyuman secerah yang ditampakkan anak kecil itu didalam hatinya dan hati laki – laki yang kini mendamparkan pandangan kosong pada dirinya.

Kata Dewa 19, cinta bisa tercipta karena telah terbiasa; terbiasa bertemu, terbiasa bercengkerama, terbiasa bertukar pikiran, terbiasa beradu pandangan, terbiasa saling bercanda, dan … semua kata terbiasa yang mengisyaratkan setiap bulir pasir waktu yang jatuh dari tabungnya dihabiskan bersama, cinta bisa tumbuh. Haikal, lelaki yang tengah melamun itu, adalah teman sekelas Zhinu yang sedang mengambil S2 di University of Manchester, Inggris. Kondisi ini membuat mereka mengukir hari – hari bersama. Lima hari dalam seminggu, 480 jam dalam sebulan, 52 Minggu dalam setahun, belum termasuk jalan – jalan santai saat akhir pekan: nonton sinema di Odeon, menikmati konser musik di Manchester Academy, bercanda ria berlarian mengelilingi air – air mancur kecil di City Center, sampai menjadi penonton kedua belas di stadion Old Trafford dan Etihad Stadium.

Tak beda dengan namanya, Zhinu, gadis penenun, wajahnya berbentuk oval agak sedikit lonjong bak lanskap sebuah danau yang terbentuk di Lake District dimana ditarik sedikit ujungnya memberikan daya tarik tak terkira, bukan hanya bagi hewan – hewan kecil yang seringkali mendatanginya tapi juga sudah menawan hati setiap anak manusia yang mencintai keindahan ciptaan Tuhan. Dia sudah menenun sebuah maha karya master piece menjalar disetiap urat saraf yang melintang rumit di otak Haikal. Kecerdasan Zhinu dalam mengolah kata telah menghidupkan lampu – lampu ide dalam otak Haikal yang tak lain seorang penerima beasiswa Ford Foundation, USA. Tak jarang diawal – awal perkuliahan mereka terlibat diskusi yang alot dan panjang hingga dosen harus berdehem berkali – kali untuk memperjelas tanda untuk berhenti. Setiap kali dipertemukan dalam tugas kelompok, riuh – riuh benturan gagasan dan pendapat acap kali muncul sebagai refleksi kecermelangan yang dimiliki kedua anak cucu adam ini. Zhinu memang bukan seorang penerima beasiswa, orang tuanya yang punya usaha tekstil di Cina menopang hidupnya dari kejauhan. Tapi, mata sipit yang ditutupi dengan kaca mata tipis itu selalu berhasil membuktikan kesan kejeniusan yang ditampilkannya secara fisik.

Haikal seakan tak mau kalah dengan Peter Parker, seorang lelaki bertubuh kecil berpenampilan sedikit culun dan lugu namun memiliki berlian tak ternilai dalam otaknya yang berhasil menakhlukkan hati Mary Jane teman sekelasnya dalam film Spiderman. Disetiap diskusi atau pun perdebatan dengan Zhinu hanya berakhir dikelas, tak pernah dibawa sampai keluar melewati tembok ruangan kelas di Ellen Wilkinson Building, University of Manchester. Mereka bertransformasi drastis menjadi sepasang muda – mudi yang ceria, bersahabat, penuh canda tawa, dan akhirnya … menumbuhkan cinta. Sayangnya, Haikal melihat ada sebuah tembok besar Cina yang menghalangi dirinya dan Zhinu untuk bersatu. Tembok ini panjang, tak tahu dimana ujungnya. Tinggi, tak dapat dicapai dengan satu loncatan. Setan dalam diri Haikal yang menunggangi perasaan asmara ini pernah mengibaskan sebuah ide untuk menghancurkan tembok besar Cina ini dengan sebuah kata mantra. Untunglah, bibit keimanan yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya dan telah tumbuh, menyembul keluar seolah memperjelas kehadirannya dalam diri Haikal sehingga membuat langkahnya surut untuk menyentuh mantra yang ditiupkan setan itu.

Seakan berbisik, “Kau dan Zhinu menjalani dunia yang berbeda walaupun di bumi yang sama. Tak mungkin bisa menyatu, kecuali salah satu berubah haluan kemudian menjalani satu dunia yang sama. Kau tak mungkin melakukan itu, mengkhianati semua kenikmatan Ilahi demi sebuah birahi insani.”

Zhinu, seperti kebanyakan perempuan, membutuhkan kepastian, kedekatan selalu punya makna dan arti yang terkadang dilupakan oleh seorang laki – laki. Sebuah status bisa berarti segalanya untuk seorang perempuan yang merasa telah menjumpai belahan jiwanya, sebagai pelengkap tulang rusuk yang diambil Tuhan untuk menciptakan dirinya. Tak heran bila dia senantiasa memendam harapan ini akan disambut Haikal dengan ungkapan cinta. Tampaknya hal itu tak akan pernah terjadi, dan Zhinu harus mulai mengambil langkah berani layaknya seorang perempuan modern yang menepiskan ungkapan bahwa wanita hanya menunggu dan tak boleh mengungkapkan perasaannya duluan.

Ini adalah musim gugur kedua bagi Zhinu , hampir menggenapkan satu tahun masa studinya yang akan segera berakhir. Bila dibiarkan, waktu terus berlalu, dan begitu juga Haikal. Dia yakin, tersimpan disetiap satuan pandangan Haikal padanya, setiap kata manis yang terucap dari mulutnya, bahkan setiap malam yang dilewatinya, wajah Zhinulah yang menjadi fokusnya. “Tapi, entahlah, kenapa dia tak pernah mengungkapkan perasaanya padaku?” Kata – kata yang sering menghinggapi pikirannya dalam kebingungan.

“Kal, does this relationship mean something for you?” Tanya Zhinu dengan nada suara rendah dengan tatapan penuh pengharapan untuk dijawab.

Tepat di hari minggu yang lalu, Zhinu akhirnya menemukan keberanian untuk menarik pelatuk pertanyaan tajam agar tercipta sebuah kondisi yang diinginkannya. Raut wajahnya menyiratkan keseriusan. Haikal yang tengah terdiam langsung menatap kearah Zhinu, dan akhirnya memandang ke atas langit. Kalau bisa, dia ingin berlari sekuatnya menuju hall tempat dia tinggal, lalu menghabur masuk ke dalam kamar, menghepaskan tubuh ke atas kasur dengan menutup kedua telinga dengan bantal dalam – dalam hingga tak bisa mendengar pertanyaan itu dari mulut Zhinu. Dadanya berdegup kencang, firasatnya selama ini terjawab sudah, Zhinu akhirnya meminta kepastian dari dirinya. Haikal sangat paham, pertanyaan ini tidak akan menjadi pertanyaan terakhir dari Zhinu, sudah ada puluhan bahkan ratusan pertanyaan yang sudah ada dalam benak Zhinu, siap keluar saat jawaban yang diberikan Haikal tak sesuai yang diharapkan Zhinu. Kebanyakan pertanyaan akan diawali dengan kata Why? Why? Why? Begitulah. Tapi, menunda jawaban tidak akan menyelesaikan masalah. Penundaan hanya akan menambahkan menit dalam sebuah bom waktu, itu tidak akan membuatnya berhenti untuk meledak. Haikal akhirnya berjanji pada Zhinu untuk memberikan jawabannya nanti pada saat musim gugur datang menghampiri kota terbesar ketiga di Inggris ini, Manchester – hari ini.

“Are you going to say something or I am leaving now?” Zhinu memecahkan keheningan dalam pikiran Haikal. Kedua anak kecil dan Ibu itu sudah berlalu, seharusnya mereka lebih lama lagi disini untuk menunda waktu selama mungkin bagi Haikal.

Setiap keluarga di Cina sekarang hanya diizinkan memiliki satu orang anak saja. Tidaklah mengherankan mengingat jumlah penduduknya yang sudah meledak – meledak, hingga menjalar ke luar negeri. Sisi baiknya, para orang tua di Cina mempersiapkan dengan baik pendidikan untuk anak tunggalnya. Mereka rela banting tulang, kerja siang malam, demi menguliahkan anak satu – satunya ke luar negeri seperti yang terjadi pada Zhinu. Disisi lain, anak – anak tunggal ini merasa kesepian, jauh dari keluarga dan tak punya saudara kakak atau pun adik seperti teman – temannya di kampus. Demikianlah, memiliki seorang pasangan kekasih bisa menutupi rasa kekurangan yang dirasakannya.

“Zhinu … this relationship means … nothing for me,” suara Haikal sedikit terbata mengutarakan jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh Zhinu minggu lalu.

Tak pelak, tatapan dingin Zhinu mengarah tajam pada wajah Haikal yang tertunduk. Haikal ingin melanjutkan lagi jawabannya, tapi Zhinu segera melemparkan pertanyaan selanjutnya, persis seperti tebakan Haikal minggu lalu – setiap jawaban yang tak sesuai dengan keinginan Zhinu akan selalu dipertanyakan, kenapa?

“Why? Because I am not a moslem?” Zhinu tak melepaskan pandangan dinginnya dari wajah Haikal saat meluncurkan pertanyaan ini. Sekarang Haikal yang terperangah! Matanya segera menangkapi sosok wajah Zhinu yang bertanya. Tatapan mereka beradu sesaat, kemudian Haikal menarik pandangannya, melemparnya pada dedaunan maple yang asik menari – nari dengan hembusan angin.

Zhinu bukanlah seorang perempuan bodoh yang tak memahami resiko dari mendekati seorang pria muslim. Haikal seharusnya mengetahui hal ini. Berbicara soal agama, tak jauh beda dengan kebanyakan orang Cina asli lainnya, Zhinu tak beragama, menganut paham komunis mengikuti negaranya. Dia mengakui akan keberadaan Tuhan, seperti penganut Atheis dan pemimpin komunis Mikhail Gorbachev yang tersentak berteriak ‘Oh, my god!’ ketika menyaksikan satu pesawat meledak dalam peragaan sebuah hari perayaan, namun dia tak hendak mengikatkan dirinya pada satu agama apapun. Inilah tembok besar Cina yang terlihat jelas dihadapan Haikal tak terbantahkan.

“Yes. I guess you have learned about my religion.” Jawab Haikal tangkas. Dia tak perlu lagi berkelit merangkai seribu kata kesana kemari agar jawabannya diterima, karena yang dihadapinya bukan seorang perempuan kembang desa terpencil yang tak mengerti makna sebuah kata penolakan.

Kemudian, Zhinu mulai membantah Haikal, dia membawa contoh teman – temannya yang beragama Islam, tapi menjalin hubungan dengan perempuan yang beragama Kristen dan Hindu. Mereka bahkan hidup bersama dalam satu tempat tinggal yang biasa disebut cohabitation – tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. Dengan cara ini mereka dapat menekan pengeluaran hidup sehari – hari, serta dapat hidup nyaman bersama tanpa harus merasa kesepian menahan dinginnya cuaca malam dibawah langit Manchester. Bahkan, orang – orang keturunan arab tak sedikit ditemui Zhinu di bar – bar memeluk perempuan – perempaun seksi dengan seenaknya. Lalu kenapa itu tidak boleh untuk mu Haikal? Bukankah mereka juga muslim? Begitulah argumen yang disusun rapi oleh Zhinu sebagai upaya untuk merubah jawaban yang diberikan Haikal tadi. Sebuah jawaban yang sudah diperhitungkan oleh Zhinu jauh – jauh hari.

“You can’t say they’re doing Islamic thoughts just because they say they’re Moslems or Arabians, Zhinu …!”

Haikal, menunjuk ke arah pohon maple yang hampir habis daunnya, dan memberitahu alasan kenapa dia memilih untuk memberikan jawaban pada Zhinu disaat musim gugur. Sebagian besar pohon akan menggugurkan dedaunan yang dimilikinya dimusim gugur. Bukan karena dipaksa, bukan karena rekayasa, melainkan karena kesadaran diri akan pentingnya mengikuti alur yang kehidupan yang sudah digariskan oleh Ilahi. Pepohonan ini akan tampak seperti kerangka mati yang tak pernah hidup sama sekali setelah menggugurkan semua daun – daunnya. Kondisi ini meringankan bebannya dalam melewati musim dingin yang dipenuhi salju nanti. Namun, setelah itu, sebagai imbalan atas keikhlasannya itu, Tuhan akan menggantikannnya dengan dedaunan yang baru, mudah dan tak kalah hijaunya dengan dedaunan sebelumnya. Tak hanya itu, bunga – bunga akan mulai bermekaran mengundang kumbang untuk hinggap membantu melancarkan proses pertumbuhan dan perkembang biakan mereka. Itulah yang akan Haikal lakukan pada Zhinu – membuatnya mengerti bahwa cinta adalah rahmat Tuhan, dan karenanya harus disandarkan pada ajaran-Nya bila tak ingin tersesat dalam birahi syaithoni belaka.

“Zhinu … love is nothing without God’s mercy. I don’t want to force you to embrace Islam, but I do hope you will find a way to embrace Islam.”

Haikal menyadari, situasi yang dihadapinya sekarang tercipta karena kelalaian dalam menjaga batas pergaulan. Terlalu banyak waktu berdua-duaan yang dilakukannya bersama Zhinu hingga setan leluasa mempengaruhi pandangan dan pikirannya. Keberadaan yang jauh dari negeri pertiwi bukanlah alasan untuk melepaskan semua ajaran – ajaran agama yang telah melekat sejak usia dini. Sebagai konsekuensinya, Haikal harus segera menggugurkan perasaannya terhadap Zhinu, layaknya dedaunan maple yang tengah berguguran di tanah. Tembok besar Cina itu tak mungkin diterobosnya, dan mengungkapkan perasaan cintanya pada Zhinu yang sudah terlihat memiliki itu. Haikal yakin, setelah musim gugur ini, perjalanan masih akan berat karena tidak mudah melupakan gadis penenun ini. Tapi keyakinannya kuat, musim semi telah menantinya disana, menyajikan semua rahmat Tuhan yang sekarang didambakannya. Dia tak tahu apakah musim semi itu akan dihabiskannya bersama Zhinu ini yang telah berubah atau Zhinu lainnya pilihan Allah. Dia hanya bisa berdo’a, semoga musim gugur ini membawa perubahan dalam dirinya untuk lebih berhati – hati dalam melangkah, mulai beranjak dari cinta birahi menuju cinta Ilahi.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: sdsafadg I Twitter @01_budi | Instagram: sdsafadg

Advertisements

18 Comments

  1. keren banget mas… like based on true story… cerita tentang pria muslim yang hampir menjadi bunglon tapi akhirnya tetap menjadi ikan di lautan karena sadar akan makna cinta sebernya… 🙂

    Liked by 1 person

  2. Waw. Kk Budi, setahu aku, setiap fiksi itu adalah imajinasi dari kenyataan yang pernah kita alami. 😉
    Keren cerita Kakak. 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s