Siswa Tangguh! Ibu Rumah Tangga Belajar TOEFL…

Bersama Putri saya Kayyisa (Foto: Anandita)
Bersama Putri saya Kayyisa (Foto: Anandita)

Halo, siswa tangguh!

Kenapa siswa tangguh? Karena saya yakin setiap siswa di Sekolah TOEFL ini pasti memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada pelajar, mahasiswa, pekerja, pengusaha, dan ibu rumah tangga. Pada intinya, kesemuanya pasti dengan tangguh berjuang untuk satu tujuan : mendapat golden ticket. Ya, saat ini berbagai macam uji kemampuan bahasa inggris, salah satunya TOEFL, layaknya golden ticket yang mutlak harus kita miliki. Bukan sembarang golden ticket, karena setiap institusi pasti menetapkan minimum score yang harus dipenuhi untuk tiap uji kemampuan ini. Jadi, dengan latar belakang yang berbeda-beda, tentunya tantangan yang dihadapi juga berbeda-beda untuk tetap bisa fokus dan disiplin belajar TOEFL sesuai target score-nya.

Perkenalkan, saya Anandita Rizki, salah satu siswi Sekolah TOEFL yang masuk ke dalam kategori ibu rumah tangga. Saya sudah menikah sejak awal kuliah dan memiliki anak sekitar semester 5. Tahun lalu saya lulus dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Pernah berstatus sebagai seorang student mom, saya merasakan sendiri bagaimana hectic-nya membagi waktu antara belajar dan berkeluarga. Bagi pekerja kantoran, tanggung jawab pekerjaan terbatas pada jam kerja – yah sekitar 8 jam per hari. Namun, bagi seorang Ibu – baik yang bekerja ataupun tidak bekerja – tanggung jawab menjadi seorang Ibu tidak terbatas : 24 jam per hari! Kami harus siap siaga setiap saat untuk keluarga, terutama untuk anak-anak. Apalagi hidup berkeluarga itu memang lebih rumit daripada hidup berorganisasi di kampus. (Tapi tenang aja…ga bakal serumit mengurai benang kusut kok, hehe). 

Sedihnya, masih saja ada yang berpendapat bahwa segala kesibukan sebagai seorang Ibu adalah penghalang dalam menempuh pendidikan. Padahal, sependek pengetahuan saya, banyak student mom yang akhirnya berhasil menempuh pendididikannya hingga selesai. Tapi juga tidak sedikit student mom yang memilih untuk menyerah – tidak menyelesaikan pendidikannya. Saya sangat mengerti bahwa kebanyakan student mom memang susah untuk mengalokasikan waktunya khusus untuk belajar. Bagaimana tidak? Setelah sibuk mengerjakan pekerjaan rumah dan mengasuh serta merawat anak – apalagi ditambah bekerja – ‘baterai’ kami sudah nge-drop ketika malam datang. Hehe.

Saya tidak mau ikut campur dalam pengambilan keputusan para student mom : menyerah atau tetap berjuang hingga selesai. Tapi hal yang saya sayangkan adalah ketika keluarga dijadikan beban yang memberatkan langkah para student mom untuk tetap berjuang menyelesaikan pendidikannya. Saya berusaha menyeimbangkan keluarga dan kuliah, dengan tetap memprioritaskan keluarga. They said : “Where there is a will, there is a way.” Saya percaya ini. Be determined! Alhamdulillah, selalu ada jalan. Termasuk ketika kuliah, saya diijinkan menggendong anak sambil presentasi di kelas ekonometrika. (Terimakasih, Pak Edhie Purnawan.)

Foto Wisuda bersama keluarga (Foto: Anandita)
Foto Wisuda bersama keluarga (Foto: Anandita)

Tiap orang pasti punya impian – pun bagi seorang ibu. Sedihnya lagi, banyak ibu yang lantas mengesampingkan atau bahkan mengubur dalam-dalam impiannya.  Padahal impian harus disertai dengan tindakan nyata agar menjadi sebuah cita-cita yang dapat terealisasi. Tentunya impian setiap orang berbeda-beda. Untuk kasus saya, saya merasa tidak cukup hanya lulus kemudian menyia-nyiakan ilmu ekonomi yang sudah saya pelajari selama kuliah S1. Saya senang berada di lingkungan akademisi. Saya senang dengan semangat para akademisi untuk terus belajar mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Saya memiliki cita-cita untuk dapat mengaplikasikan ilmu yang saya miliki agar dapat mendatangkan manfaat bagi orang banyak – bagi bangsa dan negara. Untuk itu, saya ingin menjadi dosen untuk dapat mewujudkan cita-cita saya ini.

Tentunya, saya harus terlebih dahulu menempuh pendidikan S2 untuk menjadi dosen. Golden ticket harus saya pegang untuk mengajukan aplikasi S2 dan beasiswa. Impian saya adalah kuliah di luar negeri. (Ketertarikan saya dengan negara lain bermula sejak kecil. Ketika SD, saya rajin menyurati kedutaan besar negara-negara lain yang ada di Indonesia dalam bahasa Inggris. Senangnya, mereka mau membalas surat saya ditambah memberikan ‘bonus’ beberapa buku tentang negara mereka. Dari buku-buku inilah saya mengetahui banyak hal tentang negara mereka.) Karena target universitas saya adalah universitas di Inggris yang durasi perkuliahannya relatif lebih singkat dibanding negara lain, maka saya harus mengikuti ujian IELTS sebagai bukti kemampuan bahasa inggris saya. Ketika itu, saya memiliki waktu belajar IELTS sekitar 5 bulan sebelum ujian IELTS saya yang jatuh pada tanggal 6 Juni 2015. Selama itu, saya sudah mempersiapkan diri dengan ikut kelas persiapan IELTS di suatu lembaga bimbingan belajar di Jogja, kelas privat khusus, juga self-study. (Tentunya berbayar.) Tapi entah kenapa saya merasa belum puas dengan segala persiapan yang sudah saya lakukan ini.

Hingga akhirnya di bulan Mei, sekitar sebulan sebelum jadwal ujian IELTS, saya melihat pengumuman tentang adanya Sekolah TOEFL yang digagas Mas Budi Waluyo dan Komunitas Pemburu Beasiswa Malang. Saya sudah lama mengikuti twitter Mas Budi sehingga mengetahui Mas Budi ini termasuk high-qualified teacher dengan melihat kualifikasi pendidikan master dan doktor yang ditempuhnya. Tanpa pikir panjang lagi, saya segera mendaftar sebagai siswi di Sekolah TOEFL. Waktu itu, saya sadar bahwa saya harus punya plan B dalam hal uji kemampuan bahasa inggris. Saya tetap berharap hasil ujian IELTS saya memenuhi minimum score untuk aplikasi universitas dan beasiswa, tapi saya pikir tidak ada salahnya menjadikan TOEFL sebagai plan B saya apabila hasil IELTS tidak memuaskan. Bagi saya, Sekolah TOEFL dengan pengajar yang berkualitas sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.  Apalagi jadwal belajarnya yang fleksibel sehingga dapat bebas disesuaikan dengan kesibukan saya. Selain itu, atribut ‘gratis’ tetap jadi primadona untuk mind set ibu-ibu seperti saya 🙂

Awalnya saya cukup skeptis dengan teknis pengajarannya, mengingat sistem belajar online dengan jumlah siswa yang mencapai ribuan orang pasti sulit dikelola. Apalagi seluruh pengelola dan pengajarnya menyeleggarakan Sekolah TOEFL atas dasar sukarela. Pasti butuh komitmen yang sangat tinggi untuk dapat menjaga keberlangsungan Sekolah TOEFL ini. Apabila tidak dikelola dengan baik, maka banyak orang tidak akan bisa memaksimalkan manfaat yang didapat. Setelah beberapa hari, saya menemukan nama saya dalam daftar siswa Sekolah TOEFL. Senang dan antusias. Beberapa hari kemudian, dijelaskan sistem pengajaran yang berlangsung. Walau beberapa kali mengalami perombakan sistem belajar, hal ini malah mencerminkan jika para pengelolanya memang benar-benar serius dalam meningkatkan kualitas Sekolah TOEFL, dengan tujuan agar para siswa dapat memaksimalkan manfaatnya. Begitu melihat materinya, saya juga senang karena materi yang diberikan Mas Budi sangat runtut dan mudah dipahami, benar-benar langsung ke penguasaan skill untuk mengerjakan soal-soal TOEFL. Ditambah lagi, Mas Budi dan juga pengelola Sekolah TOEFL dari Komunitas Pemburu Beasiswa Malang benar-benar mendedikasikan waktunya untuk ‘melayani’ siswa Sekolah TOEFL. Top!

Saya – sebagai seorang Ibu – harus pintar-pintar ‘mencuri waktu’ di tengah-tengah kesibukan saya. Bagi sesama murid yang juga berstatus sebagai seorang Ibu, pasti tahu bahwa ‘pekerjaan’ sebagai seorang Ibu tidak akan selesai-selesai. Ada saja yang harus dikerjakan dalam 24 jam. Bagi yang belum berumahtangga, lihat saja Ibu kalian. Sejak subuh sudah mulai sibuk memasak sarapan, menyiapkan anak sekolah dan menyiapkan keperluan suami sebelum berangkat kerja. Setelah anak-anak dan suami pergi, pekerjaan kami belum selesai begitu saja. Saya masih berkutat dengan pekerjaan rumah : memasak untuk makan siang dan malam, mencuci piring, mencuci baju, menjemur, menyetrika, merapikan dan menyapu rumah, dan sebagainya. Menjelang siang, saya menjemput Kayyisa pulang sekolah. Setelah itu, menggantikan baju, cuci tangan dan kaki,  membuatkan susu, dan menemaninya bermain.

Beberapa saat kemudian, sekitar jam 12 saya mulai menyiapkan makan siang. Kayyisa seringnya minta disuapin. Terkadang sambil main dengan teman sebayanya. Jadi proses ‘suap-menyuap’ ini bisa berlangsung lebih lama – sekitar setengah hingga satu jam. Setelah selesai, saya harus ‘ngeloni’ (menemani tidur) Kayyis. Bagi kebanyakan ibu-ibu, proses ini adalah proses yang paling berat. Karena bisa jadi setelah berlangsung hingga dua jam ngeloni, anak tidak juga mau tidur. (Padahal mata ibu sudah setengah watt, hehe.) Menjelang sore, waktunya memandikan anak. Menjelang maghrib, mulai  menyiapkan makan malam anak, menemani belajar baca dan iqro’, hingga ritual tidur : minum susu, gosok gigi, bacakan buku cerita, ngeloni. Terkadang saya juga ikut tertidur. (Jadi, maafkan saya kalau kadang ga muncul di temu online di Facebook. Tapi saya selalu pantau postingan dan komen-komen di Whatsapp juga group Facebook. Kadang scroll up-nya juga lama karena harus baca komen puluhan.)

Saya menyebutnya meja perjuangan - lengkap dengan amunisi notebook dan buku besar saya (Foto: Anandita)
Saya menyebutnya meja perjuangan – lengkap dengan amunisi notebook dan buku besar saya (Foto: Anandita)

Saya bercerita tentang kegiatan seorang ibu untuk memberikan gambaran pada kawan-kawan bagaimana susahnya mengalokasikan waktu bagi seorang ibu untuk belajar. Kalau orang normal tidur 6 jam per hari, untuk bisa belajar, seorang Ibu harus berusaha lebih keras. Being a mother and a student is challenging! Belajar tidak bisa di sambi dengan melakukan kegiatan lain. Bagi saya, belajar harus fokus. Jadi saya memilih untuk tidur sekitar 4-5 jam per hari dan bangun di pagi hari (sekitar jam 2) agar bisa fokus belajar selama dua jam per harinya. Belajar materi sekolah TOEFL juga seperti itu. Saya ada di kelas 450 yang jadwal tugas belajar mingguannya lebih lambat dibanding dengan kelas lain. Karena memang ingin ngebut belajar TOEFL  agar bisa segera mengajukan aplikasi beasiswa LPDP, jadi saya harus berusaha lebih keras lagi. Tugas mingguan kelas lain saya kerjakan. Jadi saya tidak perlu menunggu temu online selanjutnya. Saya cukup melihat dan mencocokkan jawaban exercise di luar jadwal minguan kelas saya pada bagian rangkuman temu online.

Ketika belajar, materi yang sudah saya pelajari saya tulis ulang dalam bahasa saya di sebuah buku besar. Begitu juga dengan Exercise dan Question of The Day. Dengan cara ini, saya lebih efektif belajar. Jika ada pertanyaan di exercise skill lanjutan yang terkait dengan skill sebelumnya, saya tinggal membuka kembali buku besar ini. Dengan beberapa kali pengulangan membaca materi skill tertentu, saya lebih mudah mengingatnya. Ketika waktu luang di siang atau sore hari, kadang saya menyempatkan untuk menulis ulang exercise di buku besar. Perilaku belajar saya ini sering ditiru Kayyisa. Dia membuka notebook dan menulis-nulis sesuatu di bukunya. Pernah suatu hari, buku besar saya yang ditulisinya. Hehehe. Saya tidak marah, hanya tersenyum geli.

Untuk kawan sesama siswa tangguh yang membaca kisah saya ini, semoga dapat mengambil hikmahnya, semoga dikabulkan keinginan, impian, dan cita-citanya, aamiin. Untuk Mas Budi dan pengelola dari Komunitas PB Malang, saya ingin quote kata-katanya Pak Anies Baswedan : “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai, tetapi karena tidak ternilai.” Semoga Sekolah TOEFL tetap ada dan memberikan banyak manfaat bagi anak bangsa 🙂

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: sdsafadg I Twitter @01_budi | Instagram: sdsafadg

Advertisements

18 Comments

  1. Hi mba Anandita… Inspirasi banget! Semangat Mba Anan sungguh memotivasi kita untuk lebih belajar dengan baik. Jangan pernah lengah oleh waktu karena sedetik itu pun berharga banget… Terima kasih ya mba sharingnya…

    Salam dari Medan.
    Tanty

    Liked by 1 person

    1. Hi Mbak Tanty 🙂
      Saya juga senang membaca tulisan mbak Tanty, jadi sama sama saling menyemangati lewat tulisan. Btw, sampai sekarang pun saya terus belajar bagaimana mmengatur waktu. Kadang-kadang kita suka menunda-nunda melakukan sesuatu di waktu luang, padahal kita tidak tahu apakah kita masih diberi rezeki berupa waktu luang dan kesehatan untuk melakukannya.

      Like

  2. Perjuangan yg luarbiasa..
    Hingga saya menitikkan air mata membacanya..
    Semangat mama kayyisa!!
    Seorang ibu tentu berkeinginan utk belajar dan belajar trs.. karena ibu adalah madrasah bagi anak2nya..
    Semoga segala ingin diridhoi oleh Allah, lanjut S2 ke uk bersama keluarga dg pembiayaan dr LPDP ya bu.. amin ya rabbal alamin

    Liked by 1 person

    1. Halo, Mbak Anind! 🙂
      Saya jadi malu, Mbak. Perjuangan saya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan teman-teman lainnya. Saya yakin masih banyak yang perjuangannya lebih gigih dalam meraih impiannya.
      Hal yang ingin saya tekankan disini adalah tiap Ibu berhak mengusahakan impiannya, terutama terkait dengan pendidikan. Toh dengan naluri sebagai seorang Ibu yang tetap memprioritaskan keluarga, saya yakin Allah akan ridho sehingga segala urusan akan dipermudah oleh-Nya.
      Terimakasih doanya, Mbak Anind. Semoga Mbak Anind sukses dunia akhirat, aamiin.

      Like

  3. WOW… “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai, tetapi karena tidak ternilai.”.. sngat mnyentuh kata-katany kakak,,, jdi bangga juga sbagai relawan n tambah brsemangat mngikuti sekolah toefl ini.. #walau cuman bisa ngerjain tugas mingguan,, ikutin temu online n koreksi tugas serta QOTD.. hehehe

    Liked by 1 person

  4. Pertama kali baca kata-kata Pak Anies ini, saya juga langsung jatuh hati. Eh, kok ‘walau’ sih? Kamu rajin sekali seagai siswi sekolah TOEFL! 🙂 Terus semangat, Lolita!

    Like

  5. wah menarik. saya juga ingin ikut, tapi punya satu pertanyaan.

    semua kegiatan mbak Anandita bertujuan untuk satu, ikut ujian IELTS dengan hasil yang diharapkan. terus hasil ujian IELTS nya berapa? tercapaikah target hasil belajar bersama mas Budi, atau malah melebihi ekspektasi?

    salam

    Like

    1. Sampai hari ini hasil IELTSnya belum keluar 🙂
      Oya, saya sama mas budi tidak belajar IELTS, tp TOEFL. Karakteristuk ujian IELTS dan TOEFL berbeda. Lagipula, ketika ujian IELTS, sekolah TOEFL baru mulai di skill awal.

      Like

    2. Oya..satu lagi. saya senang belajar. apapun. sambil menunggu kesempatan bisa kuliah lagi, saya sering belajar dg sistem MOOC via coursera, futurelearn, dan edX. Jadi maksud tulisan saya bisa digeneralisasi. Saya tidak hanya belajar IELTS 🙂

      Like

  6. Kemampuan berbahasa inggris memang saat ini merupakan kebutuhan yang wajib untuk dipenuhi. Tak hanya pelajar, orang tua juga perlu belajar bahasa inggris. Sebagai ibu rumah tangga, saya juga ingin mendidik anak-anak saya agar dapat lancar berbahasa inggris, makanya saya memulai belajar bahas inggris semenjak saya memutuskan untuk memiliki anak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s