Kesasar ke Hongkong.. My Second Chance..!

(Foto: Fitri Indah Kumala)

Haiiii…… perkenalkan namaku Fitri Indah Kumala biasa di panggil Fitri. Aku berasal dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Aku anak kedua dari empat bersaudara dan aku perempuan satu satunya  dan aku juga salah satu siswi dari program Sekolah TOEFL yang di dirikan oleh mas Budi Waluyo dan PBEC Malang. Oh ya.. aku mau cerita sedikit mengenai kisahku bagaimana aku bisa “kesasar” di Hongkong.. cekidot 😀

Bulan November tahun 2013, aku masih tercatat sebagai salah satu mahasiswi semester 3 Fakultas Ekonomi di PTS ternama di Malang. Ya, kejadian bermula keluarga kami mengalami kebangkrutan di tambah konflikku dengan teman kuliah yang kebetulan kami berada di satu tempat kost. Ceritanya, hari Senin, 11 November 2013 ba’da maghrib aku meminjam motor teman, untuk ada kepeluan mengantar orderan baju. Aku dulu kuliah sambil jualan online. Singkat cerita, motor itu hilang di parkiran kostan saat aku tinggal sholat Maghrib.

Seketika aku panik lalu langsung lapor ke polisi. Kejadian yang sangat membuat aku shock berat, bingung, blank seperti terhempas badai yang begitu kencang di tambah lagi kala itu temanku menuntut uang ganti rugi senilai 10 juta. Kala itu aku benar- benar bingung musti ngapain, akhirnya dan dengan perasaan campur aduk, aku beranikan untuk menelpon orang tuaku di Banyuwangi.. tangis pun pecah, histeris akhirnya malam itu juga orang tuaku datang ke Malang, menempuh Banyuwangi – Malang sekitar 5 jam.

Tepat jam 5 sore orang tuaku berangkat dan pukul 12 malam orang tuaku sampailah di Malang, betapa shock nya kedua orang tua dan kami pun hanya bisa menangis, di tengah tekanan teman saya yang ngotot menuntut ganti rugi 10 juta. Gila kan, kondisi motor kredit masih 6 bulan dia semena-mena menuntut uang ganti rugi akhirnya kita berunding dan belum ada titik temu, akhirnya ibuku memutuskan untuk membawaku pulang ke Banyuwangi. Aku udah blank.. udah gak mikir lagi mengenai kuliah. Dan sejak saat itu aku memutuskan berhenti. Karena memang kondisi benar-benar sangat tidak memungkinkan aku tahu persis mengenai kondisi keuangan keluargaku; ayahku bangkrut belum lagi mengenai tuntutan uang ganti rugi perihal motor. Tetapi, diam-diam orang tuaku menaruh kecurigaan mengenai kasus ini, ya aku nggak bodoh main transfer uang. Selama aku pulang di Banyuwangi. kami masih terus menyelidiki kasus motor itu.

Ada satu hal yang membuat aku benar-benar down, yaitu ketika melihat ayahku sempat sakit satu minggu, beliau sangat terpukul dengan kejadian ini, dimana impian beliau hancur begitu saja, yah ketika harapan satu satunya ayahku terletak padaku, ketika beliau mempunyai kebanggaan tersendiri saat bisa menguliahkan ku. Di tengah carut marutnya keadaan kami saat itu, akupun juga hanya bisa terdiam sembari memikirkan suatu hal; terpikir satu jalan keluar. Namun, aku tidak begitu yakin karena keputusan ini sangatlah berat. Saat itu aku terus berusaha menguatkan tekadku. Sasanya semakin muak ketika selalu merasa tersingkirkan; aku tersadar, akulah pemeran utama dalam kejadian itu.

Suatu hari ibuku bertanya kepadaku apa yang akan kulakukan karena sudah jelas aku berhenti dari kuliah. Aku menjawab sembari meminta restu akan keputusanku itu. Aku memutuskan untuk menjadi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hongkong. Betapa sedihnya ibu mendengar aku berkata seperti itu, dan raut wajahnya begitu sedih yang pernah kulihat. Tanpa terasa air mataku jatuh, dan aku tersungkur dipangkuannya sembari berkata bahwa hanya itu satu satunya solusi, tidak ada yang lain lagi. Akhirnya, dengan semua pertimbangan dan aku berusaha  menguatkan mental, ibukupun memberikan restu, tetapi tidak dengan ayahku, beliau hanya bisa diam tanpa berkata apapun; aku paham apa yang dirasakan beliau.

Aku mulai mencari-cari informasi mengenai jasa penyalur BMI. Aku mempunyai kerabat dan beliau sudah banyak pengalaman ketika di Hongkong betapa gembiranya aku ketika curhat mengenai apa yang sedang menimpaku saat itu dan beliau berkata bahwa para BMI pun di Hongkong juga bisa sambil kuliah. Pantas saja berkat informasi tersebut ayahku pun akhirnya memberi restu. Ya, semenjak itu akupun bertekad bahwa meskipun statusku BMI, tapi studiku tak boleh berhenti!!!. Dan aku yakin itu semua pasti akan terjadi.

Aku mulai mengurusi prosesnya. Oh ya, aku dan orangtuaku bersepakat untuk menutupi kepergianku ke Hongkong karena aku takut ketika orang tuaku semakin down dengan hujatan para kerabat dan tetangga. Jadi, selama aku berproses ke Hongkong aku sengaja menutup diri dari orang orang terdekat dan benar saja karantinaku sangat ketat aku benar-benar terbatas berkomunikasi dengan dunia luar, jujur saja hanya kedua orang tuaku yang mengetahui tentang keberadaanku kala itu. Aku juga sengaja mengganti nomor hp dan menutup semua akun sosial mediaku. Karena aku bertekad untuk fokus mengenai kepergianku ke Hongkong.

Aku masuk Karantina terhitung sejak 2 desember 2013 sampai 03 Juli 2014 ya,, banyak sekali pelajaran yang bisa ku ambil dari beberapa pelatihan selama aku berada di karantina aku banyak belajar mengenai arti “kesabaran” dan “keikhlasan”. Ketika aku masih berada di dalam lingkungan rumah, aku selalu merasa bahwa akulah orang yang paling menderita di dunia ini, dan masalahku lah yang teramat besar disini, ternyata aku salah besar ketika aku melihat para mbak mbak bahkan ibu-ibu yang sangat luar biasa masalah mereka justru jauh lebih besar daripada masalahku. Ya sejatinya setiap orang mempunyai masalah masing masing namun, kadang mereka memilih seolah olah merasa bahagia hanya karena mereka tidak ingin orang lain mengetahuinya lalu merasa iba.

Proses demi prosespun aku lewati, mulai dari medikal, pembuatan passport, pelatihan bahasa, pelatihan skill dan lain lain. Oh iya, kembali ke kasus motor sembari aku dalam Karantina ternyata keluargaku juga masih menyelidiki kasus motor itu. Alloh maha kuasa dan Allohlah yang akhirnya menunjukkan kebenaran nya. Motor itu ternyata tidak hilang, temanku (fake friend) ternyata dia sengaja menjebakku karena kondisi yang sebenarnya terjadi dia udah nunggak 2x cicilan dan karena aku yang lumayan sering minjem motornya dia, makanya mudah banget untuk jadi sasaran nya dia (kasiannn banget deh aku), tapi ya sudahlah aku mengikhlaskan semua itu.

(Foto: Fitri Indah Kumala)
(Foto: Fitri Indah Kumala)

Alloh maha adil; ibarat pepatah siapa yang menabur dia pasti menuai, kurang lebihnya seperti itu. Akhirnya, setelah sekian lama proses yang kujalani tibalah saatnya masa yang d tunggu tunggu yahhh tepat 7 bulan lamanya aku melalui masa karantinaku, tepat 04 juli 2014, aku berangkat ke hongkong. Iya pertama kali dalam hidupku ketika aku menginjakkan kaki di negeri orang perasaan haru, bahagia, lega setelah kepaitan yang selama ini selalu menghantui kini lenyaplah sudah, dan aku terus melangkah berfokus ke depan. Dan selama aku di hongkong alhamdulillah akhirnya masalah satu per satupun selesai.

Alhamdulillah, setelah sekian lama akhirnya kepahitan itupun berbuah manis ya, kehidupan keluarga kamipun sekarang berubah menjadi lebih baik, di tambah lagi “the second chance for me has coming” yups  akhirnya aku juga bisa membuktikan bahwa studiku masih berlanjut tepatnya juli 2015 akhirnya aku resmi menjadi mahasiswa (lagi) setelah terkatung katung lamanya semenjak tragedi nopember 2013. Ya jadi, pemerintah hongkong bekerja sama dengan pemerintah Filipina dan Indonesia untuk membantu kami, para BMI yang putus sekolah maupun kuliah, termasuk saya salah satunya jadi jadwal kuliah kami disesuaikan dengan jadwal off day tiap minggunya. Jadi,kami kalau weekday kami bekerja, sedangkan weekend, kami kuliah.

Oh iya, aku juga mau sedikit berbagai pengalamanku selama ikut Sekolah TOEFL dan bagaimana cara membagi waktu belajar di tengah tengah kesibukan kerja. Selama ini di Sekolah TOEFL aku sih lumayan banyak kesulitan soalnya setiap hari aku menggunakan bahasa Cantonese, sedangkan di Sekolah TOEFL harus paham mengenai structure sentence, verb, tense  de el el jujur sih kebanyakan Cantonese beberapa english malah ikutan luntur jadi, ya kadang loadingnya lumayan lama, hehe J. Aku bisa jawab QOTD curi curi waktu pegang hp untung aja sih rumahku tanpa CCTV jadi lumayan aman.

Pelajaran bisa diambil dari cerita saya adalah jangan pernah berputus asa akan pertolongan Alloh memang, jalan tuhan itu bukan yang termudah bukan juga yang terindah namun, sudah jelas pasti yang terbaik. Dulu, kuliah di luar negeri itu merupakan hal yang sangat mustahil bagi ku tetapi, sekarang hal itu benar benar terjadi dengan proses yang sangat sulit memang tapi kan itu memang harga yang harus di bayar demi sebuah kesuksesan,  oh iya cerita sedikit ketika aku dulu mempunyai impian, banyak loh yang menertawakanku, ketika aku aktif di UKM yang notabene sebagai penambah skill aku eh malah aku di ledekin dengan sebutan kemenggres (dalam bahasa jawa yang berarti sok pinter bahasa inggris) tapi ya udah cuekin aja. Toh masa depan kan kita sendiri yang menentukan bukan orang lain. So, salam semangat untuk kita semua, ”prepare for the worst, ready for the best”, right??? 🙂

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | BBM 7DCB0622 | Line ID: sdsafadg | Twitter @01_budi | Instagram: sdsafadg

Advertisements

13 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s