Jadi Orang Bodoh itu..

Jadi orang bodoh itu sungguh tidak enak, beneran.. saya sudah mencobanya sendiri. Masuk SD di usia 6 tahun, tanpa ada kakak dan ayah yang bisa mengajari pelajaran sekolah. Saya ingat pernah diminta untuk maju ke depan meja guru bersama seorang teman, kemudian diminta untuk membaca dua buah buku yang sama. Saya belum bisa membaca waktu itu, tapi ibu guru ini terkenal sangar, jadi tidak mungkin mengaku. Tahu apa yang saya lakukan? Saya gerakkan tangan dan jari telunjuk saya di buku sambil mata melirik ke samping teman yang sedang membaca; mulut saya komat kamit mencoba menirukan suara teman saya yang disamping yang lancar membaca. Ya salam.. Ini pun masih menunjukkan betapa bodohnya saya berpikir kalau ibu guru tidak akan mengetahui, padahal dia duduk tepat di depan meja tempat saya berdiri. Matanya melotot,.. mistar panjang pun mendarat di dua telapak tangan saya setelahnya. Uhh..

Sistem pendidikan sekolah saat itu menerapkan tiga catur wulan. Di akhir catur wulan pertama, saya menerima raport dan ya salam.. merah empat. Di catur wulan berikutnya, alih-alih berkurang, merah saya malah bertambah menjadi lima. Di lingkungan tempat tinggal saya, setiap kali waktu bagi raport tiba itu bisa berarti dua hal: pertama, akan riang bahagia dapat hadiah karena raportnya bersih dari merah, atau yang kedua, tidak boleh ke luar rumah bermain dan pastinya sudah ‘nanggung’ dahulu dirumah di pukul orang tua. Ketika saya bilang ‘di pukul’ disini berarti dipukul beneran sampai suara si anak kedengaran sampai keluar. Jadi, setiap sesudah bagi raport siangnya, itu pasti ketahuan siapa yang merah banyak atau bahkan tidak naik kelas, terdengar saja suaranya dari luar rumah, sampai ada teman yang sengaja tidak pulang kerumah langsung, menunggu sore, walaupun akhirnya di pukul juga. Uhh..

Alhamdulillah, di caturwulan ketiga merah saya dua; jumlah maksimal merah untuk bisa naik kelas. Kalian mungkin tidak bisa merasakan betapa leganya saya waktu itu, tapi kalian juga tidak tahu bagaimana perjuangan saya hingga bisa menurunkan jumlah merah dari lima. Hampir setiap malam, Ibu saya memegang ikat pinggang atau obat nyamuk yang menyala, kemudian saya disuruh belajar a i u e o dan membaca buku; salah sedikit, kalau tidak ikat pinggang, ya obat nyamuk itu yang mendarat ditangan atau kaki saya, terkadang lilin. Jadi, memang saya tidak punya kakak dan ayah meninggal di saat usia saya 3 tahun, hanya punya ibu yang tidak tamat SD. Untunglah, semua yang saya hadapi saat kelas 1 SD ini mengajarkan saya untuk terus berusaha belajar, menolak untuk bodoh. Ibu pun berbuat keras dalam mengajar, bukan karena tidak punya hati, melainkan dia tidak mau anak tertuanya tidak naik kelas, padahal untuk biaya sekolah, beliau harus mengemis meminjam disana sini. Seiring dengan naiknya level pendidikan, saya mulai membaik sedikit demi sedikit, otak mulai sedikit berisi, hingga bisa mengeyam masuk rangking sepuluh besar di kelas.

Apa yang ingin saya sampaikan disini? Ingatan diatas tidak pernah hilang dari pikiran saya, seumur hidup mungkin akan saya bawa terus kemana kaki melangkah, selalu terbayang setiap kali saya menghadapi kesulitan saat studi di Inggris lalu atau sekarang di Amerika ini. Saya ingin mengatakan, salah satu keadilan yang ditunjukkan oleh Tuhan adalah Dia menciptakan otak kita dengan sifat seperti sebuah pisau. Keunikkan dari sebuah pisau adalah kondisinya bisa berubah sesuai dengan perlakuan yang diberikan padanya. Ibaratkan, ada dua buah pisau, yang satu tajam dan yang satu lagi tumpul. Coba berikan perlakuan yang berbeda selama satu tahun; untuk pisau yang tajam, dibiarkan saja tergeletak di luar rumah, sedangkan untuk pisau yang tumpul, diasah sepanjang hari. Kemudian, lihat hasilnya setelah satu tahun; pisau yang awalnya tajam akan tumpul berkarat dan pisau satu lagi berubah menjadi tajam.

Pernah tidak sewaktu SD punya teman yang selalu dapat rangking, tetapi saat masuk SMP atau SMA, dia tidak masuk rangking sepuluh besar di kelas dan sebaliknya, teman yang biasa saja saat SD dan SMP, ternyata saat SMA atau kuliah, dia berprestasi sekali. Sejak kecil saya suka sekali mengamati teman-teman yang berprestasi di kelas dan saya selalu menemukan situasi ini. Ada teman yang waktu SD sangat dipuji teman sekelas bahkan guru, eh, saat SMP dan SMA dia langganan kena hukuman. Sampai saat ini, saya masih selalu mengamati perubahan-perubahan teman-teman saya, disana saya menemukan keadilan Tuhan – Dia membiarkan hambaNya untuk memilih. Kalau sudah merasa puas dengan prestasi yang didapatkan dan merasa besar kepala hingga jarang belajar kembali, menurunlah prestasinya sedikit demi sedikit. Sebaliknya, orang yang biasa-biasa saja atau bahkan tidak dipandang sama sekali saat kecil dahulu, namun karena dia terus mengasah otaknya karena sadar akan kebodohannya, mungkin di masa depan memiliki prestasi yang lebih.

Jadi, mungkin ketika kita diletakkan dalam situasi ‘kebodohan’ akan mempelajari sesuatu, Tuhan ingin kita bangkit dan keluar dari kebodohan, bukan malah membodohi diri dengan mempercayai inilah takdir ilahi yang tak bisa diganti. Walau semanis apapun masa lampau atau pun masa sekarang, masa depanlah yang terpenting karena akhirnya disanalah kita akan hidup, bukan? Makanya, Steve Jobs, pendiri perusahaan Apple di Amerika, mengatakan dalam pidatonya di Stanford University,” Stay foolish, stay hungry..” Mau sepintar apapun kita sekarang di satu hal, tetaplah merasa foolish, karena dengan demikian kita akan merasa terus hungry dan ingin menggapai hal-hal lebih di masa depan tanpa merasa puas; tanpa sadar, kita merubah masa depan yang akan kita nikmati nanti. Apalagi kalau kita beneran foolish di satu hal, tidak ada pilihan selain terus konsisten dan disiplin belajar.

Seorang petani yang baru selesai menanam padi tidak tahu apakah hasil panennya akan sukses atau gagal tahun ini. Tetapi, dia sangat tahu bahwa dia tidak akan memanen padi esok hari. Sayangnya, kita yang sedang belajar sesuatu sering lupa, maunya hari ini belajar, besok atau lusa langsung pintar. Itu berarti sama saja dengan seorang petani yang baru selesai menanam padi hari ini, lalu berharap esok pagi panen. Uhh.. Ya salam..

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | BBM 51410A7E | Line ID: sdsafadg | Twitter @01_budi | Instagram: sdsafadg

Advertisements

16 Comments

  1. MasyaAllah,…
    subhanallah…., saya jadi ingat masa kecil 😦
    terimakasih banyak mas budi telah mengingatkan, semoga selalu dalam keberkahan Allah swt.

    Liked by 1 person

  2. Widih kak cerita waktu Sdnya ampir sama, cuman bedanya ayah yg siap tali pinggang..hampir gk naik kelas juga waktu kelas 2 Sd..dia pisah dengan barisan anak” bodoh..bisa naek kelas cuman karena bisa hapal kalian 1-9..dan ada temen sekelas Sd juara umum tapi skrg jadi anak berandalan smp sma dan nyampe sekarang dan banyak yg sudah kawin..terima kasih kak for yout story it was inspiring 🙂

    Liked by 1 person

  3. Biasanya kalau kita dari kecil sudah merasakan perih dan berjuang, pengalaman pedih mengajarkan kita untuk lebih bijak Bang. Saya jadi malu baca ini lagi-lagi, dari SD seringnya juara kelas namun -Aaaargggh why haven’t belive to ownself & soul,,hmm.. thanks for this great inspiration. Again and again. 🙂 will follow your step learn your wise and your care to others.

    Liked by 1 person

  4. Ini bagian yang paling saya sukai: “Saya ingin mengatakan, salah satu keadilan yang ditunjukkan oleh Tuhan adalah Dia menciptakan otak kita dengan sifat seperti sebuah pisau. Keunikkan dari sebuah pisau adalah kondisinya bisa berubah sesuai dengan perlakuan yang diberikan padanya. Ibaratkan, ada dua buah pisau, yang satu tajam dan yang satu lagi tumpul. Coba berikan perlakuan yang berbeda selama satu tahun; untuk pisau yang tajam, dibiarkan saja tergeletak di luar rumah, sedangkan untuk pisau yang tumpul, diasah sepanjang hari. Kemudian, lihat hasilnya setelah satu tahun; pisau yang awalnya tajam akan tumpul berkarat dan pisau satu lagi berubah menjadi tajam.”

    Terima kasih Kak Budi, sudah berbagi kisah yang sangat luar biasa.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s