Jemput mimpimu dengan mata terbuka, Taiwan..!!

Ditulis oleh Jam’aturrohmah | Twitter: @jamielrojashy | Facebook: Jami’ Hilmun Kabiir.

(National Chiao Tung University, Taiwan)

Siapa yang tak ingin belajar di luar negeri. Hampir setiap orang bermimpi ingin keluar negeri. Bermimpi ingin merasakan suasana belajar di kelas internasional bersama orang-orang  international di penjuru dunia. Rasanya iri setiap kali ada teman, kakak kelas atau pun orang lain di sekitar kita yang lulus ke luar negeri, entah itu melanjutkan studi, internship, fellowship, residences, exchange program, volunteer, pekerjaan, lomba, olimpiade, duta bangsa, Call for Paper, Speaker of Conferencee, Exhibition dan lain sebagainya. Mereka upload foto-foto di luar negeri, memamerkan keindahan negeri tersebut.  Apalagi kalau  mereka selfie di tempat wisata- wisata keren, indahnya musim semi ketika bunga- bunga  bermekaran, musim gugur dimana bunga berguguran elok nan romantis, musim salju bak lautan es, serta keceriaan di liburan musim panas.  Selain mendapatkan ilmu baru, juga mendapatkan teman, dosen dan kebudayaan yang baru pula.

Saya memiliki keinginan untuk melanjutkan studi Magister di luar negeri dan bermimpi ingin menjelajahi 5 benua. Mimpi yang terdengar mustahil untuk diwujudkan, apalagi bila tanpa diikuti oleh tindakan nyata, hanya akan menjadi bunga tidur belaka. Semua hal membutuhkan proses, tidak ada yang instant dalam hidup ini.  Namun, hidup ini juga tidak boleh biasa dan sederhana, harus hebat, luas, kuat, berkarakter dan bermanfaat. Sikapnya saja yang biasa dan sederhana. Saya mulai bermimpi ke luar negeri dan harus menahan iri ketika teman-teman saya ke luar negeri. Hanya bisa menangis, galau, merenung dan air mata berjatuhan. Setelah itu update status, selfie dan dengerin musik. Kalau seperti ini terus saya bisa stress dan hidup saya bisa berantakan. Ohhh… tidak saya harus bangkit dan menyusun strategi. Kemudian, saya tulis semua apa saja yang harus saya lakukan. Saya membeli buku-buku tentang luar negeri, masuk dalam grup-grup facebook PPI Dunia dan PPI negara-negara lain, langganan newsletter beasiswa, follow twitter pemburu beasiswa, browsing sampai larut malam, masuk dalam forum pameran pendidikan internasional, mengikuti sekolah TOEFL  dan membaca kisah inspiratif-kisah inspiratif.

Di sisi lain, saya sibuk kerja di Konsultan, pulang kerja  saya capek. Saya tidak bisa ikut les bahasa inggris untuk upgrade kemampuan bahasa inggris saya yang masih pas-pasan.  Saya sadar kalau bahasa itu kebiasaan, bahasa itu alat komunikasi yang harus dibiasakan dan terus menerus di pelajari. Sedangkan saya sudah 4 tahun tidak belajar bahasa Inggris. Banyak kosakata yang sudah lupa dan hilang. Saya ikut tes TOEFL dua kali; pertama, saya mendapat skor 400 dan kedua setelah 4 tahun tidak bersinggungan dengan bahasa Inggris, nilai saya terjun menjadi 387. Saya drop dan berkecil hati. Bagaimana saya bisa kuliah di luar negeri kalau skor TOEFL saya anjlok begini. Padahal rata-rata TOEFL yang disyaratkan dalam kebanyakkan beasiswa adalah 550-570. Nilai TOEFL yang rendah ini semakin mematahkan semangat saya untuk lanjut mengejar mimpi. Untungnya, ditengah perasaan saya sedang drop sekali, saya melihat informasi di Facebook tentang belajar TOEFL gratis online yang di mentori oleh mas Budi Waluyo. Tanpa pikir panjang, saya daftar dan ikut belajar. Saya download handbook yang diberikan, mengerjakan Questions of the Day (QOTD), dan mengikuti Temu Online setiap minggu. Saya bersyukur masih ada kesempatan untuk bisa kembali belajar TOEFL. Saya harus tetap bersemangat mempersiapkan test TOEFL yang akan datang.

Saya sering membaca kisah kisah Inspiratif yang di tulis Mas Budi tentang “Connecting the Dots” dan “Kisah Kupu-kupu yang melakukan percepatan terbang dengan mengendarai mobil”. Disini saya tidak menjelaskan kisah ini, lebih lengkapnya bisa di baca sendiri di webnya mas Budi Waluyo. Kisah inspiratif ini menyadarkan impian saya belajar di luar negeri. Kendala saya masih pada skor TOEFL saya yang masih rendah. Saya mencoba mengikuti program –program gratis di luar negeri, saya ikut lomba makalah di Program AFUP di Perancis, volunteer ICYE di Italia, dan Pameran Kebudayaan di Perancis serta lomba di kampus Ecole Polytechnique, Perancis. Ketiga program yang saya ikuti ini semuanya gagal saya dapatkan, sedangkan untuk lomba di Ecole Polytechnique baru setengah jalan dan aplikasi saya kurang lengkap sampai batas deadline. Saya harus tersenyum pahit menghadapi kegagalan ini. Saya drop seakan akan dilanda mimpi buruk dan merasa itu sangat sulit sekali. Beruntung, Ibu saya selalu menyemangati dan memberi suntikan semangat kepada walaupun hanya lewat telpon. Beliau meyakinkan saya bahwa suatu saat saya akan berhasil. Saya kembali tenang,  dan keadaan ini membuat saya lupa kalau masih ada satu program lagi yang saya sudah daftar, yaitu TEEP (Taiwan Experience Education Program).

Waktu itu tanggal 15 November 2015, saya diingatkan mbak kost saya tentang hari pengumuman TEEP di Taiwan. Saya sudah tidak berharap banyak kalau saya akan lulus. Saya cek email masuk, ternyata tidak ada email dari TEEP. Saya lemas tidak bergairah lagi, mencoba mengirim email kepada TEEP staff tentang pengumuman yang lulus. Siang itu saya sudah tidak semangat lagi bekerja. Pikiran saya melayang-layang lagi, memikirkan tentang pengumuman TEEP. Malam hari saya coba buka email masuk. Saya urutkan ternyata ada email masuk dari TEEP. Isi dari email mohon maaf bagi peserta yang tidak lulus. Deg, jantung saya berdegub kencang. Saya mencoba membuka attachment dan mulai membaca nama-nama yang masuk dalam admission list bukan waiting list. Saya membaca tidak ada nama saya. Dibaca sekali lagi, masih tidak ada nama saya dan mulailah keringat dingin bercucuran. Saya berharap-harap cemas membaca sekali lagi, dan saya kaget bukan kepalang nama saya masuk dalam list. Saya memang  menderita minus, apa saya salah baca, saya baca sekali lagi nama saya benar-benar ada. Seketika itu saya langsung wudhu dan sujud syukur. Saya baca kitab suci Al Qur’an , sungguh nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan. Mulai menangis saya dan mempercayai kalau mimpi akan terwujud kalau kita sungguh-sungguh dan tekad yang kuat. Malam itu jam 23.00 saya coba telpon ibu berkali-kali sangking bahagianya tapi tidak di angkat, nasib anak tinggal di perantauan.  Kebetulan mbak kost  saya lagi pulang kampung, dan saya di kost sendirian dan badan mulai terasa panas dingin menahan perasaan bahagia.

TEEP-UST 2016 Winter  Camp di Inter-Asia Cultural Studies adalah salah satu dari banyak kegiatan The University System of Taiwan Program Internasional di Inter-Asia Cultural Studies yang di biayai oleh Menteri Pendidikan Taiwan. TEEP ini berusaha untuk menampilkan kekuatan penelitian program fakultas dan untuk membiasakan peserta dengan keprihatinan dasar dan praktek studi budaya inter-asia. 2016 Winter Camp, ““Decoding the Cold War and Facing Contemporary Societies”  akan mencakup lima highlights spesifik: migrasi dan epistemologi Perang Dingin; kolonial / produksi pengetahuan Perang Dingin; demokrasi di Asia; renaissance agraria; serta produksi budaya di era neoliberalisme. Setiap topik memperkenalkan dimensi kritis modernitas Asia seperti yang dibentuk oleh kekuatan sejarah kolonialisme, politik Perang Dingin, serta nasional / aspirasi populer untuk demokrasi. Selain itu terdapat juga kunjungan Urban Farming di Hui-Yuan Village dan Tian-Yuan-Ching workshop. Program ini bertempat di National Chiao-Tung University dan National Tsing Hua University Hsinchu, Taiwan.

Peserta akan disajikan oleh fakultas The University System of Taiwan (UST) dalam studi antar-Asia budaya serta Pakar  internasional yang terkenal, direktur, dan pekerja budaya. Peserta tidak hanya akan duduk di kelas, tetapi juga berpartisipasi dalam kelompok diskusi dan kunjungan lapangan untuk memperkaya pengalaman belajar. Lebih penting lagi, peserta akan dapat menghabiskan lima hari dengan fakultas di Taiwan untuk berbagi pekerjaan mereka sendiri dan belajar dari satu sama lain. Melalui Camp musim dingin ini, TEEP tidak hanya berharap untuk memperkenalkan program mereka untuk mahasiswa yang tertarik di seluruh dunia, tetapi juga menciptakan sebuah platform internasional untuk pemikir kritis dan pikiran kreatif untuk bertemu dan bertukar ide dan karya-karya mereka. TEEP percaya bahwa Camp musim dingin membuka jendela untuk kajian budaya antar-Asia, akan memberikan peserta dengan kesempatan belajar yang unik dan pengalaman Taiwan mengesankan.  Fasilitas yang didapatkan peserta meliputi akomodasi, catering, tempat penginapan dan Transportasi grup. Tempat penginapan di dormitory ching, dekat kampus National Tsing Hua University.

TEEP akan berlangsung selama lima hari, mulai hari senin/ 11 Januari 2016 sampai dengan jumat /15 Januari 2016. Tiket pulang pergi, paspor  dan visa di tanggung peserta. Tiket pulang pergi, paspor  dan visa ini sudah saya dapatkan dari dana sponsor proposal pengajuan dana delegasi. Bidikan utama dana sponsor yaitu ke DIKTI dan DPRD. Rencana saya setelah acara ini saya akan backpackeran trip ke tempat wisata di negeri formosa ini selama 5 hari, tujuan saya ke maskot taiwan Taipei 101 yan terkenal dalam film Meteor Garden dan F4, museum Chiang Kai Sek, Fulong Beach, Chingjing, Yang Ming Shan, Beitou, Zhishan Cultural and Ecological Garden, Da’an Mosque, Danshui Fisherman wharf and Love Bridge, Hua Lien, Alishan, Kenting National Park. Setelah itu saya berkunjung ke Hongkong, melakukan observasi kampus The Hongkong University of Science and Technology bertemu dengan Executive Officer yang bernama Vince W S Chow dan jalan jalan selama 4 hari. Setelah itu menuju Shanghai naik kereta dari Hongkong. Saya akan mengunjungi  kampus Xi’an Jiaotong-Liverpool University bertemu dengan Yan Zhang, International Student Recruitment and Support (ISRS)  dan jalan jalan di China selama 4 hari. Setelah itu saya kembali ke taiwan dan pulang ke indonesia. Saya berharap ini langkah awal saya go Abroad, Taiwan my first country. Semoga bisa kuliah di Taiwan atau negara lainnya.

(Foto: Jami'aturrohmah)
(Foto: Jami’aturrohmah)

Saya ingin mengajak teman-teman merenung kembali, jangan biarkan keterbatasan menghalangi kita untuk menjemput mimpi. Saya dengan kemampuan bahasa inggris yang pas-pasan terutama di speaking dan listening, waktu yang minim, capek kerja, serta hidup di perantauan yang sering homesick. Tetapi, dengan segala keterbatasan, saya masih bisa mengembangkan skill bahasa inggris melalui banyak membaca teks bahasa Inggris, mendengarkan musik bahasa Inggris, menonton film dengan subtitle bahasa Inggris, chatting dan kirim email dengan orang asing, komunikasi langsung dengan native speaker ketika ada pameran pendidikan di Jakarta dan lain-lain.

Semangat harus kuat dan lakukan tindakan nyata, serta ubah kelemahan menjadi kekuatan. Pantang menyerah dan cari informasi sebanyak-banyaknya. Pinjam kata mas Budi “ Let’ s break the limits”.

Ayo, jemput  mimpi kita dengan mata terbuka!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: sdsafadg | Twitter @01_budi | BBM 58B28E56

Advertisements

3 Comments

  1. Banyak orang yang sudah sukses, dengan mengetahui kemampuan diri sendiri, kelebihan yang dimiliki.
    Tapi yang ketika dosen saya mengatakan kelebihan apa yang kamu miliki? saya terdiam tidak mengatakan apa pun. Saya tidak tahu kelebihan apa yang saya miliki. Apakah saya terlalu santai, tidak ada tujuan dan gairah untuk menjalani hidup ini.
    Kalaupun suatu ada semangat dg sekejap menjadi tdk semangat lagi. to keep motivation so dificult to me.

    Liked by 1 person

  2. Halo kak salam kenal. Seru banget ceritanya. Share detailnya dong kak gimana caranya ngajuin sponsor untuk acara kayak gitu, plus situs mana aja yg ksh info ttg free camp, biar kita bisa ngikutin jejak kakak. Thanks in advance.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s