Shaolin dan Siswa Sekolah TOEFL

Sebuah tulisan oleh siswa Sekolah TOEFL : M. R. Royan (FB: M R Royan)

Di suatu siang, saya hendak ke Jakarta dari Surabaya dengan kereta api ekonomi (Kebetulan sudah ada AC nya, jadi supaya kelihatan keren nyebutnya Ekonomi-AC sekarang. #tssaaah). Di samping saya, duduk seorang kawan yang kebetulan memang teman asrama di kampus. Beliau baru pulang dari negeri tirai bambu, Tiongkok, sekitar dua pekanan silam, menghadiri sebuah forum diskusi se-Asia.

Kami sempat berbincang perihal apa saja yang dilakukannya selama di negeri panda tersebut. Ia bercerita, suatu kali ia berkesempatan mengunjungi sebuah kuil Shaolin di sana. Ia berdiskusi dengan salah seorang Shifu (guru) junior (tentunya ditemani dengan teman se-forum yang mengerti bahasa Mandarin dan Inggris) mengenai kegiatan yang dilakukan di kuil Shaolin.

Hal yang mengejutkannya adalah ternyata, di tahun pertama, alih-alih diajarkan jurus meringankan tubuh, cakar elang, atau bahkan jurus tinju mabuk, para murid di kuil Shaolin justru diajarkan bagaimana cara menyapu, memasak, mengangkat air dengan jarak jauh menggunakan timba, membersihkan kotoran, memotong rumput, memetik buah, dan lain sebagainya. Begitu seterusnya. Itu mereka lakukan setahun penuh, tanpa tahu alasan yang jelas mengapa mereka harus melakukannya.

Ketika rasa jenuh sudah mulai menggelayuti para murid kuil shaolin, tak sedikit dari mereka yang akhirnya hengkang, menyerah, dan mundur tanpa berita (Muntaber) (Waluyo, 2015). Di akhir tahun pertama, tibalah sang Shifu senior memanggil semua Shaolin tersebut dan mengumpulkan mereka di halaman latihan. Sang Shifu berteriak, “APA YANG TELAH KALIAN DAPATKAN SELAMA SATU TAHUN PENUH DISINI?”, tak ada satupun yang menjawab. Shifu bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama sampai tiga kali, namun yang ada hanya kening-kening yang mengernyit karena heran dan mengira bahwa pertanyaan tersebut sunggu aneh dan tak patut dijawab. Sebab, bagi mereka tak ada hal spesial yang mereka dapatkan.

Akhirnya, sang Shifu kembali berteriak, “BUKA BAJUMU SEMUA!!!”. Mereka heran, sampai diteriaki untuk kedua kalinya baru para Shaolin ini membuka bajunya (tentunya tetap pakai celana lho ya). “SEKARANG LIHAT TUBUH TEMAN-TEMANMU DAN TUBUHMU!!!” teriak sang Shifu lagi. Para Shaolin ini terperangah, karena ternyata mereka mendapati tubuh mereka yang atletis, tegap, dan kekar, tanpa mereka sadari. Dari yang dulunya “kerempeng”, “gemuk”, dan “bohay”, tubuh-tubuh para Shaolin tersebut kini menjadi tubuh-tubuh yang siap menerima jurus-jurus yang akan diajarkan di tahun-tahun berikutnya. ~Tamat

Tak ada yang tahu, bahwa sebenarnya kegiatan-kegiatan yang kita anggap sepele, ternyata membawa dampak yang besar bagi diri kita. Sebagaimana di kuil shaolin, kita (di Sekolah TOEFL) juga melakukan hal-hal yang terlihat membosankan, itu-itu saja. Jawab QOTD, bertanya, main game, sharing, jawab QOTD lagi, bertanya lagi, main game lagi, sharing lagi, itu-ituuu saja. Ada juga yang bertanya tapi “dikacangin”, dan menyerah. Ada juga yang jawab QOTD salah, menyerah. Tapi percayalah, tanpa disadari, kita sebenarnya sudah selangkah lebih maju dari kita yang sebelumnya, selama kita tetap menikmati prosesnya secara aktif. Just enjoy the show..!!

Saya juga dulu siswa di Sekolah TOEFL sejak dilaunching Mei 2015 lalu. Dan, sejak sistemnya diubah, saya diminta mas Budi untuk menjadi Mentor Assistant. Mulanya saya terkejut, karena saya menganggap diri saya cuma “Remah-remah Tahu Goreng di antara Kue Nastar”, kenapa mas Budi tak memilih yang lebih baik dari saya saja? Tapi, saya kemudian berpikir lagi, pasti sosok sekaliber mas Budi menilai seseorang bukan dengan cara yang sembarangan. Langsung imajinasi saya lompat ke kisah Shaolin tadi. Ternyata saya melewati prosesnya, di mana saya menganggap saya tak begitu mendapatkan hal yang spesial, dan akhirnya saya tersadar ketika Shifu saya (mas Budi) meminta untuk “Membuka Baju”. Memang, sebagai Asisten, saya tak begitu cakap, tapi dari sini saya belajar dengan metode belajar terbaik, yaitu mengajarkan. Jadi, maklumilah saya dengan segala kekurangan saya, hee

Saya juga bukan siswa mas Budi yang pandai, saya biasa saja. Mungkin di antara teman-teman ada yang menjadi teman sekelas saya di grup sebelumnya. Bahkan skor TOEFL-Like Test (bukan TOEFL ITP) saya pertama kali saja cuma 403. Kursus pun tak pernah (Pernah pas SMP kelas 7, general english, itupun cuma sebulan dan keluar karena kebanyakan main. Hahaha 😂). Justru di Sekolah TOEFL lah saya kursus, di mana saya bisa bertanya aktif sebebas-bebasnya, diskusi dengan teman-teman sekelas, dan lain-lain. Ditanggapi atau tidak, saya tetap menikmati prosesnya. Alhamdulillah, september 2015 lalu saya ikut tes TOEFL ITP untuk pertama kalinya dengan hasil yang cukup mengesankan. Meski tak mencapai target 600 (gila aja, udah kemampuan pas-pasan, tes pertama kalinya, malah targetnya 600, sinting gw! Hahaha 😂), setidaknya cukup untuk persyaratan beasiswa keluar negeri. Hehehe.

It doesn’t matter how slowly you go as long as you don’t stop. Just enjoy the show. Nikmati saja prosesnya. Lakukan apa yang diminta Shifu semampunya, seoptimal mungkin. Di satu bulan proses belajar kita ini, semoga menjadi refleksi buat kita semua bahwa hanya yang bertahan yang mampu melanjutkan. Namun demikian, tetaplah rendah hati, karena capaian skor kita yang setinggi langit pun sebenarnya diawali dengan goresan pensil yang menghadap ke bumi. Tetap semangat belajar, guys. Just enjoy the show..!!

Oleh : (Bukan Alethea) Royan. Buat Alethea Royan yang berhasil meraih skor tertinggi di tes TOEFL bulan ini, perkenalkan diri ya.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: sdsafadg | Twitter @01_budi | BBM 58B28E56

Advertisements

8 Comments

  1. Kece badai Royan kokoh
    Gegara double Royan timbul salpaham jugag -_-”

    Aaapin ane termasuk salah satunya -_-”

    #salahorang

    Like

  2. Kak Royan, masih belum ngaku. 😀

    Suka dengan kata-kata yang ini: capaian skor kita yang setinggi langit pun sebenarnya diawali dengan goresan pensil yang menghadap ke bumi.

    Intinya adalah tetap bertahan dan ikuti alurnya dengan seoptimal mungkin, karena dipenghujung akan kau temui jawaban kenapa kamu bertahan (di sekolah Toefl ini). #Great!

    Like

  3. Inspiring sekali…. Slow but sure yak mgkn istilahnya. Hehehehe…. Salam kenal. Memang ada benernya, kadang kala kita tidak sadar dengan apa yg telah kita dapatkan dari proses yg telah kita jalani dengan penuh kesabaran.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s