Apakah saya tahu diri?

Sebuah Tulisan Siswa Achir Fahrudin, sedang tinggal dan bekerja di Arab Saudi (FB: Akhir Fahruddin)


InstagramCapture_6c673517-ce0a-4985-867d-e4987f0ada6dSemilir angin subuh berhembus kencang diawal tahun, cahaya lampu benderang berjejer disepanjang jalan King Abdul Aziz, demikian nama jalan di depan asrama. Subuh ini seperti biasa saya berkeliling untuk jalan pagi sembari menghangatkan tubuh. Ada hal yang harus dicurahkan pada setiap insan tentang hidup, mungkin sebatas kisah diri atau menjadi life observer adalah hal terbaik untuk belajar dari setiap fenomena yang ada.

Tidak terasa dibulan ke sepuluh hidup diperantauan, ada hal-hal yang begitu membuat rindu, meski sebelumnya tinggal di Sumbawa, Mataram, Malang dan Jakarta namun kali ini harus hidup di Timur Terngah, Saudi Arabia. Butuh sekitar 8-10 jam untuk menginjakkan kaki disini, bukan untuk berlibur tapi bekerja. Negeri yang dikenal karena menjalankan syariat islam ini membuat saya begitu kaku, takut sekaligus takjub karena ada beberapa hal tidak lazim yang saya temui, mulai dari larangan perempuan mengendarai mobil, memakai abaya (pakaian yang menutupi seluruh badan kecuali kedua mata) bagi wanita, larangan merayakan valentine hingga aktifitas toko yang tutup jika adzan dan aktivitas sholat dimulai. Kalau di kampung saya bisa dengan nyaman membeli apapun ketika adzan atau ibadah sholat berlangsung, tapi disini akan ada mobil “Amal ma’ruf dan nahi munkar” yang siap-siap menutup paksa dan memberi sanksi bagi toko yang buka saat ibadah.

Hakikat Perjuangan

Kali ini dengan penuh kesadaran, saya kembali mengoreksi tentang kerja dan masa depan. Bagi saya, ekspektasi untuk bekerja di luar negeri menjadi mimpi sejak kuliah, karena saya sadar jika bekerja di dalam negeri hanya cukup untuk membeli peralatan mandi. Dengan mengikuti pelatihan di Indonesian Nursing Trainers (INT) Malang dan belajar bahasa asing setiap hari, sedikit demi sedikit mimpi itu semakin nyata. Selain belajar dan mengikuti pelatihan, membangun koneksi atau silaturahim menjadi cara yang bisa saya lakukan, tersadar akan kekurangan ilmu dan finansial memberi solusi dari silaturahim yang ada. Alhasil, mimpi itu kini menjadi kenyataan berkat bantuan dari para pemerhati profesi.

Kini saya bekerja dengan gaji yang mencukupi, cukup untuk menabung dan mengirim ke orang tua. Gaji 2000 real (kurs 3700), itu saya rasakan cukup untuk memulai kerja sebagai lulusan baru, karena jika sudah memiliki pengalaman 3-5 tahun, kita bisa memperoleh gaji yang lebih dari itu bahkan bisa 5 kali lipat dari gaji awal. Memulai dari bawah adalah proses, setiap kita pun demikian, tidak ada yang bisa menjadi direktur dengan pengalaman 0 tahun dan tidak ada pengawai yang bisa menjadi pimpinan dengan pengalaman kerja dua tahun. Jika saya membandingkan dengan gaji perawat senior di Indonesia atau rekan PNS, maka saya bisa mendapat dua kali lipat dari gaji mereka. Itu yang buat saya lebih nyaman dan merasakan proses kerja yang ada.

Pengalaman hiduplah yang membuat saya kuat. Dulu ketika masih kuliah, saya sudah terbiasa dengan kesulitan, bapak saya hanya mampu membayar kuliah diawal dan akhir (uang muka dan wisuda) selebihnya harus berjuang untuk melanjutkan study. Belajar ilmu alam atau kesehatan membuat semuanya semakin rumit karena saya sendiri background nya ilmu sosial. Tidak pernah terpikirkan masuk perawat karena cita-cita saya menjadi praja atau ilmu pemerintahan. Ibu memberi saran kepada saya untuk menjadi perawat, karena beliau merasa nantinya bisa merawat keluarga secara gratis tanpa ada pungutan seperti umumnya perawat yang ada di kampung. Saya menyanggupinya dan mulai melaksanakan proses belajar meski harus ekstra belajar tentang biokimia, fisika, ilmu tubuh dan ilmu keperawatan lainnya. Belajar keras membuahkan hasil, menjadi yang terbaik dikampus pada semester satu membuat jalan terbuka lebar, mendapatkan beasiswa Peningkatan Potensi Akademik (PPA) dari Dikti menjadi lanjutan dari proses belajar yang saya lalui.

Namun bukannya tanpa rintangan, di Semester 3 saya pernah mendapatkan nilai C dan sempat berbeda pendapat dengan dosen mengenai nilai. Itu karena ulah saya sendiri yang lebih senang ikut kegiatan luar seperti MTQ dan lomba menulis lainnya. Meski dari lomba itu saya mendapatkan prestasi yang baik dan bisa membayar biaya kuliah, namun disisi lain akademik saya jatuh. Itu resiko dari keputusan dan saya belajar dari pengalaman itu. Bagi saya nilai bukan segalanya, karena aplikasi dan praktik adalah yang terpenting. Nilai bisa didapat karena hubungan emosional dan penurut, namun saya bukan tipe orang seperti itu, saya berkilah dengan keyakinan yang sudah saya ambil.

Kalau dihitung saat itu, ada tujuh kali surat pernyataan yang saya tanda tangani, empat kali dipanggil pembimbing akademik dan pimpinan kampus. Semua proses itu bagi saya adalah pendewasaan berfikir karena apa yang saya lakukan tidak salah dan memberi arti bagi saya sendiri. Ketika hidup memberi ketidakmungkinan karena sikap apatis, maka kita harus mencari jalan lain yang bisa membuat ketidakmungkinan itu menjadi mungkin. Hingga lulus pun saya masih bisa bertahan dengan nilai yang baik dan ekstrakurikuler yang baik pula.

Berbagai prestasi bisa saya raih berkat kegigihan dalam belajar serta semangat dari orang tua. Diantara prestasi itu adalah menjadi mahasiswa terbaik kedua dengan IP 3.54. saya bangga sekaligus terharu. Kebahagiaan saya pun bertambah, karena selain prestasi akademik, saya juga bisa berprestasi di ekstrakulikuler dengan menjadi juara 1 Duta Mahasiswa Genre (Pendamping Keluarga Berencana) Kabupaten Sumbawa tahun 2012, Juara 2 Duta Mahasiswa Genre TK Provinsi NTB tahun 2012, juara 2 Lomba Syarhil Quran pada MTQ tingkat Kabupaten Sumbawa tahun 2012, Juara 2 Lomba Menulis Ilmiah Al-Qur’an pada MTQ ke 28 TK Kabupaten Sumbawa tahun 2013, menjadi juara 2 lomba penulisan puisi tingkat mahasiswa se-NTB tahun 2012 serta menjadi finalis ke 2 Lomba sayembara essay tingkat Provinsi yang diselenggarakan Anggota DPR RI Fahri Hamzah.

Kebanggaan lain yang sampai hari ini saya tidak lupakan adalah bisa menjadi yang terbaik ke 3 lomba menulis essay pada sayembara nasional APKASI tentang otonomi daerah. Prestasi-prestasi tersebut tidak membuat saya berlebihan bangga dan berbesar diri, saya yakin bahwa proses tersebut adalah bentuk aktualisasi diri yang saya lakukan. Meski prestasi-prestasi ekstrakulikuler tersebut tidak berkaitan dengan keperawatan namun dampak yang saya rasakan bahwa prestasi itu telah membawa saya untuk semakin mencintai profesi keperawatan.

Dari kuliah biasa susah dan hidup pun demikian. Meski bapak saya seorang Guru dan pernah menjadi kepala sekolah, namun semuanya tidak cukup untuk membiayai pendidikan kami, itu juga karena pada saat itu beliau sakit-sakitan. Berjuang menjadi loper majalah, magang di media masa dan belajar jurnalistik serta menulis di media daerah adalah aktivitas yang biasa saya lakukan. Itu membuat saya lebih banyak belajar dan mengasah kemampuan menulis. Pengalaman itulah yang membuat saya kebal dan tetap bekerja meski saat ini jauh dari keluarga.

Apakah saya tahu diri ?

Profesi ini yang membuat saya bisa sampai disini, saya bersyukur ibu saya meyarankan disini meski ada penolakan diawal. Perawat bagi saya bukanlah profesi yang menuntut kita bekerja pada rumah sakit yang besar, klinik yang besar serta pusat rehabilitasi sosial yang besar. Tapi perawat adalah profesi mulia yang menuntut kesabaran, keikhlasan dan dedikasi dalam merawat sesuai dengan konsep asuhan keperawatan yang dimiliki perawat. Pilihanlah yang membuat perawat menjadi besar dan membuat perawat bisa memilih bekerja di dalam negeri atau luar negeri, rumah sakit atau klinik, homecare atau pusat rehabilitasi. Tapi ada yang harus kita ingat bahwa kita bisa bekerja ditempat yang baik dan digaji besar ketika bisa keluar dari sistem yang belum menempatkan kita sebagai sebuah profesi.

Disinilah perawat perlu tahu diri karena perubahan adalah kepastian dan masa sekarang adalah refleksi untuk masa yang akan datang. Tahu diri tidak hanya bangga karena gelar, pakaian atau jabatan tapi bercermin atas apa yang dilakukan, punya tujuan dan harapan serta visi dan misi hidup. Bercermin mungkin salah satu aspek tahu diri tapi tidak semua kita bisa bercermin atas sikap kita, fenomena yang ada serta egoisme yang kita miliki. Saya terbiasa untuk merenung agar saya tetap menjadi orang yang tahu diri. Pengalaman dan saran dari orang-orang yang saya anggap sukses dalam profesi ini adalah pondasi untuk merajut kain kesuksesan sekaligus belajar dari pengalaman mereka menjadi sukses.

Semoga kebiasaan merenung bisa membuat kita menjadi orang tahu diri, punya visi hidup, memulai dari bawah, berjuang menempuh kesulitan dan bergerak membawa misi kesuksesan bagi diri, keluarga dan masyarakat. Dampak itu tidak bisa dibangun dalam sehari saja tapi butuh pengalaman, perjuangan dan kemampuan melihat peluang yang ada.

Saudi Arabia, Januari 2016, Achir Fahrudin
Perawat di Comprehensive Rehabilitation Centre Majmaah Saudi Arabia

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi 

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s