20160315_113029Beberapa hari lalu ada yang bertanya,

”Mas Budi, kalo boleh tahu mengapa dulu tidak mendaftar LPDP? Bukannya persyaratannya lebih mudah daripada Fulbright, mengingat Mas Budi lulusan S2 University of Manchester?”

Jawabannya sederhana: saya ini hanya modal semangat saja. Uang tidak ada. Jadi, harus mencari beasiswa yang membiayai semuanya sejak proses awal. Beasiswa Fulbright membiayai semuanya sejak dari proses lulus ke tahap wawancara. Kalau soal persyaratan, Fulbright lebih sederhana menurut saya, hee..

Saya ingin menceritakan satu hal sederhana berkaitan dengan ini.

Jadi, di tahun 2010 saya dapat beasiswa IFP Ford Foundation, kemudian mengikuti sekitar 6 bulan academic training di Universitas Indonesia. Di bulan Maret 2011, saya mengikuti IELTS Test karena ingin studi ke Inggris. Semuanya dibiayai oleh pihak beasiswa. Singkat cerita, di bulan Juli 2011 saya berangkat ke inggris untuk studi S2 di University of Manchester.

Nah, kenapa saya memilih studi ke Inggris? Alasannya: pertama, studi S2 di Inggris hanya 1 tahun, jadi bisa hemat umur. Kedua, sertifikat IELTS biasanya berlaku sampai waktu 2 tahun. Setelah lulus S2 di bulan September 2012, saya pulang ke Indonesia. Di bulan April 2013, saya melamar beasiswa S3 Fulbright dengan menggunakan sertifikat IELTS S2 lalu.

Saya ingin bilang, teman-teman harus bisa merencanakan dengan baik tentang rencana studi kedepan. Tidak bisa hanya mengikuti air mengalir saja. Contoh diatas, misalnya, bagaimana jauh sebelum memulai studi S2, saya sudah merencanakan tentang melamar beasiswa S3; Hal yang sama saya lakukan dari S1 ke S2. Diakhir, saya bisa mendapatkan beasiswa S2 setelah lulus S1 dan beasiswa S3 setelah lulus S2.

Yuk, rencanakan masa depan sebaik mungkin.

Terkadang, akan sejauh mana kita melangkah nanti biasanya ditentukan oleh sejauh mana kita sudah berpikir saat ini.

Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi