Penghibur Hati Musafir Penuntut Ilmu di Hari Raya

Lama sudah rasanya saya tidak menulis cerita di blog ini; kerasa ada yang hilang – seperti menikmati satu makanan tanpa garam; sesuatu yang kecil, namun akan sangat terasa di lidah, serta sedikit mengurangi rasa nikmatnya makanan bila sebelumnya sudah sering menikmati makanan yang selalu ditambahkan sedikit garam. Tentu akan terlewatkan bagi mereka yang memiliki kebiasaaan berbeda. Malam ini, I made up my mind: saya harus lanjutkan menulis cerita di blog ini. Tahu tidak kenapa? Karena bagi saya, setiap cerita hidup yang dilalui setiap hari adalah sebuah rahmat dari Tuhan, dan harus disyukuri. Tidak sedikit yang sudah menutup mata, dan tidak mampu menjalani hari ini misalnya, hanya karena panggilan Tuhan lebih dulu datang daripada panggilan takbir shalat Eid pagi ini. Menulis adalah kebiasaaan orang-orang besar; menulis adalah salah satu cara untuk hidup lebih lama dari umur kita; menulis adalah cara terbaik merefleksikan semua nikmat yang sudah diberikan Tuhan dan merangkumnya menjadi satu pelajaran bagi diri sendiri maupun orang lain.

* * *

Pukul 04.30 pagi ini suara alarm jam mulai ribut seperti biasa, tetapi bukan untuk membangunkan sahur, melainkan untuk mengingatkan kalau waktu untuk shalat subuh sudah masuk. Mata rasanya masih berat sekali, namun dipaksakan juga melangkah ke kamar mandi. Malam tadi tidur jam 1 pagi. Tak heran kalau mata ini masih masih berat dibuka. Di Indonesia, euforia Idul Fitri tengah berlangsung karena lebih cepat 11 jam waktunya dari Amerika. Sedangkan disini, pukul 08.00 pagi nanti baru akan ditunaikan shalat Eid. Sudah janji dengan dua orang teman asal Indonesia kalau pukul tujuh ini akan bertemu di Fulbright house dan berangkat ke Masjid bersama.

Di kota Bethlehem tempat saya tinggal ini, ada satu Masjid besar yang menjadi tempat Muslim Association of Lehigh Valley (MALV). Sejak pertama kali tiba di tahun 2014, saya selalu menunaikan shalat Eid di Masjid ini. Kesulitannya hanya satu: tempatnya jauh dan harus pergi dengan mobil. Biasanya, saya selalu nebeng dengan Qashim, seorang teman dari Pakistan di mobilnya, tapi kali ini ada dua mahasiswa Indonesia yang baru datang dan akan studi S2 di Lehigh University. Akhirnya, saya putuskan untuk pergi dengan taksi dan mencoba jasa Uber untuk pertama kalinya. Setelah sign up malam tadi, pagi ini saat bertemu dengan Rahma dan Satrih, mahasiswa asal Indonesia yang baru datang itu, segera digunakanlah aplikasi Uber di HP. Sangat gampang sekali; tinggal masukkan alamat untuk pick up, lalu segera muncul berapa menit lagi taksi uber akan sampai ditempat. Tetapi, ada satu kebingungan yang belum terpecahkan, yaitu di HP saya tidak ada internet connection, sedangkan untuk memesan Uber harus terkoneksi dengan internet. Saya belum tahu apakah di Masjid nanti ada wifi atau tidak. Bila di Masjid nanti tidak ada wifi, bagaimana pesan Uber buat pulang? Ah, nyantai saja… whatever happens, happens.. nantilah memikirkan tentang itu. Stay positive saja.

Dalam waktu 8 menit, satu mobil Ford C-Mac Hybrid Merah tiba didepan Fulbright House dan kami bertiga segera masuk ke mobil. Bertemulah kami dengan Higinio, laki-laki asal Puerto Rico yang menjadi sopir. Logat Latin Americanya terasa kental sekali. Sejak masuk mobil sampai turun mobil lama kami berbincang tentang berbagai hal. Mulai dari berapa gaji yang didapatnya selama bekerja dengan Uber sampai sistem pemerintahan sosialis yang tidak berjalan di beberapa negara. Entahlah, apa kaitan antara topik-topik ini. Yang terpenting, dia sudah membawa kami ke Masjid dengan selamat. Turun dari mobil, kami langsung menuju ke tempat shalat masing-masing. Ruang tempat shalat didalam Masjid sudah hampir penuh dengan jamaah. Salah satu hal yang menarik dari Masjid ini adalah jamaah yang datang dari berbagai negara; terlihat jelas dari warna kulit, bentuk wajah, sampai bahasa yang digunakan. Yah, walaupun hanya sendirian menunaikan shalat Eid kali ini (dua teman lagi shalat di tempat wanita), sedikit terasa kalau tidak sendirian yang sedang jauh dari rumah.

Suasana Jamaah di dalam Masjid

Suara takbiran terus berkumandang dengan nada yang berbeda dari nada takbiran di Indonesia. Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi, dan shalat Eid pun ditunaikan. Pukul 09.45 nanti akan ada shalat Eid kloter kedua untuk mereka yang terlewatkan shalat Eid kloter pertama ini. Sekitar setengah jam, shalat Eid plus ceramah selesai dan setiap jamaah mulai bersalaman dan berpelukan sambil berkata,” Eid Mubarak brothers!”. Saya terdiam sejenak, perasaan mulai sedikit gloomy; sendirian saja. Terbayang biasanya setiap setelah shalat Eid akan bersalaman dan bermaafan karena kenal dengan jamaah sekitar. Sampai teguran dari seorang pria membuyarkan lamunan saya. “Eid Mubarak brother!”, ucapnya seraya menyalami dan memeluk tubuh saya. Tersenyum, itu yang bisa saya berikan. Tidak tahu siapa dia, tetapi tegurannya sudah sedikit menyadarkan saya kalau semua yang disini sama – saudaramu juga, kawan.

20160706_083934
Begel yang disiapkan untuk sarapan pagi para Jamaah Shalat Eid
Makanan yang disiapkan untuk sarapan pagi para Jamaah Shalat eid
Makanan yang disiapkan untuk sarapan pagi para Jamaah Shalat eid
Beberapa Jamaah mengambil makanan
Beberapa Jamaah mengambil makanan

Selesai shalat dan bersalam-salaman, saya langsung lanjut mencari tempat disiapkannya sarapan pagi. Masjid ini menyiapkan makanan untuk jamaah sarapan pagi sambil bercengkerama selesai shalat Eid. Perut sudah terasa lapar sejak tadi, maklum sebelum berangkat hanya minum air putih saja. Jangan tanya soal lontong atau ketupat ya; makanan itu tidak ada didapur saya.

* * *

Satu begel, keju, telur dadar, dan campuran kentang sudah ada di atas piring kertas saya; saatnya menikmati sarapan pagi. Satu meja dibawah satu pohon kecil menjadi tempat saya menikmati sarapan, seraya menunggu Satrih dan Rahma keluar dari tempat shalat. Beberapa menit kemudian, mereka keluar dengan beberapa orang Indonesia dan asik berfoto ria. Setiap kali shalat Eid di Masjid ini memang selalu ada kesempatan bertemu dengan orang Indonesia. Kebanyakkan dari mereka sudah bekerja dan bukan mahasiswa Lehigh University. Kali ini kami bertemu dengan Pak Ali dan Ibrahim beserta keluarganya. Ada juga Connie, perempuan asal Amerika, seorang istri Professor di Departemen Filsafat di Lehigh University. Tahu tidak? Kekhawatiran awal tentang bagaimana pulang nanti ternyata langsung terselesaikan. Ibu Connie dengan sukarela menawarkan diri untuk mengantar kami pulang.

Selanjutnya, kami berdiskusi dengan pak Ibrahim yang berasal dari Bogor dan sudah tinggal di Amerika sekitar 30 tahunan. Istrinya orang Jordan. Bila istrinya pensiun beberapa tahun ke depan, mereka berencana pulang ke Bogor dan menjalani hidup disana, meskipun istrinya masih belum terlalu fasih bahasa Indonesia. Diskusi kami juga panjang lebar dengan ibu Connie, seorang guru di salah satu Sekolah di Easton. Studi S2-nya diselesaikan di Wisconsin Madison dan S3-nya didapat dari University of New Mexico. Bidang studinya TESOL – pengajaran bahasa Inggris, sama seperti S2 saya dahulu. Dia berencana untuk melanjutkan karirnya sebagai Kepala Sekolah, mengingat usia yang tidak muda lagi. Banyak cerita didapat dari Ibu Connie. Satu anak perempuannya sedang berkeliling dunia selama 6 bulan dengan suaminya. Mereka berdua dulu studi di jurusan yang sama dengan saya di Lehigh University. Anak perempuan bungsu beliau sedang bekerja di New Mexico. Obrolan kami pun semakin bertambah panjang ketika Ibu Connie ternyata salah mengambil jalur mengantar kami pulang.

IMG_3303
Ibu Connie, Satrih, Rahma, dan Saya didepan Masjid seusai Shalat Eid hari ini

Lebaran kali ini memang tanpa keluarga. Lontong dan ketupat pun tidak ada. Makan siang hari ini pun hanya dengan mie rebus. Ibu tidak bisa dihubungi malam tadi. Siang ini baru beliau menelpon saya dan syukur sinyal sedang kuat, akhirnya bisa berlebaran. Namun, Tuhan punya cara lain untuk menghibur hati para musafir yang tengah menuntut ilmu di negeri orang. Mungkin tidak bertemu dengan saudara sekandung atau pun keluarga lainnya. Tetapi, ada banyak saudara seiman dari berbagai negara yang siap untuk menggantikan posisi mereka sementara, beserta berbagai cerita unik dibaliknya. Pak Ali, Ibrahim, Ibu Connie, Satrih dan Rahma mungkin yang dikirim untuk sementara menggantikan posisi keluarga saya dalam menikmati hari raya lebaran ini.

Happy Eid Mubarak everyone!

Semoga semua amal ibadah kita diterima Allah S.W.T. dan kita semakin lebih baik menjalani lembaran-lembaran baru masa depan.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi 

 

Advertisements

2 Comments

  1. Selamat Idul Fitri 1437 H mas Budi. Mohon maaf lahir batin mas Budi. Wah pengalaman mas Budi seru yah. Saya di rumah dikejutkan oleh berita meninggalnya tetangga kami yg sudah seperti saudara sendiri. Sudah 7 tahun almarhum pindah ke Subang dari Bandung. Karena almarhum kena pensiun dini. Alm pulang kampung dan bertani di sana. Tanah warisan alm ada di sana. 2 hari sebelum Idul Fitri alm naik pohon kelapa dan jatuh. Sehingga pada Idul Fitri subuh alm meninggal. Mohon doanya mas. Alm meninggalkan istri dan 1 anaknya yg smp.

    Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s