Posted in Inspirasi

Bukan Tuhan Tidak Membantu..

dsc_3642

Saat memulai studi PhD di Fall semester 2014 bulan Agustus – Desember, saya semangat sekali mempelajari berbagai hal terkait dengan studi, terutama tentang menulis satu research grant (dana penelitian). Ada banyak kesempatan untuk melamar research grant yang tersedia; sama seperti beasiswa. Mulai dari jumlah dananya disekitaran $2000 sampai ratusan ribu dollar. Silahkan kalikan saja dengan 13 ribu kalau ingin tahu jumlahnya dalam bentuk rupiah. Salah satu rencana saya adalah bekerja sama dengan pembimbing akademik untuk menulis satu proposal penelitian lalu mengirimkannya kepada satu yayasan (foundation) atau semacamnya yang sedang membuka kesempatan untuk dana penelitian. Bisa memenangkan satu research grant merupakan nilai tambah tersendiri – kita bisa melaksanakan riset sembari kuliah dan didanai. Di masa depan, pengalaman pernah memenangkan sebuah research grant bisa memperkuat CV yang dimiliki.

Karena sedang semangat sekali, di akhir semester bulan Desember, ada tiga proposal untuk research grant yang saya dan pembimbing akademik selesaikan. Kemudian, tiga proposal ini kami kirimkan ke tiga kesempatan dana penelitian yang sedang buka. Menyelesaikan tiga proposal ini sangat tidak mudah, karena harus membagi waktu dengan perkuliahan dan tugas-tugas akadmeik yang ada. Saat itu, rasanya hanya saya yang berhasil menyelesaikan proposal penelitian sesuai target; soalnya, diawal semester, mahasiswa lain di grup saya juga berencana menulis proposal, tetapi tidak selesai di akhir semester. Saya berikan usaha terbaik waktu itu untuk semua proposal yang dikerjakan. Bimbingan demi bimbingan dengan pembimbing akademik dijalani; revisi demi revisi ditekuni, hingga akhir ketiga proposal itu dikirimkan. Ah… rasanya lega sekali setelah semuanya selesai. Hati berharap ada proposal yang akan sukses di tahun 2015.

Di awal tahun 2015, satu persatu pengumuman dari research grant yang dilamar keluar. Sayangnya, hasil yang diinginkan tidak hadir dalam kenyataan. Ketiga proposal yang saya kirim itu semuanya GAGAL; tidak ada satu pun yang berhasil. Di kamar, saya terdiam beberapa saat. Ingin rasanya banting sana dan sini; meluapkan amarah sekeras-kerasnya! Siang malam saya mengerjakan proposal ini, tapi ternyata hasil yang didapat NIHIL, tak satupun proposal yang lulus mendapatkan dana penelitian. Keesokkan harinya, dengan wajah lesuh, saya menemui pembimbing akademik di kantornya. Ada sedikit rasa malu dengan beliau karena takut dianggap tidak mampu menjadi partner dia dalam menulis proposal dana penelitian. Tetapi, disisi lain, tidak ada lagi yang bisa saya berikan, karena saya sudah benar-benar maksimal dalam menulis proposal tersebut. Professor pembimbing akademik saya, kemudian, menasehati saya kalau memang memenangkan sebuah dana penelitian bukanlah pekerjaan yang mudah; ambil pelajaran dari pengalaman ini, lalu kita coba lagi nanti. Jujur, saya bukan orang yang mudah menerima hasil yang berbeda disaat sudah berusaha maksimal. Butuh waktu beberapa minggu untuk saya bisa melupakan kegagalan dan mulai mencari kesempatan research grant yang lain.

Tahu tidak apa yang terjadi berikutnya?

Di awal tahun 2016, di e-mail saya masuk satu informasi pengumuman kalau Columbia University sedang membuka peluang research grant terkait dengan beasiswa International Fellowships Program yang dilaksanakan dari tahun 2001 – 2013. Deadline waktunya sedang mepet sekali, hanya beberapa minggu lagi dari waktu saya membaca informasi tersebut. Untungnya, topik research grant yang dibuka oleh Columbia Universiity ini sejalan dengan topik tiga proposal yang saya tulis sebelumnya di tahun 2014. Akhirnya, dengan sedikit revisi sesuai dengan yang diminta oleh pihak penyelenggara dan melengkapi semua dokumen yang diminta, saya kirimlah satu proposal dana penelitian yang sebelumnya pernah dikirim dan gagal itu. Saya tidak terlalu berharap bisa mendapatkan research grant itu, karena sudah punya pengalaman gagal sebelumnya; selain itu, research grant ini pasti sangat kompetitif sekali mengingat jumlah dana yang ditawarkan lumayan dan diselenggarakan oleh kampus besar seperti Columbia University.

Ternyata, Tuhan berkehendak lain. Di Bulan Mei 2016, diumumkan kalau saya adalah salah satu pemenang untuk research grant ini! Pemenang yang lain berasal dari Belanda, Vietnam, Mesir, dan Afrika Selatan. Proposal yang memenangkan dana penelitian ini, kemudian, menjadi topik penelitian Disertasi saya yang akhirnya berhasil saya seminarkan di akhir bulan Desember 2016. Rasa syukur dan bahagia tentu saja terluap tanpa henti saat itu. Namun, ada satu pesan yang ingin sampaikan pada teman-teman semua.

Seandainya, saat Fall semester 2014 lalu saya tidak sungguh-sungguh mengerjakan proposal dana penelitian itu, mungkin saya tidak akan bisa melamar research grant yang dibuka oleh Columbia Unversity di awal tahun 2016. Jika tidak bisa mengirim proposal, berarti saya mungkin harus mencari topik penelitian lain untuk Disertasi dan belum tentu bisa melakukan seminar proposal disertasi di bulan Desember 2016, karena menulis proposal disertasi bukanlah hal yang mudah. Jika semua ini yang terjadi, saya mungkin akan sangat-sangat kesulitan untuk menyelesaikan studi PhD saya di Spring semester di tahun 2017 ini.

Lihatlah, begitu banyak yang bisa menjadi “tidak jadi” andai saja di Fall semester itu saya tidak bersungguh-sungguh menyelesaikan proposal dana penelitian yang sedang dikerjakan. Kegagalan yang dirasakan setelahnya memang sangat pahit sekali; namun, rasa keberhasilan yang didapatkan setelah kegagalan itu ketika saya terus berusaha kembali sangat-sangat manis sekali, hingga bisa memudahkan penulisan Disertasi saya.

Kawan, Tuhan pada dasarnya sudah menyiapkan berbagai situasi dalam hidup kita untuk dipilih, dan dijalani dengan sungguh-sungguh sesuai dengan impian yang kita miliki. Bukan Dia tidak pernah membantu membimbing jalan hidup kita, tetapi mungkin kita tidak cukup bersungguh-sungguh dalam menjalani setiap situasi yang diberikannya, sehingga hasil yang didapatkan berikutnya adalah akibat dari “ketidaksungguhan” kita ini; seperti situasi yang akan terjadi ketika saya tidak sungguh-sungguh mengerjakan proposal penelitian di 2014 waktu itu.

Dalam dunia ini, tidak ada satu kebetulan. Setiap situasi yang kita hadapi, menuntut kita untuk memilih, apakah akan bersungguh-sungguh menjalaninya atau tidak. Kegagalan dan keputusasaan mungkin hal yang akan kita dapatkan walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi, ingatlah, untuk terus keep going! Kesungguhan dan usaha maksimal yang sudah kita berikan akan mengantarkan kita pada satu fase keberhasilan di masa depan. Kita tidak pernah tahu kapan akan datang manfaatnya; namun, percayalah, kita bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu pun akan ada hasil positif yang tetap akan kita dapatkan, walau hanya sekedar dalam bentuk pelajaran dan pengalaman tentang kegagalan, tetapi tetap tidak semua orang melalui fase ini, bukan?

Yuk, kita sibukkan diri kita dengan mengejar prestasi dan mendesain masa depan yang lebih baik. Bersungguh menjalani setiap situasi yang diberikan Tuhan pada kita, karena, lagi, tidak ada kebetulan dalam hidup ini. Salah merespon satu situasi, dampaknya akan terus berkepanjangan di masa beritkutnya dalam hidup kita.

Saya juga percaya, ada tujuan kenapa Tuhan membuat anda membaca tulisan saya ini. Mungkin Dia ingin anda merefleksikan situasi ini dalam hidup anda, dan memperbaikinya untuk di masa depan nanti.

Let’s keep going and break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Twitter @01_budi | FB Page: sdsafadg | Line: @zux2328h

 

 

Posted in Inspirasi

T.I.D.U.R

dsc_2388

Malam tadi, saya tidur pukul 7 malam selepas shalat Isya. Bangun jam 12 malam, cuci muka lalu hidupkan Laptop, kerja kembali. Pukul 3 pagi tidur kembali dan bangun di jam 6 pagi untuk menunaikan shalat Subuh. Selepas itu, kembali ke tempat tidur dan bangun pukul 8 pagi. Gambaran ini hanya satu dari jadwal hari-hari saya yang tidak beraturan selama menempuh studi S3 di Negeri Paman Sam ini. Terkadang tidur jam 3 sore dan bangun jam 5 sore; tidak tidur sampai jam 2 atau 3 pagi, dan seterusnya.

Ah, saya selalu merindukan waktu-waktu tidur saat di Indonesia yang teratur setiap hari.

Kawan, salah satu tantangan yang akan anda hadapi saat menempuh studi di luar negeri adalah harus pandai mengatur waktu. Di awal semester mungkin masih bisa menikmati waktu tidur yang teratur dan sesuai kebiasaan. Namun, situasi akan berubah drastis seiring bertambahnya pertemuan kelas dan tugas-tugas yang harus dikerjakan.

Setiap minggu untuk setiap kelas selalu ada daftar bacaan artikel, book chapter, atau pun satu buku yang harus dibaca SEBELUM MASUK KELAS. Setidaknya, ada 2 atau 3 bacaan yang harus diselesaikan. Mungkin terdengar tidak berat bila anda membaca penjelasan saya ini. Tetapi, situasi akan terasa beratnya ketika anda harus menjalaninya bersama dua mata kuliah lainnya, tugas, kegiatan mahasiswa, dan lain sebagainya.

Beberapa minggu lalu, saya mendapatkan satu pesan dari teman yang baru memulai studi S2-nya di Amerika. Dia mengeluhkan banyaknya jumlah bacaan plus bacaannya susah sekali dimengerti. Di kelas, dia merasa ‘keteteran’ mengikuti alur diskusi teman-temannya yang kebanyakkan asli orang Amerika. Di satu sisi, dia harus memahami isi bacaan yang sulit dan disisi lain dia harus bisa menyampaikan idenya dalam bahasa Inggris; tentu saja teman-temannya asli orang Amerika tidak sulit sama sekali dengan bahasa Inggris. Situasi-situasi seperti inilah yang sering dihadapi mahasiswa internasional. Alhasil, agar bisa mengimbangi teman-teman kelas lainnya, kita harus berusaha lebih lagi belajarnya; akhirnya, waktu tidur harus mau dikorbankan sedikit dan mulai tidak teratur.

Kawan, saya tidak menulis cerita sederhana ini untuk membuat anda takut atau khawatir bagaimana nanti kalau beneran jadi studi ke luar negeri. Melainkan, saya ingin anda memahami satu situasi yang akan anda hadapi saat studi ke luar negeri nanti. Sejauh ini saya sudah berhasil menyelesaikan studi di University of Manchester, Inggris dan sekarang tengah menempuh S3 di Lehigh University, Amerika.

Saya mau bilang, kawan, ayolah coba menimba ilmu di negeri orang. Coba dan alami sebuah pengalaman proses menuntut ilmu yang berbeda. Anda punya sebuah potensi yang besar, bahkan Tuhan pun mengakui kalau anda adalah makhluk yang sempurna.

Luruskan niatnya untuk menuntut ilmu. Ikhlaskan diri untuk menjadi pribadi yang tangguh, positif, dan mencerahkan. Kita tidak tahu, mungkin dengan berawal dari membangun karakter diri ini, Tuhan  memberikan ridho-Nya – melipatkan jarak dan waktu untuk menjalani mimpi yang sudah dimiliki ini.

Yuk, semangat! Let’s break the limits..!!

If everything seems under control, you’re bot going fast enough

– Mario Andretti 

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Twitter @01_budi | FB Page: sdsafadg | Line: @zux2328h

Posted in Inspirasi

Skor TOEFL yang Tinggi Bukanlah Jaminan

10726720_626819364102328_1050810484_nAda yang bertanya,”Kak, apakah semakin tinggi skor TOEFL kita akan semakin besar pula peluang kita mendapatkan beasiswa tersebut? Misal, untuk daftar beasiswa Fulbright minimal skornya 550, berarti kalau skor kita 600 bisa lebih dipilih daripada pelamar lain yang skornya 550?”
 
Jawabannya ”Belum tentu.”
 
Masih sedikit yang memahami bahwa skor TOEFL bukan segala-galanya bagi sponsor beasiswa. Tujuan diletakkannya skor TOEFL minimal adalah setidaknya semua pelamar telah memenuhi standar kemampuan bahasa Inggris yang dibutuhkan untuk studi di luar negeri. Jadi, siapapun diantara pelamar yang terpilih, sponsor beasiswa boleh agak lega dari segi bahasa semua pelamar sudah memadai kemampuannya.
 
Skor TOEFL ini ibaratnya sebuah tiket, tiket untuk masuk mengikuti proses seleksi beasiswa ditahap selanjutnya. Bila skor TOEFL kita dibawah standar minimal yang diminta oleh pihak beasiswa yang akan kita lamar, misal diminta skornya minimal 550, lalu skor TOEFL kita hanya 530, biasanya sudah langsung gugur ditahap administrasi.
 
Sebaliknya, jika skor TOEFL kita pas 550, biasanya ini bisa membuat kita untuk ‘dipertimbangkan’ lulus ke tahap selanjutnya. Ingat, saya menulis disini untuk dipertimbangkan karena belum tentu juga sudah punya skor TOEFL minimal lantas kita merasa dijamin bakal lulus ke tahap selanjutnya. Hal yang sama juga berlaku untuk IELTS atau IBT ketika kita menggunakannya untuk melamar ke universitas di luar negeri.
 
“Wah, kalau begitu tidak ada gunanya donk belajar TOEFL?”
 
Tidak belajar TOEFL berarti tidak akan pernah bisa memenuhi skor TOEFL minimal yang ditetapkan pihak beasiswa, dengan kata lain tidak bisa mendapatan tiket untuk ikut proses seleksi beasiswa.
 
“Lalu, apa yang harus dilakukan?”
 
Tetap belajar TOEFL dengan serius dan Tekun, sembari menguatkan profil diri kita dari sisi pengalamana kerja, pengalaman organisasi, publikasi, serta terus mematangkan topik rencana penelitian masa depan yang ingin dilakukan saat studi nanti. Penjelasan lebih lengkapnya silahkan baca e-book gratis “Untukmu Scholarship Hunters” yang ada di blog sdsafadg.com.
 
Ingat, saat melamar beasiswa, jumlah pelamar yang menjadi saingan kita bisa ribuan. Saat mengikuti seleksi beasiswa S2 saya dulu ada sekitar 9 ribuan pelamar dari seluruh Indonesia dan yang diambil hanya 50 orang. Di seleksi beasiswa S3 lalu saya tidak tahu ada berapa jumlah pelamarnya, tetapi yang diambil hanya 5 orang dari seluruh Indonesia.
 
Sangat kompetitif, bukan?
 
Tips dari saya, nikmati setiap proses dalam mempersiapkan diri untuk melamar beasiswa ke luar negeri. Lakukan sebaik mungkin. Setiap orang yang ingin melamar beasiswa pasti memiliki tantangan dan kesulitan seperti yang sedang kita hadapi; artinya, bukan hanya kita yang sedang berjuang keras.
 
Memenangkan beasiswa studi ke luar negeri terkadang bukanlah tentang seberapa pintar kita, tetapi tentang seberapa baik persiapan yang telah kita buat. Semakin baik persiapan, semakin kita memahami situasi yang akhirnya membuat setiap hal yang kita lakukan terlihat lebih cerdas dari pelamar yang lain.
 
Yuk, semangat! “It always seems impossible until its done – Nelson Mandela”.
 
Let’s break the limits..!!
Posted in Inspirasi

Melihat Jauh dibalik Kesulitan yang Dihadapi

Saya yakin, asal serius dan tekun mengikuti semua kewajiban sebagai siswa di Sekolah TOEFL, pasti ada progress nanti!

Tahu kenapa? Karena dulu saya sangat benci dan bodoh di pelajaran bahasa Inggris; skor TOEFL saya juga rendah awalnya. Jadi, saya sudah merasakan dan memahami apa yang teman-teman rasakan dalam susah payahnya belajar bahasa Inggris dan TOEFL khususnya.

Yang digambar ini hanya satu dari sekian siswa yang sudah membuat progress dalam proses pembelajarannya di Sekolah TOEFL. Belum masuk belajar Listening dan Reading secara spesifik.

Sebaiknya, hindari melihat sebatas sulitnya bahasa Inggris atau TOEFL ini, tapi lihatlah juga di masa depan bila berhasil melewati semua ini nanti.

Ibaratkan seperti mendaki gunung, susah payah, tapi tahu tidak siapa yang biasanya bisa bertahan terus mendaki sampai puncak? Mereka yang pikirannya tentang apa yang akan didapatkan saat di puncak nanti serta rasa puas sudah menakhlukkan sebuah tantangan yang tidak semua orang bisa. Jadi, setiap rintangan yang ditemui, dinikmatinya saja karena tahu ada sesuatu luar biasa sebagai imbalannya nanti diatas sana.

Lalu, siapa yang biasanya berguguran tidak sampai puncak? Mereka yang pikirannya terpaku pada setiap kesulitan yang dihadapi, seolah tidak lagi melihat ‘kenikmatan’ setelahnya.

Kita harus benar-benar mengenal diri sendiri dan potensi yang dimiliki. Baru kemudian mulai menyesuaikan besaran usaha yang harus dilakukan agar dapat meraih sebuah target yang ingin diraih.

Suka atau tidak, bergerak ataupun berdiam diri, tetap saja kita akan diterpa berbagai tantangan setiap hari. Baiknya, tantangan yang dihadapai adalah tantangan yang sudah kita perkirakan dan akan mengantarkan kita pada target yang ingin diraih.

Yuk, semangat..!! Kita nikmati setiap tantangan yang ada karena kita tahu ada kenikmatan yang akan didapat bila berhasil melewatinya.

Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi 

Posted in Inspirasi

Sejauh Mana Kita Melangkah Ditentukan oleh Sejauh Mana Kita Berpikir

20160315_113029Beberapa hari lalu ada yang bertanya,

”Mas Budi, kalo boleh tahu mengapa dulu tidak mendaftar LPDP? Bukannya persyaratannya lebih mudah daripada Fulbright, mengingat Mas Budi lulusan S2 University of Manchester?”

Jawabannya sederhana: saya ini hanya modal semangat saja. Uang tidak ada. Jadi, harus mencari beasiswa yang membiayai semuanya sejak proses awal. Beasiswa Fulbright membiayai semuanya sejak dari proses lulus ke tahap wawancara. Kalau soal persyaratan, Fulbright lebih sederhana menurut saya, hee..

Saya ingin menceritakan satu hal sederhana berkaitan dengan ini.

Jadi, di tahun 2010 saya dapat beasiswa IFP Ford Foundation, kemudian mengikuti sekitar 6 bulan academic training di Universitas Indonesia. Di bulan Maret 2011, saya mengikuti IELTS Test karena ingin studi ke Inggris. Semuanya dibiayai oleh pihak beasiswa. Singkat cerita, di bulan Juli 2011 saya berangkat ke inggris untuk studi S2 di University of Manchester.

Nah, kenapa saya memilih studi ke Inggris? Alasannya: pertama, studi S2 di Inggris hanya 1 tahun, jadi bisa hemat umur. Kedua, sertifikat IELTS biasanya berlaku sampai waktu 2 tahun. Setelah lulus S2 di bulan September 2012, saya pulang ke Indonesia. Di bulan April 2013, saya melamar beasiswa S3 Fulbright dengan menggunakan sertifikat IELTS S2 lalu.

Saya ingin bilang, teman-teman harus bisa merencanakan dengan baik tentang rencana studi kedepan. Tidak bisa hanya mengikuti air mengalir saja. Contoh diatas, misalnya, bagaimana jauh sebelum memulai studi S2, saya sudah merencanakan tentang melamar beasiswa S3; Hal yang sama saya lakukan dari S1 ke S2. Diakhir, saya bisa mendapatkan beasiswa S2 setelah lulus S1 dan beasiswa S3 setelah lulus S2.

Yuk, rencanakan masa depan sebaik mungkin.

Terkadang, akan sejauh mana kita melangkah nanti biasanya ditentukan oleh sejauh mana kita sudah berpikir saat ini.

Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi 

 

Posted in Inspirasi

Berburu beasiswa itu??

12834509_10208236312319289_2128390491_nSekarang, ada banyak program dan komunitas berkaitan dengan beasiswa dan studi ke luar negeri berdiri. Berbagai cerita inspirasi dan motivasi dari mereka yang berhasil bertebaran di internet.

Tetapi, perlu disadari, berburu beasiswa itu bukanlah agar nantinya bisa dipuji dan disanjung karena berhasil berangkat ke luar negeri; bukan juga agar nanti bisa pamer foto sana sini hingga tersenyum girang merasa berbeda sendiri.

Menurut saya, berburu beasiswa itu tentang memperbaiki kapasitas diri. Ada yang skor TOEFL-nya rendah, lalu berusaha belajar siang dan malam agar skor TOEFL meningkat dan dapat melamar beasiswa. Ada yang minim pengalaman kerja, organisasi, dan prestasi, lalu perlahan berusaha memenuhinya satu persatu.

Di saat serius ingin berburu beasiswa, kita berusaha memahami apa yang harus dipersiapkan, agar dapat memaksimalkan kelebihan dan mencari cara untuk menutupi kekurangan.

Disisi lain, kita juga tidak serta merta menjadi hebat dan lebih tinggi dari orang lain hanya karena berhasil mendapatkan beasiswa studi ke luar negeri.

Tetapi, mungkin setelah melalui semua proses, kita akan memiliki kapasitas diri yang lebih baik dari sebelumnya, hingga dapat mengemban tugas untuk studi di luar negeri.

Yuk, semangat memperbaiki kapasitas diri. Mereka yang sekarang pintar, dulunya bodoh; mereka yang sekarang berhasil, dulunya mengalami banyak kegagalan. Ada proses pertumbuhan yang melibatkan waktu dan usaha di dalamnya.

Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi 

Posted in Inspirasi

Cukupkan Bicaranya, Maksimalkan Usahanya

IMG_20160311_224848Januari lalu, saya mengikuti satu program pelatihan kepemimpinan yang cukup populer di kampus-kampus Amerika selama seminggu.

Kalau mengikuti pelatihan semacam ini, biasanya semuanya aktif dan ingin berbicara, termasuk anggota di grup saya.

Berebut bicara dengan orang Amerika pakai bahasa Inggris sudah pasti kalah telak. Makanya, waktu itu saya lebih banyak diam dan mendengarkan.

Situasi ini sudah saya tebak sebelum berangkat. Jadi, saya beritahu diri jangan terlalu banyak bicara nanti. Banyakkan mendengar. Cukup berbicara dua tiga kali, tetapi berisi.

Singkat cerita, di malam hari kelima, sedang hangatnya diskusi, salah satu anggota nyeletuk,

”Wow, Budi punya 3000-an followers di Facebook..!!”

“Really?!”

Tiba-tiba, perhatian tertuju ke saya. Mulailah berbagai pertanyaan diberikan.

Saya jelaskanlah tentang Sekolah TOEFL, buku-buku yang sudah saya tulis, beserta latar belakang pendidikan. Malam itu saya melihat wajah mereka berubah drastis, dan keesokkan harinya terasa perlakuan yang berbeda. Sepertinya, diskusi malam itu sudah menyebar, sampai hari ini saya dapat undangan untuk berbicara di acara LeadTalk, versi TED Talk untuk kepemimpinan.

Kawan, yang enak itu, kita diam-diam saja berusaha siang dan malam. Tidak perlu mengumbar kata sana sini tapi usaha nol besar. Nanti, biarkan hasil usaha kita yang berbicara.

“Baru kemarin dengar lanjut studi S2 di Inggris. Sekarang, sudah di Amerika aja kamu, Bud.”

Ah, itu rasanya enak sekali ketika orang lain tahu kita punya prestasi tanpa kita memberi tahu, hee..

Cukupkan bicaranya, lalu maksimalkan usahanya. Apalagi bagi yang tengah dalam perjuangan meraih beasiswa studi ke luar negeri, prosesnya panjang dan lama. Butuh kesabaran, tahan euphoria kegembiraan sebelum semua proses sudah pasti berakhir; visa sudah ditangan..

Berbicara itu mudah, tapi diakhir apa yang sudah kita lakukanlah yang membuat perbedaan.

Yuk, semangat..!! Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi 

Posted in Inspirasi

Sebuah prestasi butuh bahu yang sesuai agar bisa memikulnya

Setelah ditimbun salju tebal dengan suhu minus dibawah 0 derajat selama musim dingin, akhirnya tiba juga waktu untuk bunga ini mekar menandai masuknya musim semi di Amerika.

Bentuk dan warnanya terlihat indah sekarang, tapi tidak sedikit yang lupa kalau sebelumnya bunga ini berhari-hari tertimbun salju, tanpa bisa menghirup udara, apalagi menikmati sinar matahari.

Saya jadi ingat, salah satu siswa ada yang berkata,” Kak budi sekarang keren ya bisa kuliah S2 dan S3 ke luar negeri dengan beasiswa. Belum lagi, banyak menginspirasi orang lewat Sekolah TOEFL”.

Ada masanya kita berjuang, dituntut untuk meningkatkan kualitas diri, dan ada masanya juga diri menikmati prestasi. Sayangnya, orang tidak melihat bagaimana kita memulai sesuatu, tetapi mereka melihat bagaimana kita mengakhiri sesuatu tersebut.

Andai saja saya gagal meraih beasiswa S2 dan S3 lalu, saya yakin tidak akan ada yang mau membaca cerita-cerita perjuangan saya dalam meraih beasiswa. Karena saya berhasil, banyaklah yang menilai dan berdatangan ingin tahu.

Kawan, apapun ujian yang sedang kita hadapi sekarang dalam usaha meraih impian, memberitahu orang lain tentang itu terkadang hanya membuat sakit hati saja. Mungkin lebih baik simpan baik-baik untuk diri sendiri. Nanti ada saatnya ujian-ujian itu menjadi cerita indah untuk kita dan orang lain.

Dimanapun posisimu, kaya atau pun miskin, bodoh atau pun pintar, keep moving forward, stay focused on your goal..!!

Sometimes, we need to get through hell to get to heaven.

Selalu ada tantangan, ujian, serta kesulitan yang menuntut kita untuk bisa memperbaiki dan menguatkan kapasitas diri.

Memang, sebuah prestasi butuh bahu yang sesuai agar bisa memikulnya.

Yuk, semangat!

Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi