Posted in Pertanyaan

Bisakah Ambil Jurusan S2 yang Berbeda dengan S1 di UK dan USA?

  • Pertanyaan:

Halo assalamualaikum kak budi.

Terimakasih telah membuatkan sarana untuk bertanya bagi kami yang bermimpi melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan sedang berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya. Semoga semua kebaikan yang kak budi lakukan untuk kami, scholarship hunters diterima oleh Allah SWT aamiin.

Sebelumnya saya sudah bertanya melalui fb messengger, tapi hingga saat ini, saya belum mendapatkan balasan. Namun saya memaklumi, mungkin ada ribuan pesan di inbox kak budi, sehingga pertanyaan saya terlewat dan belum terbaca.

Kak budi, saya tertarik sekali dengan bahasa Inggris sejak SMA. namun karena ada beberapa hal, saya tidak kuliah di jurusan sastra inggris. Background s1 saya adalah kesejahteraan sosial. Nah, yang saya ingin tanyakan adalah apakah bisa saya melanjutkan S2 ke luar negeri melalui beasiswa dengan jurusan sastra inggris? Beberapa waktu yg lalu saya mengirimkan pertanyaan lewat e-mail kepada seseorang lulusan Monash university (australia) jurusan penerjemahan. Pertanyaan yang saya ajukan kepada beliau sama seperti pertanyaan yang saya ajukan ke kak budi. Dan beliau menjawab, tidak bisa. biasanya untuk beasiswa s2, harus linear dengan S1. Bagaimana dengan beasiswa di UK atau US kak? Apakah S2-nya harus linear dengan S1? Semoga kak budi berkenan menjawab pertanyaan saya:) wassalam

Hana Sofi Dania_Bandung_STKS Bandung_

  • Jawaban Budi:

Hi Hana. Terima kasih untuk pertanyaannya.

Pertama, pahami terlebih dahulu kalau setiap beasiswa dan setiap kampus itu bisa berbeda kebijakan dan hal-hal lain terkait, jadi kita tidak bisa “memukul rata” kalau semua beasiswa itu seperti “ini”, dan semua kampus di luar negeri seperti “itu”. Kita harus tetap eksplor dan memastikan langsung ke pihak beasiswa atau pihak jurusan yang akan dilamar itu agar mendapatkan jawaban yang pasti ya. Hal ini penting karena saya lihat kebanyakkan kita hanya “dengar kata orang”, misal katanya begitu kak, atau katanya begini kak, tanpa mau mengecek langsung dengan sumber utamanya; ini yang terkadang saya sangat sayangkan.

Kedua, bisakah lanjut studi ke Inggris atau Amerika dengan beasiswa tapi di jurusan yang berbeda dengan S1 dahulu?

Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya:

  • Jawabannya BISA, jika si pelamar punya pengalaman yang sejalan dengan jurusan yang akan diambil itu. Misal, mau ambil jurusan Sastra Inggris. Walaupun S1-nya jurusan ekonomi misalnya, tapi sejak lulus dia kerja sebagai guru bahasa Inggris, kerja sebagai penerjemah, aktif di berbagai organisasi terkait bahasa Inggris, ada paper tentang bahasa Inggris, ada prestasi terkait bahasa Inggris dan lain sebagainya. Dalam kondisi ini, biasanya pihak kampus di luar negeri atau pun pihak beasiswa lebih melihat pengalaman si pelamar ketimbang apa yang dipelajarinya saat S1 lalu.
  • Jawabannya TIDAK BISA, jika jurusan yang dituju adalah jurusan yang dianggap harus memiliki latar belakang S1 jurusan tersebut agar bisa mengikuti perkuliahan S2 nanti. Biasanya, ini jurusan-jurusan seperti MBA atau tekhnik. Tetapi, lagi, setiap beasiswa dan jurusan di kampus-kampus bisa berbeda kebijakannya. Seperti kebijakan di Monash University bisa jadi berbeda dengan kampus-kampus lain di Australia, jadi jangan berpikiran semua kampus dan jurusan Sastra Inggris di Australia semuanya seperti itu. Sepengetahuan saya, sekarang tidak terlalu banyak kampus atau beasiswa yang melihat jurusan S1-nya. Mereka lebih melihat “bagaimana pengalaman yang sudah dimiliki oleh si pelamar”. Silahkan baca e-books gratis untukmu scholarship hunters di blog ini lengkapnya ya. Tapi, lagi, cek langsung ke jurusannya; kirim e-mail ke mereka.

Menurut saya, pihak beasiswa dan kampus-kampus diluar lebih melihat “pengalaman” yang dimiliki si pelamar – serelevan apa pengalaman-pengalaman yang dimiliki si pelamar dengan jurusan yang ingin mereka ambil saat S2. Singkatnya, kalau S1nya berbeda, lalu tidak punya pengalaman terkait dengan jurusan yang akan diambil saat S2; terus apa yang bisa menjadi indikator kalau si pelamar ini sudah punya “bekal” untuk menjalankan studi S2 di jurusan itu nanti? Makanya, tidak linear biasanya bisa ditoleransi, tapi harus ada pengalaman terkait dengan jurusan yang akan diambil itu.

Semoga bermanfaat. Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Twitter @01_budi | FB Page: sdsafadg

 

Posted in Pertanyaan

Apakah nanti semua yang ditulis di study objective harus tercapai semua?

  • Pertanyaan: 

Artikelnya awesome kak.. anyway, study objective yang kak budi tulis sebagai target selama kuliah, apakah harus tercapai semua? dan apakah sudah tercapai? Thanks a bunch kak.

  • Jawaban Budi:

Hi Arum. Terim kasih untuk pertanyaannya.

Pertama, kakak ingin jelaskan dulu tentang study objective ini agar punya pemahaman dasarnya.

Study Objective adalah salah satu hal yang menjadi persyaratan untuk setiap beasiswa, terutama kalau kuliahnya di luar negeri. Terkadang, namanya digunakan yang lain, seperti motivation letter. Inti isinya sama saja; hanya bila ada poin-poin yang diminta dimasukkan kedalamnya, itu mungkin yang akan menjadi pembedanya.

Kenapa Study Objective penting? Karena pihak sponsor/komite seleksi beasiswa/ kampus yang akan dilamar ingin tahu bagaimana latar belakang studi kita sebelumnya, pengalaman secara akademik, dan rencana studi kita nanti kalau diterima di kampus yang dituju.

Perlu diingat, kampus di luar negeri biasanya tidak sembarangan menerima siswa. Ada kondisi dimana terkadang kampus tidak menerima mahasiswa walau skor TOEFL atau IELTSnya sudah tinggi. Salah satu penyebabnya adalah karena study objective si mahasiswa tidak bisa “dipenuhi” oleh pihak jurusan dikampus. Jadi, kampus diluar itu akan membaca dan memahami apa tujuan studi kita dan apakah mereka punya sumber daya untuk mendukung rencana studi kita itu. Mereka akan lebih memilih menolak mahasiswa bila dirasa tidak ada “sumber daya” yang akan bisa membantu si mahasiswa saat studi nanti, misalnya tidak ada professor yang tertarik dengan topik penelitian kita, tidak ada lab yang bisa mendukung, atau study objectivenya tidak sejalan dengan tujuan dari jurusan yang dilamar itu, dan lain sebagainya.

Jadi, peranan study objective bisa dikatakan sangat penting, bukan hanya untuk agar dapat beasiswa, tetapi juga agar bisa diterima di kampus di luar negeri. Fase agar bisa diterima di kampus luar negeri ini lebih berat dari fase saat akan memenangkan beasiswa.

Kedua, apakah nanti jika sudah diterima oleh beasiswa dan diterima di kampus luar negeri, kita harus memenuhi semua “target” yang ditulis di study objective? Jawabannya: Iya. Karena memang begitulah seharusnya, bukan?

Lalu, bagaimana kalau target itu tidak tercapai? Selama studinya tidak bermasalah, tidak ada sanksi atau konsekuensi yang akan kita terima, kecuali kalau pihak beasiswanya punya kebijakan tertentu.

Perlu diingat, ada kemungkinan ketika kita memulai studi di kampus luar negeri, kita akan melaksanakan riset yang berbeda dari yang disampaikan di study objective. Menurut saya, ini tidak masalah. Riset S2 dan S3 saya berbeda sekali dari yang ditulis di study objective. Bukan karena ingin berbeda, tetapi, ketika memulai studi, banyak hal yang dipelajari dan ada dosen pembimbing, selain itu ada juga keterbatasan waktu studi yang harus juga dipertimbangkan. Jadi, semua hal-hal yang ditemui saat studi bisa jadi membuat kita berubah dari apa yang disampaikan dalam study objective. Menurut saya, ini tidak masalah, selama anda mengikuti passion dan future goals yang ingin anda raih.

Semoga bermanfaat. Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Twitter @01_budi | FB Page: sdsafadg

Posted in Pertanyaan

Apakah Lulusan Universitas Swasta Punya Kesempatan Dapat Beasiswa?

  • Pertanyaan: 

Ka mau tanya, kan saya dari univ swasta nah bisa ga dari univ swasta meraih beasiswa luar negeri? Apakah ada pembeda misalkan univ negeri lebih didahulukan/mudah mendapat full scholarship? mohon penjelasannya. soalnya saya agak minder gitu loh, sama pesaing univ negeri.

Adytia Putra_cianjur_universitas jenderal achmad yani.

  • Jawaban Budi:

Hi Adytia. Terima kasih untuk pertanyaannya.

Bisakah lulusan universitas swasta mendapatkan beasiswa S2 atau S3 lanjut studi ke luar negeri? Jawabannya: BISA.

Saat dapat beasiswa S2 dan S3 ini, saya sudah bertemu teman-teman yang mendapatkan beasiswa S2 dan S3 juga walau mereka lulusan universitas swasta.

Tetapi, satu hal perlu dipahami, yaitu setiap beasiswa memiliki tujuan dan persyaratan yang berbeda-beda, jadi tidak bisa semuanya dianggap sama semuanya.

Misalnya, memang ada beasiswa yang untuk dosen yang mengajar di kampus baik negeri maupun swasta, nah dalam konteks ini kalau yang bukan dosen melamar, sudah pasti tidak akan diterima. Ada beasiswa yang hanya diperuntukkan pegawai negeri di instansi tertentu saja, jadi yang bukan pegawai negeri di instansi yang dimaksud tidak akan lulus kalau melamar, dan seterusnya. Jadi, kuncinya adalah memahami dengan baik informasi beasiswa yang diterima atau yang akan dilamar. Baca dengan baik kriteria pelamar seperti apa yang mereka cari dan refleksikan apakan sesuai dengan latar belakang saya atau tidak.

Kebanyakkan beasiswa yang disponsori oleh pemerintah atau yayasan dari luar negeri tidak melihat apakah si pelamar lulusan universitas negeri atau swasta, tetapi yang mereka lihat adalah bagaimana profil si pelamar, pengalaman kerja dan organisasinya, bagaimana kemampuan bahasa Inggrisnya, bagaimana pengalaman risetnya, dan seterusnya. Latar belakang ini lebih penting untuk mereka lihat. Contoh beasiswa ini adalah beasiswa Fulbright, Prestasi, Chevening, dan lain-lain. Eksplor dengan baik setiap informasi beasiswa yang diterima.

Sponsor/ komite seleksi beasiswa itu mencari “Sebuah paket yang lengkap”, artinya mereka melihat kandidat lebih dari sekedar lulusan universitas swasta atau negeri. Makanya, saya pernah menulis e-books gratis untuk panduan teman-teman Indonesia dalam menyiapkan diri untuk memenangkan beasiswa studi ke luar negeri. Silahkan download dan baca ebook lengkapnya disini gratis: Ebooks Gratis Tentang Beasiswa

Pesan saya, tidak perlu minder kalau lulusan universitas swasta. Fokus pada memperbaiki profil diri kita sebaik mungkin. Sudah banyak lulusan universitas swasta mendapatkan beasiswa studi ke luar negeri. Pelajari dan baca ebooks gratis itu dengan baik ya. Karena kunci utama memenangkan beasiswa studi ke luar negeri itu bukan seberapa cerdas kita, melainkan sebaik apa persiapan yang sudah kita lakukan.

Semangat ya! Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Twitter @01_budi | FB Page: sdsafadg

Posted in Pertanyaan

Waktu Sudah Mepet, Gimana Kalau Surat Rekomendasinya dari Atasan/Kolega saja?

  • Pertanyaan:

Hai pak budi, kebetulan sekali saya baru mendapatkan info mengenai beasiswa chevening.. dan ternyata saya hanya memiliki waktu pengiriman berkas persyaratan (surat rekomendasi 2 orang, ijasah dan transkrip, passport, dan pilihan 3 jurusan di universitas di UK) paling lambat adalah tanggal 3/4 November 2016 ini..

Dikarenakan informasi yang saya terima tersebut sangat telat, akan tetapi saya benar-benar ingin mencoba peruntungan atas impian saya untuk dapat kuliah dengan biaya full beasiswa dari LN melalui chevening tersebut.

Dan kebetulan saya ingin apply master degree lagi dengan jurusan berbeda yang sebelumnya saya telah melewati pendidikan S1 di bidang manajemen, dan baru saja menyelesaikan S2 di bidang manajemen syariah di april 2016 lalu. Sedangkan bidang baru yang ingin saya apply ini adalah IT (software, hardware, maupun robotic).

Yang ingin saya tanyakan adalah,

1. Kira-kira apabila saya mencantumkan 2 surat rekomendasi dari 2 orang IT expert dengan gelar head of IT dept. head (dari 2 perusahaan tempat saya pernah bekerja) dapat menjadi pertimbangan chevening untuk menerima saya atau tidak ya? Soalnya kan saya tidak ada kenalan dosen di bidang IT.

2. Kira-kira saran dari pak budi apa ya yang perlu saya siapkan atau saran lainnya dikarenakan waktu yang sudah injury time seperti ini?

Anyway, thanks ya pak atas sharing dan jawabannya.

Regards,
FRI

Jawaban Budi:

Hi Ryan. Terima kasih untuk pertanyaannya.

Bila merujuk pada website chevening bagian references ada penjelasan siapa yang bisa menjadi referee:

” Who can be a referee? Please select your referees carefully; they should be people who can comment on your general suitability to receive a Chevening Award. Referees should be known to you, either in an academic or professional capacity. They should not be a relative or close personal friend.” (Ini link lengkapnya: Surat Rekomendasi)

Artinya, pemberi surat rekomendasi bisa yang mengenal anda secara akademik atau di bidang profesional anda (pekerjaan). Jadi, kalau anda mau menggunakan 2 surat rekomendasi dari atasan atau mereka yang kenal anda secara profesional, jawabannya bisa.

Idealnya, referees kita ada yang pembimbing akademik dulu dan atasan sekarang kalau diminta 2 surat rekomendasi.  Tetapi, dalam kondisi Ryan, silahkan dicoba saja.

Perlu diingat, proses seleksi chevening ini nanti ada fase kita harus melamar sendiri ke kampus di Inggris. Nah, disaat proses inilah surat rekomendasi juga dikirimkan ke kampus bersangkutan, karena salah satu persyaratan melamar ke kampus di luar negeri biasanya.

Apakah kalau Ryan punya 2 surat rekomendasi semuanya dari atasan atau kolega akan berpengaruh terhadap aplikasi Ryan? Menurut saya tidak terlalu kalau yang dimaksud hal yang negatif. Justru kalau yang beri surat rekomendasi atasan dan kolega yang punya jabatan dan track record bagus, surat rekomendasinya lebih bagus.

Tetapi, nanti kalau sudah masuk fase melamar ke kampus di Inggris, usahakan ada surat rekomendasi dari pembimbing skripsi/akademik dahulu, karena kampus yang dituju ingin melihat bagaimana performa anda saat studi sebelumnya.

Saran saya, maksimalkan persiapan semua aplikasinya, sepert surat rekomendasi, sertifikat IELTS, dan yang lainnya. Setelah semua sudah siap, esai-esai singkat dalam aplikasi (online) usahakan dijawab dengan baik, koreksi dan edit beberapa kali, jangan sekali duduk selesai dan kirim, karena ini yang salah satu menentukan – mereka melihat kualitas anda melalui esai-esai ini.

Semoga sukses! Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Twitter @01_budi | FB Page: sdsafadg