Manfaat Sahabat ST

(Image by Elysa)

Melalui tulisan ini, saya ingin memberitahu beberapa hal penting untuk semua siswa Sekolah TOEFL.

Mohon dibaca sampai selesai ya postingan ini. Thanks!

1. Sahabat ST

Bulan Januari lalu saya berinisiatif membuat satu program yang bernama “Sahabat ST”. Alasan yang mendasari program ini adalah karena siswa Sekolah TOEFL (ST) ada ribuan dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan beberapa tinggal di luar negeri. Selain itu, siswa ST ada di berbagai kampus, daerah, dan profesi di Indonesia dan luar negeri. Periode 4 bulan lalu saja ada 20 ribu siswa yang masuk bergabung; sebelumnya ada 13 ribu siswa.

Saya pernah baca beberapa conversation siswa di Grup WA yang ternyata teman yang satu grup dengan dia studi di kampus yang sama atau berasala dari satu daerah, tapi dia tidak tahu. Menurut saya, situasi seperti ini jangan sampai terjadi lagi. Kita perlu saling kenal, apalagi yang berasal dari satu kampus, satu daerah, atau pun satu profesi, karena ini akan bermanfaat juga untuk kita nanti. Salah seorang petinggi panitia seleksi beasiswa Fulbright pernah menasehati,” Networking is a new lifestyle!”. Singkat cerita, dicetuskanlah program “Sahabat ST” atau disingkat SST.

Agar SST ini terkoordinir dengan baik, sejak bulan Januari, saya sudah menjaring siswa – siswa yang mau menjadi Koordinator Sahabat ST untuk Kampus, Daerah, atau pun Profesi yang ingin dikoordinirnya. Kalian bisa lihat daftarnya di bagian Koordinator Sahabat ST di blog ini. Sebagian siswa sudah di add ke Grup SST, tapi masih banyak lagi yang belum.

2. Apa Manfaat Sahabat ST?

Satu hal yang sering dilupakan oleh kebanyakkan ornag yang ingin melamar satu program beasiswa, baik untuk sebuah degree atau pun exchange program, yaitu Komite Penyeleksi Beasiswa itu mencari seseorang yang memiliki pengalaman – pengalaman dalam hal Community Service (kegiatan sosial); seseorang yang sudah berbuat sesuatu untuk komunitasnya. Kalau kita cek setiap orang yang berhasil menerima beasiswa, pasti akan ditemukan latar belakang tentang kegiatan – kegiatan atau inisiatif sosial yang pernah dilakukannya, setidaknya ditunjukkan dengan aktifitasnya di berbagai organisasi kampus atau kemasyarakatan, baik tinggkat lokal, nasional, maupun internasional; ini yang sering dilupakan oleh kebanyakkan orang yang (ingin) melamar beasiswa.

Banyak yang lupa atau tidak tahu kalau skor TOEFL yang memenuhi standar saja belum cukup membuat kita terpilih menjadi penerima beasiswa. Sponsor beasiswa itu mencari seseorang yang full package, tidak hanya memadai dari sisi akademik dan skor TOEFL saja, tetapi juga punya pengalaman di bidang community service dan organisasi, yang sudah berbuat sesuatu untuk komunitas/masyarakatnya, bukan seseorang yang minim pengalaman dan masih mentah. Kalian mungkin sering lihat orang – orang yang punya inisiatif seperti mendirikan perpustakaan untuk sebuah desa, membuat kelompok belajar untuk yang putus sekolah, membantu mengatasi permasalahan sampah di kotanya, dan lain – lain; orang – orang seperti ini yang dicari oleh sponsor beasiswa; orang – orang seperti ini yang sering mendapatkan program beasiswa. Kenapa? Karena sponsor beasiswa itu mencari seorang problem solver; karena mereka mencari a future leader; karena mereka berharap beasiswa yang mereka berikan ke satu orang bisa memberikan dampak ke banyak orang.

Susahnya, ketika informasi ini saya beritahu, banyak yang kebingungan karena saat kuliah tidak aktif organisasi atau alasan lainnya, sehingga kesulitan mau memulai hal – hal seperti yang sebutkan diatas. Nah, disinilah peran sahabat ST. Saya jelaskan ya, pahami baik – baik.

Jadi, apa manfaat sahabat ST?

Setelah kalian berkumpul dengan teman – teman yang berasal dari satu kampus, satu daerah, atau pun satu profesi, silahkan kalian diskusi. Tentang apa? Tentang apa saja yang bisa memberikan kontribusi untuk orang – orang sekitar konteks kalian. Misal, kalian bisa mendirikan sebuah komunitas tertentu, kalian bisa membuat sebuah kegiatan untuk membantu satu desa, kalian bisa buat inisiasi untuk menyelesaikan satu permasalahan di kampus, daerah, atau profesi kalian. Terserah kalian mau lakukan apapun yang bisa menambahkan pengalaman organisasi atau community service pada profil diri kalian.

Sebagai contoh, ada yang mau membuat forum pemuda di daerahnya, ada yang mau membuat project sosial tertentu di bidang profesinya, ada yang mau membuat satu program untuk siswa ST yang berprofesi sebagai guru, dan lain – lain. Silahkan berkreasi dan kembangkan ide – ide kalian. Dari Sahabat ST ini bisa terlahir satu organisasi lain, bisa terlaksana satu inisiatif atau ide yang baru.. Intinya adalah melalaui Sahabat ST ini, saya ingin mengumpulkan teman – teman semua, lalu memfasilitasi teman – teman untuk semakin berbuat lebih banyak lagi untuk kepentingan perkembangan masa depan kalian.

Dan satu lagi, saya ingin teman – teman meneruskan Filosofi “SDSAFADG” ke teman – teman di Kampus, Daerah, dan Profesi kalian.

Apa filosofi SDSAFADG?

Banyak yang bertanya tentang apa arti nama ini, karena saya jadikan nama blog dan beberapa akun media sosial lainnya. Ada yang melihat ke keyboard dan mengetahui kalau huruf SDSAFADG terletak pada satu baris.

Begini, SDSAFADG berasal dari satu kata, yaitu “SAF” dalam bahasa Turki, yang berarti ” Murni/Ikhlas” atau “Pure” dalam bahasa Inggris.  Kalau dalam bahasa Prancis, pengucapan kata “SAFA” hampir sama dengan pengucapan kata Ça va yang berarti “Oke/Baik” atau “Well/Fine” dalam bahasa Inggris. Kata “SAFA” diappit oleh dua huruf “D”, kemudian huruf S dan G di awal dan diakhir nama SDSAFADG.

Lalu, apa filosofinya? Satu hal yang saya pikirkan waktu itu:

Saya niatkan ikhlas mendedikasikan blog ini untuk membantu orang lain dengan semua ilmu, pengetahuan, serta pengalaman yang saya miliki. Kemudian, mulailah saya menuliskan satu persatu informasi dan pengalaman tentang beasiswa dan studi ke luar negeri; hal yang juga pernah saya lakukan saat studi di Inggris lalu. Melalui blog ini, saya mulai membimbing orang – orang yang butuh bimbingan mengisi aplikasi atau pun esai – esai beasiswa, dan lain – lain. Dari berbagai pengalaman membantu teman – teman di Indonesia tentang beasiswa dan studi ke luar negeri, ada satu masalah yang selalu dikeluhkan oleh mereka, yaitu TOEFL. Tidak sedikit yang akhirnya putus asa, karena keterbatasan biaya untuk kursus TOEFL, karena skornya tidak naik – naik, karena ditempatnya tidak ada pelatihan kursus TOEFL yang bagus atau memadai, belum lagi ternyata TOEFL juga bukan satu – satunya persyaratan yang harus dipenuhi saat ingin melamar beasiswa. Singkat cerita, lahirlah “Sekolah TOEFL”.

Waktu itu saya sadar bahwa Sekolah TOEFL ini akan memakan banyak waktu dan pikiran saya, apalagi saya bertujuan ingin membantu teman – teman yang hidup dalam “keterbatasan”, mulai dari keterbatasan waktu, keterbatasan finansial, sampai keterbatasan akses. Jujur, membantu orang – orang ini tidak mudah karena mereka sudah hidup dalam “keterbatasan”. Tahu apa hal pertama yang pasti akan ditemukan? “Keputusasaan”.

Namun, untungnya, saya datang dari situasi yang penuh keterbatasan, mulai dari keterbatasan secara finansial, otak yang pas – pasan, sampai yang harus bekerja siang malam agar tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup. Jadi, saya sangat paham bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan. Tetapi, ketika saya diberikan kesempatan untuk studi S2 beserta berbagai academic training yang datang bersamanya, saya tumbuh menjadi seseorang yang “kompetitif”; saya bisa bersaing dengan orang – orang dari berbagai negara di University of Manchester, Inggris, dimana salah satu kampus terbesar di Inggris. Pengajar di kampus ini sudah banyak melahirkan teori – teori yang mendunia dan penerima Nobel Prize, seperti Ernest Rutherford, Niels Bohr, dan lain – lain. Setelah berkembang pesat seusai S2, saya kembali mendapatkan beasiswa Fulbright Presidential Scholarship yang hanya diberikan ke 5 orang dari se-Indonesia; saya pun langsung melanjutkan studi S3 di Amerika Serikat.

Nah, perkembangan diri saya, dari yang serba penuh kertebatasan, kemudian menjadi seseorang yang kompetitif ini membuat saya percaya bahwa “We cannot say that somebody cannot do something, while she or he does not have the privilege to learn about it. If we give them the opportunity to learn, they will probably be able to perform even better!”. Orang – orang yang hidup dalam keterbatasan itu bukanlah karena mereka bodoh hingga tidak bisa bahasa Inggris atau punya skor TOEFL rendah; orang yang hidup dalam keterbatasan itu bukan karena otaknya tidak terangkat dan tidak mampu bersaing dengan orang – orang lain diluar sana, apalagi di luar negeri. Permasalahannya adalah mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang itu, sedangkan orang – orang yang hidup penuh “kelebihan” punya akses mudah untuk belajar; bagaimana bisa kita membandingkan orang – orang yang hidup dalam kondisi berbeda ini? Saya yakin, jika orang – orang yang hidup dalam keterbatasan ini diberikan kesempatan, mereka mungkin akan mampu berbuat bahkan lebih baik lagi! Dari sini, muncullah, motto Sekolah TOEFL: Let’s break the limit..!!

Melalui Sahabat ST ini, saya ingin siswa – siswa Sekolah TOEFL membawa dan menyebarkan filosofi ini ke teman – teman di kampus, daerah, atau pun profesi lainnya. Bangun karakter seorang scholar yang menebar manfaat untuk orang lain. Kalau teman – teman sering baca cerita – cerita sederhana yang saya share di grup, teman – teman akan mengetahui bahwa melalui cerita – cerita itu, saya membangun karakter siswa – siswa Sekolah TOEFL: untuk belajar melihat kehidupan dengan lensa yang berbeda. Dengan harapan, kalian semua akan mampu muncul, berkarya dan berprestasi pada level lokal, national, bahkan international; disini filosofi huruf D itu, mewakili kata “Dunia”.

Sedangkan untuk huruf “S dan “G”, menurut saya kedua huruf ini unik dan eye-catching. Dalam penglihatan saya, kedua huruf ini seperti memiliki karakter tertentu; harapannya, siswa – siswa Sekolah TOEFL dapat tumbuh dengan sebuah karakter, yang bisa membuat sebuah perbedaan di kehidupan sekitarnya. Awal dan akhir selalu menjadi fase yang harus kita jalani dalam setiap hal di kehidupan ini; apapun itu, yang pasti selalu jalani dengan sebuah karakter, karakter yang terbentuk atas dasar Keikhlasan, hanya mengharapkan keridhaan Tuhan. Berharap, semua yang kita lakukan dinilai ibadah; berharap, yang kita lakukan dapat sedikit membasuh hati yang kesusahan; berharap, kita bisa menjadi penyegar bagi dahaga – dahaga yang kering; berharap, menjadi hujan yang menumbuhkan kehidupan baru setelah kehadirannya didunia. Amin…

3. Mau jadi Koordinator Sahabat ST?

Nah, bagi siswa ST yang tertarik ingin menawarkan diri sebagai Koordinator SST untuk Kampus, Daerah, atau Profesinya, silahkan baca Jobdes Koordinator SST disini: https://sdsafadg.com/koordinator-sahabat-st/jobdes-koordinator-st/

Lalu, isi formulir ini. Saya akan memilih dari yang mendaftar ini nanti.

Kalian tidak perlu mendaftar semua ya, karena nanti para Koordinator SST ini akan menambahkan kalian ke grup Kampus, Daerah, atau pun Profesi yang terkait dengan diri kalian; saya sudah punya datanya.

Ini saja dulu ya. Semoga bisa dipahami dengan baik.

Let’s break the limits..!!

 

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi 

Advertisements