My Own Way…

Masih jelas teringat sewaktu kelas 1 SD dulu nyaris tidak naik kelas gara-gara jumlah merah yang banyak. Untung di Catur Wulan ketiga merahnya turun jadi dua; jumlah minimal mau naik kelas. Naik SMP dan SMA, saya bukan siswa yang terbaik dikelas walaupun masuk rangking 10 besar. Masuk S1, wah, banyak teman-teman sekelas yang IPKnya lebih tinggi. IPK saya mah buat cum laude aja nggak cukup, hee..

Yang saya ingin sampaikan adalah terkadang kita membandingkan diri kita dengan teman sekelas, sekampus, atau setempat kerja. Jelas sekali terlihat bahwa kita bukan yang terbaik; banyak yang otak atau kemampuannya jauh diatas kita. Kalaulah ada sebuah kesempatan datang, kita langsung berpikir bahwa mereka-mereka yang terbaik inilah yang akan menang, terpilih atau mendapatkan kesempatan itu duluan.

Tapi, kita jangan lupa juga bahwa yang memenangkan sebuah pertempuran terkadang bukanlah yang terkuat. Dipertandingan sepak bola, tim yang dipenuhi pemain kelas dunia dengan bayaran gaji yang besar bisa saja kalah dengan tim yang biasa saja. Kita tidak pernah menyangka kalau seorang perempuan yang dilarang bersekolah di Pakistan akan memenangkan sebuah Noble Prize internasional, mengalahkan pemimpin-pemimpin termuka di berbagai negara. Cerita ini bisa terus dan terus berlanjut kalau mau.

Seorang teman dekat saya pernah bilang,”Sebuah kemajuan yang dilakukan oleh orang lain bukan berarti sebuah kegagalan bagimu”. Kita sering membandingkan apa yang kita miliki atau telah lakukan dengan yang dimiliki dan dilakukan oleh orang lain. Disaat kita lebih rendah atau lebih sedikit, biasanya langsung ciut, minder, dan lain-lain sampai kadang ada perasaan iri.

Setiap orang punya jalan hidupnya sendiri. Jauh sebelum kita lahir ke dunia, semua catatan hidup kita sudah diselesaikan Tuhan, dari lahir sampai meninggal nanti. Kita hanya perlu berusaha sebaik mungkin, tekun, disiplin, dan kerja keras untuk hal yang kita ingin capai. Tidak perlu pikirkan kalau teman atau saingan kita yang lain lebih baik atau tidak dari kita kalau itu membuat kita merasa lemah.

Rencanakan semuanya dengan baik. Buat persiapan sematang mungkin. Perhitungkan kemampuan diri dan semua kemungkinan yang bisa dilakukan agar bisa terus memperbaiki kualitas diri. Pelajari hal-hal yang bisa menambah nilai pribadi. Banyak membaca dan belajar dari pengalaman orang lain. Akui kelemahan yang dimiliki, namun terus mencari solusi untuk menutupinya dengan jalan yang lain.

Sibuk mengkhawatirkan tentang kalah atau menang, gagal atau berhasil, kadang membuat kita lama berhenti. Lebih baik fokuskan semua yang dimiliki untuk berjuang meraih apa yang diimpikan.

Tanamkan dalam diri,” Mungkin banyak yang lebih baik dari saya, tapi saya akan tunjukkan apa yang membuat saya lebih baik dari mereka. I will keep moving forward. No matter what it takes, I will keep on trying. I have my own way..! I have my own way..!!”

Itu yang selalu saya tanamkan ke diri sendiri ketika melamar beasiswa S2 dan S3 lalu. Makanya, saya bisa bertahan sampai akhir dan bisa meraihnya. Tugas kita bukan untuk meyakinkan manusia, melainkan “meyakinkan” Tuhan, dalam bahasa kita sebagai manusia, kalau kita pantas untuk mendapatkan sesuatu yang diimpikan itu.
                     

– – – – Budi Waluyo

Advertisements