Optimislah, Kawan…

Kemarin ada yang cerita ke saya kalau dia selalu ragu dengan kemampuan bahasa Inggrisnya; dia ragu kalau punya mimpi studi ke luar negeri apa nanti mampu bersaing dengan mahasiswa internasional lainnya di kampus luar sana; sedangkan, belajar di kampus di Indonesia sekarang saja masih kesulitan menjadi yang terbaik; masih banyak dapat nilai rendah. Kemudian, muncul keinginan apa tidak sebaiknya kuliah di dalam negeri saja. Lebih masuk akal kalau menimbang kemampuan saya yang sekarang, begitu katanya.

Sebenarnya, cerita seperti ini banyak sekali saya dengar dari teman-teman pelajar di Indonesia yang sedang mengejar keinginannya untuk studi ke luar negeri dengan beasiswa. Jadi, pertama, saya ingin bilang, kalau cerita diatas termasuk yang sedang kalian risaukan sekarang, pahamilah bahwa kalian bukanlah orang pertama dan satu-satunya yang merisaukan hal tersebut. Mau kuliah di kampus luar atau pun di dalam negeri, sama-sama sulit.

Kedua, there is no magic in learning. Semua orang harus melalui proses kerja keras dan tekun dalam belajar. Selalu ada ribuan kegagalan, dan hanya secuil keberhasilan. Kondisimu yang sekarang belum tentu kondisimu di masa depan, karena hidup kita terus berubah dan berkembang.

Saya pernah cerita pada salah satu staff yang memberikan beasiswa S2 saya lalu. Saya bilang,” Bu, saya ini tidak pernah punya komputer atau laptop sendiri. Kalau mau mengetik, saya selalu ke rental komputer. Tapi, S2 saya nanti ada unsur teknologinya. Bagaimana ini? Apa saya tidak akan ketinggalan dari mahasiswa yang lain nanti? Saya hanya kenal komputer sebatas mengetik saja”. Saya tidak ingat apa jawaban beliau waktu itu persisnya, tapi saya ingat beliau bilang,” Kamu pasti bisa!”.

Ternyata beliau benar. S2 saya syukur lancar sampai bisa lanjut S3 sekarang dengan nilai yang bagus; bahkan, jauh dari nilai waktu S1 dahulu. Padahal, kalau mau lihat ke belakang, saya juga punya perasaan takut tidak mampu bersaing di kampus luar negeri. Saya rasa, perasaan ini wajar dan dimiliki setiap orang. Bahkan, perasaan seperti ini dibutuhkan sebagai pengingat bahwa kita harus selalu mempersiapkan diri dengan baik.

Kalau bingung atau ribet bagaimana memulainya, take one step at a time; take one thing at a time. Satu persatu ditingkatkan kemampuan diri. Tidak ada jalan pintas. Kalau ada seseorang yang bagus di satu hal, itu karena dia kerja keras dan tekun agar bisa menguasai hal tersebut sebelumnya; bukan didapat dengan hanya belajar 1 atau 2 jam saja.

Ada ungkapan dari orang Prancis berbunyi,” Musicians are only paid at the end of the dance”. Usaha dulu, baru bisa menikmati hasil.

Optimislah! Take one step at a time. Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak bisa? Ragu atau takut tidak berhasil itu biasa, tapi jangan jadikan itu kebiasaan untuk tidak berusaha, kawan.

– – – – Budi Waluyo