Bagaimana cara mendapatkan LOA?

Sekarang, nama LOA sering sekali disebut-sebut, tapi terkadang yang menyebutnya tidak tahu apa dan bagaimana proses dalam mendapatkan LOA. Sampai ada yang bertanya ke saya,” Kak, bisa minta LOA dari kampus kakak?”. Haduh, kalau pertanyaannya seperti ini, sudah kebayang yang nanya pasti belum tahu banyak.

Nama LOA semakin populer karena ditunjang dengan beasiswa pemerintah kita yang mengumumkan penerimanya, kemudian “membiarkan” orang yang dinyatakan sebagai awardee mencari dan melewati sendiri proses melamar ke kampus luar negeri – proses ini yang sering dirujuk sebagai cara mendapatkan LOA. Tanpa dibantu banyak dalam prosesnya.

Jadi, bagaimana cara mendapatkan LOA? Singkatnya, mengirim lamaran ke kampus luar negeri yang dituju. Buka website universitas yang dituju. Lihat bagian admission atau program jurusan yang dituju. Dihalaman ini akan ditemukan penjelasan tentang program tersebut, profil pengajar sekaligus persyaratan untuk melamar dan tanggal penerimaan berkas lamaran mahasiswa baru untuk S2 dan S3. Semua prosedurnya jelas informasinya di website universitas. Ada juga contact person kalau kita ada pertanyaan.

Setelah semua berkas lamaran dikirim ke universitas yang dituju dan semua aplikasi online sudah diisi. Setelah tanggal pendaftaran mahasiswa baru ditutup, komite penyeleksi akan mereview aplikasi mahasiswa baru yang masuk. Dalam waktu beberapa minggu atau 1 atau 2 bulan akan diumumkan hasilnya. Ada yang diterima sepenuhnya, ada yang diterima dengan syarat, dan ada yang gagal. Pihak universitas akan mengirimkan email pemberitahuannya pada pelamar. Kalau diterima, di email itu akan diberitahu kalau aplikasinya sukses dan diterima di kampus, biasanya ada lampiran surat dari kampus yang menyatakan diterima di jurusan yang dituju di tahun akademik ini. Surat inilah yang disebut Letter of Acceptance (LOA); kalau di Inggris menggunakan kata “offer” letter: unconditional offer.

Pesan saya, hati-hati buat yang sudah dinyatakan sebagai awardee sebuah beasiswa tapi belum diterima di kampus manapun. Jangan terlalu senang dan mulai menyebar informasi akan kuliah ke luar negeri. Prosesnya masih panjang. Bahkan, proses untuk bisa diterima disebuah kampus luar negeri itu lebih rumit dan sulit daripada proses melamar beasiswa itu sendiri. Kalau gagal diterima dikampus luar negeri, beasiswa hangus dan tidak jadi berangkat. Adakah yang mengalami ini? Buanyyakkk.. Selama Visa belum ditangan, kemungkinan tidak jadi berangkat masih besar.

Satu lagi, tidak semua beasiswa membiarkan si “awardee”nya melamar sendiri ke kampus yang dituju di luar negeri. Contoh salah satunya adalah beasiswa Fulbright. Semua proses melamar ke kampus luar negeri dibantu oleh mereka. Kita hanya menyiapkan berkasnya saja. Bahkan, tes TOEFL IBT dan GRE dibayarin. Semua komunikasi dengan kampus, mereka yang lakukan melalui staff-staff yang sudah ahli. Kita tinggal diam saja dirumah sambil nunggu kabar dari mereka.

– – – – Budi Waluyo

If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.”
—- Haruki Murakami