Posted in Beasiswa, Studi di Amerika

Prosedur Mendapatkan LOA dari Universitas Luar Negeri

Office Lens_20150426_080959
Lehigh University, PA, USA.

Tidak sedikit yang masih bingung tentang Letter of Acceptance (LOA) dan prosedur untuk mendapatkannya. Ditambah lagi, beasiswa dari pemerintah Indonesia, seperti beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), beasiswa Presiden, dan beasiswa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) mensyaratkan LOA sebagai salah satu persyaratan untuk melamar beasiswa. Semakin banyaklah yang bertanya-bertanya tentang LOA dan bagaimana cara mendapatkannya; dosen yang mengajar di perguruan tinggi saja terkadang masih tidak terlalu paham apalagi mereka yang baru lulus Sarjana dan berniat melamar beasiswa S2 luar negeri, pasti lebih bingung lagi.

Sebenarnya kalau boleh memberikan saran, saya akan menganjurkan lebih baik teman-teman melamar beasiswa sponsor luar negeri, seperti beasiswa Fulbright, Prestasi, New Zealand, dan lain-lain, yang tidak mensyaratkan LOA di depan saat melamar beasiswa. Alasannya sederhana: mendapatkan LOA tidak mudah, ada beberapa proses yang harus dilewati, dan memakan biaya. Kalau beasiswa sponsor luar negeri, pihak beasiswa yang akan membantu proses pendaftaran ke universitas di luar negeri, biaya mereka yang tanggung, plus melamar ke universitas luar negeri dengan label menggunakan nama beasiswa tertentu lebih besar kemungkinan diterima ketimbang melamar sendiri.

Beasiswa S2 dan S3 yang saya dapatkan berasal dari sponsor luar negeri, karena memang jauh sebelum melamar beasiswa saya sudah bilang ‘tidak’ untuk beasiswa yang minta LOA di muka. Beasiswa yang meminta LOA di muka artinya mereka mau terima beres, tidak mau berpusing ria membantu mendapatkan kampus di luar, bila seseorang sudah diterima sepenuhnya di satu kampus, berarti si pihak beasiswa cuma tinggal mengeluarkan uang saja untuk biaya kuliah, biaya hidup, dan tiket pesawat. Sayangnya, kebanyakan beasiswa pemerintah Indonesia masih tipe yang seperti ini sehingga banyak orang Indonesia yang berniat melamar beasiswa lanjut studi ke luar negeri tapi mentok di LOA.

Di tulisan ini, saya akan bahas secara spesifik  prosedur mendapatkan LOA dari kampus di luar negeri. Sebagai contoh, saya ambil dua negara: Inggris dan Amerika dan dua kampus tempat saya studi: University of Manchester dan Lehigh University. Inggris mengawakili negara-negara di Eropa dan Australia yang biasanya meminta IELTS dan Amerika yang meminta TOEFL IBT, sedangkan negara lain umumnya menggunakan salah satu dari tes Internasional ini. Saya akan jelaskan menggunakan poin-poin agar lebih mudah dipahami.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa ingin mendapatkan LOA berarti harus melamar ke Universitas di luar negeri. Untuk jenjang S2 dan S3 di luar negeri, umumnya tidak ada tes tertulis yang dilakukan seperti SNMPTN, apalagi dilakukan serentak. Kalaupun ada tes tertulis, hanya untuk jurusan dan kampus tertentu saja. Cara mengetahuinya nanti dijelaskan di poin prosedur mendapatkan LOA. Kemudian, pastikan sudah mengetahui kampus mana dan jurusan apa yang ingin dilamar.

1. Buka website universitas yang dituju, lalu cari bagian yang menyediakan informasi tentang jurusan. Pilih jurusan yang diminati. Masing-masing universitas menggunakan nama sesi yang berbeda di websitenya. Biasanya, bisa ditemukan di bagian study, department, dan degree.

Contoh:

  • Di University of Manchester:  Klik study, muncul pilihan jenis study. S2 biasanya masuk ke Taught Master. Klik Taught Master. Ada course finder, bisa ketik nama jurusan yang dituju. Bila nama jurusan belum pasti, klik pilihan A-Z list courses. Terkadang nama jurusan antara satu universitas dengan universitas yang lain bisa berbeda sedikit walaupun esensinya sama.

Presentation1

  •  Di Lehigh University: Klik Academics. Lihat bagian Department. Setelah muncul nama-nama jurusan, klik nama jurusan yang dituju.

a5

2. Setelah nama jurusan yang diminati di klik, akan muncul berbagai informasi meliputi daftar mata kuliah, nama pengajar, jenis tugas, lama studi, sampai persyaratan melamar ke jurusan ini.

  • Contoh di University of Manchester bila di klik jurusan TESOL:

b3

  • Contoh di Lehigh University bila di klik jurusan Comparative and International Education:

c2

3. Fokus pada pencarian persyaratan untuk melamar, waktu pembukaan lamaran, dan proses seleksi. Informasi ini tersedia di halaman jurusan yang sedang dibuka. Di bagian persyaratan, akan ditemukan skor TOEFL IBT, IELTS, atau GRE berapa minimal yang harus dipenuhi oleh calon mahasiswa, berapa banyak surat rekomendasi yang harus dikirimkan, dan lain sebagainya. Di Bagian waktu pendaftaran, cermati kapan pendaftaran mahasiswa baru dibuka dan ditutup. Di bagian proses seleksi, akan ditemukan apakah akan ada wawancara antara kampus dengan calon mahasiswa, ada tes lagi atau tidak, dan seterusnya.

  • Di University of Manchester, ada dibagian: application and selection di klik, muncul how to apply klik, pilih apply now, lalu muncullah apa saja persyaratan yang diminta.
  •  Di Lehigh University, klik degrees, plih MA in comparative and international education misal, di overview paling bawah dijelaskan apa saja persyaratan yang diminta.

4. Di setiap website universitas umunya ada sesi berlabel “Admission”, artinya semua hal tentang melamar ke universitas tersedia disini. Bila tidak menemukan informasi tentang persyaratan dan waktu pendaftaran di bagian jurusan, bisa cek dibagian admission. Waktu pembukaan lamaran dan jadwal mulai kuliah bisa tersedia di bagian admission. Jika masih tidak juga menemukan informasi yang diinginkan, lihat contact e-mail dihalaman jurusan yang diminati dan kirim e-mail tentang permintaan informasi yang diinginkan, biasanya dibalas.

5. Langkah terakhir, lengkapi persyaratan yang diminta. Ikuti prosedur yang dijelaskan di website. Ada universitas yang meminta calon mahasiswa mengirimkan aplikasi dengan pos dan ada yang cukup upload online. Sebagian kampus menerapkan biaya pendaftaran dan yang lainnya tidak. Semuanya dijelaskan rinci di website. Bila tidak ditemukan, kirimkan e-mail.

Itulah prosedur mendapatkan LOA dari universitas di luar negeri. Langkah-langkah ini bisa juga dilakukan dalam rangka memahami universitas dan jurusan yang diminati. Misalnya, sudah tahu mau ambil jurusan apa, tetapi masih bingung kampus mana yang cocok, ingin melihat apa saja persyaratan untuk melamar, berapa skor TOEFL IBT dan IELTS yang diminta, dan seterusnya. Prosedur ini singkat namun tidak bisa dipahami dan diselesaikan sekali duduk. Perlu kesabaran mempelajari persyaratan yang diminta, melengkapinya, sampai mengirimkan aplikasi ke universitas. Jika bingung, gampang, langsung  kirimkan langsung e-mail ke contact person jurusan yang diminati. Banyak yang terjadi malah bertanya pada orang Indonesia yang kuliah di universitas lain, biasanya jadi tambah bingung.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: sdsafadg I Twitter @01_budi | Instagram: sdsafadg

Advertisements
Posted in Beasiswa, Cerita

Not Fresh from the Oven

10641245_843034385730384_5274299338165932888_n

Sejak bulan lalu, e-mail saya menerima beberapa pesan minta tolong koreksi aplikasi beasiswa yang akan menutup dalam waktu dekat, mulai dari formulir aplikasi sampai study objective dan personal statement. Disela-sela kesibukkan studi, saya coba luangkan waktu membaca aplikasi yang dikirim. Semoga dengan membantu orang lain bisa mempermudah jalan saya menyelesaikan tugas paper semester ini. Satu per satu saya baca, ada aplikasi yang butuh perbaikan banyak, sedangkan yang lain sudah bagus tapi masih harus diperbaiki lagi. Sayangnya, sembari memberikan koreksi dan komentar, terbayang di pikiran saya tentang sisa waktu yang tersedia sebelum deadline beasiswa yang akan dilamarnya. Memperbaiki tulisan dan aplikasi beasiswa bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dalam waktu satu atau dua hari. Terkadang, butuh diskusi, baca, dan lain sebagainya, karena celah yang harus diperbaiki sudah mulai sulit terlihat. Ditambah lagi, mengirim tulisan segera setelah jadi biasanya jarang memberikan hasil yang diharapkan.

Berbicara tentang menulis, sewaktu sedang studi di University of Manchester, Inggris, saya suka mengikuti acara Kemisan yang diadakan Mas Yanuar Nugroho, orang Indonesia yang menjadi Professor di universitas ini. Acara Kemisan ini untuk membantu mahasiswa Indonesia dengan tugas-tugas kuliah yang ada, seperti esai, penelitian, dan seterusnya, setiap hari Kamis sekitar satu sampai dua jam. Menulis dengan bahasa Inggris berbeda jauh dengan menggunakan bahasa Indonesia. Cara berpikir orang Asia dalam menulis juga berbeda dengan cara berpikir orang Barat. Rata-rata mahasiswa Asia yang baru pertama kali studi ke luar negeri akan menghadapi kesulitan dalam hal menulis. Bukan karena bahasa Inggris mereka yang tidak bagus, melainkan cara mengorganisasi tulisan yang perlu waktu mengikuti gaya kepenulisan sebenanrya dalam bahasa Inggris. Punya skor TOEFL atau IELTS yang tinggi bukan jaminan bisa melewati esai atau paper dengan baik, karena menulis akademik berbeda jauh dengan konsep dua tes internasional tersebut.

Satu nasehat yang selalu diberikan Mas Yanuar pada kami saat itu, ” Jangan pernah submit tulisan yang baru saja selesai”. Kita bakal senang bukan main ketika berhasil menyelesaikan satu tulisan. Rasanya tulisan itu segar sekali dan ingin segera dikirim. Selain itu, ada rasa malas juga untuk merevisinya lagi. Perlu diingat, ada idiom yang mengatakan, “Fresh from the Oven”, tapi mungkin ini tidak berlaku untuk menghasilkan tulisan yang bagus, Bayangkan, kita baru saja mengeluarkan roti dari oven, fresh from the oven, lalu coba nikmati segera setelah dikeluarkan. Bagaimana rasanya? Tentu saja panas. Belum sempat menikmati rasa roti, bibir sudah terasa terbakar terlebih dahulu. Perlu beberapa waktu untuk mendinginkan roti setelah dikeluarkan kemudian baru bisa dinikmati. Begitu juga dengan tulisan. Harus dibiarkan dulu beberapa saat, minta tolong orang lain baca, minta komentar mereka, baru kemudian terlihat kekurangan dan revisi kembali. Tulisan yang bagus merupakan hasil dari puluhan kali editing, bukan yang dikirim segera setelah jadi.

Aplikasi beasiswa melibatkan banyak sekali tulis menulis, mulai dari esai yang singkat sampai proposal penelitian, diluar persiapan dokumen-dokumen resmi lainnya. Kirim langsung segera setelah jadi bak sebuah roti yang dikeluarkan langsung dari oven panas, bukanlah ide yang baik. Mungkin mengirim aplikasi beasiswa tidak sulit, hanya tinggal kumpulkan semua dokumen, pergi ke kantor pos, done! Namun, perlu diingat, sejak dokumen itu dikirim, pikiran kita akan terus menerus terikat dengannya. Seleksi beasiswa studi ke luar negeri umumnya memakan waktu satu tahun, bayangkan saja terjebak dalam pengharapan dan kecemasan akan hasil selama itu. Bila seorang penebang kayu diberikan waktu sepuluh jam untuk menebang satu pohon besar, dia akan menghabiskan delapan jam mengasah kampaknya. Persiapan adalah kunci dalam meraih hasil yang diinginkan.

Buat perencanaan dengan menggunakan timeline dimana ujungnya adalah dua hari sebelum deadline. Perhitungkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan aplikasi atau tulisan, kapan harus mengirimkan pada orang lain agar bisa dikoreksi. Setiap orang punya kesibukkan, dan membantu mengoreksi tulisan lain bukanlah aktifitas yang mengasyikkan, maka perlu beri beberapa waktu pada mereka. Semua proses ini tidak akan berjalan seperti yang diharapkan, terkadang feedback baru didapat mendekati deadline, dan lain sebagainya. Harus siap tekun kerja siang malam. Dalam menyelesiakan sebuah tulisan seperti di aplikasi beasiswa, berapapun waktu yang dimiliki, terkadang tidak sesuai saja; satu tahun kebanyakan, satu bulan terlalu sedikit, dan lain-lain. Semuanya bergantung dengan kesungguhan diri, mau seberapa banyak atau sedikit waktu yang ada, selalu akan ada celah untuk bekerja, walau beberapa pengorbanan harus dilakukan.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi