Posted in Inspirasi

Cukupkan Bicaranya, Maksimalkan Usahanya

IMG_20160311_224848Januari lalu, saya mengikuti satu program pelatihan kepemimpinan yang cukup populer di kampus-kampus Amerika selama seminggu.

Kalau mengikuti pelatihan semacam ini, biasanya semuanya aktif dan ingin berbicara, termasuk anggota di grup saya.

Berebut bicara dengan orang Amerika pakai bahasa Inggris sudah pasti kalah telak. Makanya, waktu itu saya lebih banyak diam dan mendengarkan.

Situasi ini sudah saya tebak sebelum berangkat. Jadi, saya beritahu diri jangan terlalu banyak bicara nanti. Banyakkan mendengar. Cukup berbicara dua tiga kali, tetapi berisi.

Singkat cerita, di malam hari kelima, sedang hangatnya diskusi, salah satu anggota nyeletuk,

”Wow, Budi punya 3000-an followers di Facebook..!!”

“Really?!”

Tiba-tiba, perhatian tertuju ke saya. Mulailah berbagai pertanyaan diberikan.

Saya jelaskanlah tentang Sekolah TOEFL, buku-buku yang sudah saya tulis, beserta latar belakang pendidikan. Malam itu saya melihat wajah mereka berubah drastis, dan keesokkan harinya terasa perlakuan yang berbeda. Sepertinya, diskusi malam itu sudah menyebar, sampai hari ini saya dapat undangan untuk berbicara di acara LeadTalk, versi TED Talk untuk kepemimpinan.

Kawan, yang enak itu, kita diam-diam saja berusaha siang dan malam. Tidak perlu mengumbar kata sana sini tapi usaha nol besar. Nanti, biarkan hasil usaha kita yang berbicara.

“Baru kemarin dengar lanjut studi S2 di Inggris. Sekarang, sudah di Amerika aja kamu, Bud.”

Ah, itu rasanya enak sekali ketika orang lain tahu kita punya prestasi tanpa kita memberi tahu, hee..

Cukupkan bicaranya, lalu maksimalkan usahanya. Apalagi bagi yang tengah dalam perjuangan meraih beasiswa studi ke luar negeri, prosesnya panjang dan lama. Butuh kesabaran, tahan euphoria kegembiraan sebelum semua proses sudah pasti berakhir; visa sudah ditangan..

Berbicara itu mudah, tapi diakhir apa yang sudah kita lakukanlah yang membuat perbedaan.

Yuk, semangat..!! Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi 

Advertisements
Posted in Inspirasi

Sebuah prestasi butuh bahu yang sesuai agar bisa memikulnya

Setelah ditimbun salju tebal dengan suhu minus dibawah 0 derajat selama musim dingin, akhirnya tiba juga waktu untuk bunga ini mekar menandai masuknya musim semi di Amerika.

Bentuk dan warnanya terlihat indah sekarang, tapi tidak sedikit yang lupa kalau sebelumnya bunga ini berhari-hari tertimbun salju, tanpa bisa menghirup udara, apalagi menikmati sinar matahari.

Saya jadi ingat, salah satu siswa ada yang berkata,” Kak budi sekarang keren ya bisa kuliah S2 dan S3 ke luar negeri dengan beasiswa. Belum lagi, banyak menginspirasi orang lewat Sekolah TOEFL”.

Ada masanya kita berjuang, dituntut untuk meningkatkan kualitas diri, dan ada masanya juga diri menikmati prestasi. Sayangnya, orang tidak melihat bagaimana kita memulai sesuatu, tetapi mereka melihat bagaimana kita mengakhiri sesuatu tersebut.

Andai saja saya gagal meraih beasiswa S2 dan S3 lalu, saya yakin tidak akan ada yang mau membaca cerita-cerita perjuangan saya dalam meraih beasiswa. Karena saya berhasil, banyaklah yang menilai dan berdatangan ingin tahu.

Kawan, apapun ujian yang sedang kita hadapi sekarang dalam usaha meraih impian, memberitahu orang lain tentang itu terkadang hanya membuat sakit hati saja. Mungkin lebih baik simpan baik-baik untuk diri sendiri. Nanti ada saatnya ujian-ujian itu menjadi cerita indah untuk kita dan orang lain.

Dimanapun posisimu, kaya atau pun miskin, bodoh atau pun pintar, keep moving forward, stay focused on your goal..!!

Sometimes, we need to get through hell to get to heaven.

Selalu ada tantangan, ujian, serta kesulitan yang menuntut kita untuk bisa memperbaiki dan menguatkan kapasitas diri.

Memang, sebuah prestasi butuh bahu yang sesuai agar bisa memikulnya.

Yuk, semangat!

Let’s break the limits..!!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo | Instagram: sdsafadg | Line ID: @zux2328h | Twitter @01_budi