Posted in Studi di Amerika

Terima Kasih Kesulitan…

Washington, DC
Obelisk, Washington, DC

Pagi ini serasa ada angin segar menerpa, walaupun sebenarnya sedang berada di dalam kamar. Satu kerisauan yang sangat sangat membuat stress diri beberapa minggu ini akhirnya terjawabkan sudah. Hasil belajar siang malam semester ini terbayarkan sempurna, straight A’s!!!

Saya masih ingat dulu waktu sedang menempuh kuliah Sarjana, ada satu teman jurusan Pendidikan Kimia yang selalu menjadi buah bibir setiap kali nilai keluar di penghujung semester. Dia menjadi pusat perhatian karena hampir setiap semester IP yang didapatkannya selalu 4.0, semua mata kuliah mendapatkan nilai A. Tentu saja, banyak teman-teman yang ingin tahu bagaimana dia bisa mendapatkan IP se-sempurna itu, setiap semester lagi. Tiga orang teman dekat saya termasuk diantara yang suka membahas si Jenius ini. Lalu, bagaimana dengan saya? Cukup senyum-senyum saja, soalnya IP saya biasa saja, yah sekedar lewat standar 3.0. Ketiga teman dekat saya ini kemudian lulus dengan predikat Cumdlaude. Tetapi, saya duluan yang tamat dari mereka semua.

Sejak masuk kuliah S1, saya sadar dengan kemampuan diri di bidang bahasa Inggris. Berangkat dari membenci bahasa Inggris di SMP dan SMA dan hanya beruntung menemukan guru yang sesuai di kelas 3 SMA, tidak bisa menjadi tolak ukur kalau bahasa Inggris saya langsung melonjak bagus. Saya pun mengerti mungkin Tuhan sedang berbaik hati dengan meluluskan saya di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, satu-satunya dari SMA dan jurusan IPA lagi. Ketika mengikuti masa orientasi mahasiswa baru di kampus, hanya bisa bengong saja mendengar dosen dan teman-teman berbicara menggunakan bahasa Inggris. Makanya, setelah memperhitungkan semua ini, saya tidak terlalu sakit hati ketika teman-teman dekat mendapatkan IP yang jauh lebih tinggi.

Ternyata, menyadari kondisi diri itu penting, asalkan dibarengi dengan semangat dan ketekunan untuk memperbaikinya. Diam-diam dirumah saya selalu meluangkan waktu belajar bahasa Inggris, mulai dari Tenses sampai kosa kata. Tenses saya belajar dari kamus-kamus murah yang berjudul satu miliar kosa kata. Dibagian tengah kamus tersebut ada bagian yang membahas tentang Tenses; selalu saya buka setiap kali menemukan kesulitan dengan Tenses. Untuk kosa kata, saya menerapkan satu hari satu kosa kata yang dihafal. Di atas satu kertas kecil saya tuliskan satu kosa kata, tetapi bersama dengan bentuk lain dari kosa kata tersebut, misalnya Beautiful, Beauty, dan Beautify, dan contoh penggunaannya dalam kalimat. Karena saya suka sekali bercermin, kertas kecil ini ditempelkan di cermin agar dalam satu hari sering dilihat dan bisa dihafal. Di akhir minggu, hafalan di diulang dari hari pertama beserta dengan contoh kalimat dan kalimat baru yang dibuat sendiri.

Saya juga sadar kalau bagaimana pun usaha belajar yang dilakukan, mungkin sulit untuk mengejar IP teman-teman dekat. Oleh sebab itu, saya tidak pernah ingin berkompetisi dengan mereka dan tidak mengangap mereka sebagai rival. Saya memilih menikmati proses belajar yang sedang dijalani sembari melihat-lihat peluang yang ada. Beruntung, dari awal kuliah saya sudah banyak mengikuti aktifitas organisasi dan mendorong diri untuk banyak menulis karya ilmiah. Semua aktifitas ini meruapakan cara saya untuk memberikan nilai tambah pada diri sendiri, jadi meskipun IP biasa saja, pengalaman lengkap di berbagai aktifitas. Namun, selalu tertanam dalam pikiran saya untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin, kemudian lanjut lagi terus sampai jenjang S3. Sekali studi, selesaikan sampai akhir dan secepat mungkin agar bisa mengerjakan hal yang lain. Studi S1 saya selesaikan kurang dari 4 tahun, S2 satu tahun, dan sekarang S3, semoga bisa diselesaikan dengan secepatnya juga.

Sepertinya, jika kita tetap berusaha memperbaiki diri tanpa harus merasa sakit hati dan membalas dengan mencaci kembali setiap orang yang merendahkan dan jauh melampaui kita, somehow dimasa depan ada waktunya Tuhan menempatkan kita di posisi yang lebih baik. Dulu, mau dapat IP 3.5 saja susahnya bukan main saat S1 di Indonesia, sekarang malah mendapatkan straight A’s studi di Amerika. Apakah itu berarti studi di Amerika lebih mudah? Rasanya tidak. Hanya saja, saya selalu teringat masa-masa bodoh sekali di bahasa Inggris, main catur kala pelajaran bahasa Inggris, dan lain sebagainya. Tetapi, saya harus membayarnya dengan belajar siang malam, berdiam diri, sampai ada hasil nyata yang terlihat. Teringat juga ketika melalui semester pertama studi S2 di Inggris, beberapa kali menangis karena tidak paham dengan apa maunya Professor dengan tugas paper yang dibuat. Namun ternyata, kesulitan itu yang membantu membuka pikiran saya dan mengajari saya tentang bagaimana menulis academic paper yang baik hingga membawa saya lanjut studi S3.

Terima kasih kesulitan.

Memang enaknya, biar direndahkan atau pun terlihat biasa saja, asalkan diam-diam berusaha keras dan tekun belajar kemudian menampar yang merendahkan dengan prestasi. Percayalah, mentari itu akan terbit lagi esok hari, lalu kembali terbenam, sama seperti hari ini. Apa yang kamu kerjakan itu yang akan membuat perbedaan.

Good Night!

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: sdsafadg I Twitter @01_budi | Instagram: sdsafadg

Posted in Bahasa Inggris, Beasiswa, Studi di Amerika

Menulis Korepondensi E-mail ke Professor di Universitas Luar Negeri

10441391_797776063589550_7141184884023532243_n
Linderman Library, Lehigh University, USA.

Masih kebingungan soal bagaimana menulis korespondensi e-mail ke Professor di Universitas luar negeri? Tulisan ini akan mencoba membahasnya dengan jelas.

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya memahami terlebih dahulu kenapa kita perlu korespondensi melalui e-mail dengan Professor di Universitas luar negeri. Bagi yang semangat berburu beasiswa studi ke luar negeri, pastikan paham soal beasiswa yang dikejar dan tingkatan degree yang dicari.

Untuk kategori S2, pertama, bila beasiswanya tidak meminta LOA sebagai salah satu persyaratan di depan, korespondensi dengan professor di Universitas luar negeri tidak terlalu perlu dilakukan. Dalam beasiswa jenis ini akan ada tahap tersendiri untuk melamar universitas di negara yang dituju dan pihak beasiswa akan membantu prosesnya. Korespondensi e-mail boleh dilakukan bila sekedar ingin mengenal dan ngobrol dengan professor di kampus yang dituju.

Kedua, bila beasiswanya meminta LOA sebagai persyaratan yang harus dipenuhi di awal, sebaiknya lakukan korespondensi dengan salah satu Professor di universitas yang dituju. Kenapa? Harapannya nanti ketika kita mengirimkan aplikasi lamaran ke universitas, si Professor bisa menjadi penguat dan memberikan sedikit rekomendasi untuk kita pada komite seleksi mahasiswa baru di jurusan tersebut.

Untuk kategori S3, mau akan melamar beasiswa yang minta LOA atau pun tidak, sebaiknya tetap berkorepondensi dengan Professor di universitas luar. Di jenjang S3, kita harus memastikan kalau ada Professor yang tertarik dengan topik penelitian kita dan bersedia menjadi pembimbing nanti ketika studi. Studi S3 itu jantungnya adalah penelitian, yang membuat studi terus berjalan, sekali ada masalah dengan penelitian, studi bisa terganggu. Jadi, memastikan ada Professor yang ahli di bidang yang akan diteliti serta memastikan persetujuan dia untuk membimbing sangat penting demi kelanacaran studi nanti.

Misalnya, saya dulu setelah menyelesaikan S2 di University of Manchester, Inggris, pulang ke Indonesia. Research proposal S3 sudah saya selesaikan sembari studi S2. Ketika di Indonesia, saya mulai buka website berbagai universitas di negara-negara luar, seperti Australia, Kanada, Amerika, dan Inggris. Saya buka informasi tentang program yang ingin dilamar, kemudian membaca profil para professor yang mengajar, pelajari research interest mereka lewat curriculum vitae yang tersedia. Biasanya di CV, lengkap dijelaskan tentang topik penelitian yang diminati si Professor sekaligus artikel-artikel yang sudah ditulisnya. Setelah menemukan Professor yang kira-kira sesuai dengan topik penelitian kita, cari dan baca artikel dan buku yang beliau tulis, ini akan berguna sebagai bahan mengawali pembicaraan saat korespondensi lewat e-mail nanti. Waktu itu saya kirimkan e-mail ke lebih dari lima universitas di negara yang berbeda beserta dengan research proposal yang sudah dibuat, ada yang membalas dan ada yang tidak. Itu biasa. Makanya, kita perlu menebar e-mail sebanyak-banyaknya agar respon yang didapat tidak nihil.

Setelah mendapatkan respon dari Professor dan beliau menunjukkan ketertarikkan pada penelitian kita, minta mereka tuliskan sebuah surat persetujuan untuk menjadi pembimbing kita saat studi di universitas tersebut nanti. Surat ini bisa digunakan untuk salah satu dari dua hal: pertama, kita bisa lampirkan bersama dengan aplikasi lamaran ke universitas untuk mendapatkan LOA, dan kedua, kita bisa lampirkan surat itu dalam aplikasi lamaran beasiswa tertentu sebagai penguat. Contohnya, saya dulu mendapatkan surat persetujuan dari seorang Professor di satu universitas di Australia, lalu saya lampirkan surat itu di aplikasi beasiswa Australia Awards yang saya lamar.

Bagaimana menulis e-mail yang baik?

Menyusun kalimat bahasa Inggris yang baik untuk berkorespondensi dengan Professor di Universitas luar terkadang bisa membuat kepala pusing. Kalimat yang dibuat harus singkat, dapat, dan jelas, sekaligus pastikan tidak ada kesalahan Grammar. Kesan pertama lewat tulisan haruslah sempurna. Bila topik penelitian bagus dan si Professor tertarik, namun dia melihat ada kesulitan dari segi bahasa, apalagi setelah melihat skor TOEFL atau IELTS si calon mahasiswa yang rendah, kemungkinan terbesar kampus akan menerima dengan syarat, umumnya diminta mengikuti kursus bahasa Inggris di kampus sebelum studi di mulai.

Sebagai bahan referensi, ini ada contoh e-mail yang bisa digunakan untuk berkorenpondensi dengan Professor di luar negeri yang ditulis oleh Ersa Tri Wahyuni, mahasiswa PhD di University of Manchester (@ErsaTriWahyuni):


Dear Prof XYZ,

Your paper titled, “Market reaction in European Capital Market….” really fascinated me. I found it very inspiring. (you can also talk which part are inspired you or about his other paper) My name is Ersa Tri Wahyuni from Indonesia and I am really interested to pursue my PhD next year in this area too. I had my master degree from Melbourne University and currently an accounting lecturer at Padjadjaran University in Indonesia.

I have written a research proposal and I am wondering if you are keen to provide me some feedback on my research proposal. Your feedback and inputs to my research proposal would be very much appreciated. And I also wonder if you are recruiting PhD students in my area of research interest.

Attached are my research proposal and my CV. Looking forward to your reply at your most convenient time.

Best regards,
Ersa


Contoh e-mail ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan, tapi setidaknya kalimatnya sudah singkat, padat, dan jelas. Saya juga mengadopsi kalimat-kalimat di e-mail ini ketika menyebarkan e-mail ke professor di berbagai kampus di luar. Pastikan kalimat e-mailnya selesai dulu, baru kemudian mulai mencari Professor yang pas, lalu mulai kirimkan e-mail.

Bagaimana mencari kontak Professor?

Buka website universitas yang dituju. Cari bagian Department atau Degree, buka, kemudian cari nama jurusan yang diminati. Setelah menemukan jurusan yang diminati dan dibuka, di halaman tersebut akan tersedia semua penjelasan tentang mata kuliah, sistem belajar, termasuk Faculty Members. Di bagian Faculty Members ini, di website universitas lain namanya bisa berbeda, tersedia informasi tentang semua Professor yang mengajar di jurusan tersebut beserta kontak mereka. Alamat e-mail mereka bisa ditemukan dengan mudah di bagian ini.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: sdsafadg I Twitter @01_budi | Instagram: sdsafadg

Posted in Studi di Amerika

Semester Musim Semi

Pemandangan salah satu jalan di dalam kampus Lehigh di musim dingin
Pemandangan salah satu jalan di dalam kampus Lehigh di musim dingin

Setelah libur musim dingin selama kurang lebih satu bulan, semester musim semi pun dimulai. Kuliah di Amerika umumnya memiliki dua semester dalam satu tahun; semester musim gugur (fall semester) dan semester musim semi (spring semester). Buat mahasiswa yang ingin menambah atau bahasa kita biasanya semester pendek bisa diambil saat musim panas, dimana kuliah akan libur selama tiga bulan. Ini enaknya kuliah di Amerika, waktu liburannya banyak, bahkan di musim semi ini juga ada namanya spring break, libur sekitar seminggu, belum lagi ditambah liburan hari-hari besar lainnya, seperti easter break, dan sebagainya. Tetapi, jangan salah, walaupun banyak liburnya, waktu kuliah adalah waktunya belajar, tidak bisa main-main kalau tidak mau menderita di ujung semester. Makanya, mahasiswa-mahasiswa di Amerika sangat memanfaatkan waktu libur dengan baik, sebagian besar sudah membuat rencana jauh-jauh hari tentang apa yang mau dilakukan ketika liburan datang, karena kalau sudah kuliah, jangan harap bisa bergerak kemana-mana selain ke perpustakaan.

Pada dasarnya, cuaca di Amerika masih berada dalam musim dingin, salju masih bertebaran dimana-mana dan temperatur masih minus dibawah 0 derajat celcius. Musim semi baru akan datang sekitar akhir bulan Maret; saat itu rerumputan yang kini terlihat gundul dan keriting, bakal berbunga warna-warni; pepohonan sudah akan mulai berdaun kembali. Setidaknya, begitu pemandangan yang saya alami ketika di Inggris dahulu, pastinya tidak berbeda di Amerika. Di penghujung musim dingin ini salju tidak lagi terlihat menarik. Perasaan senang dan gembira pertama kali salju turun kadang berubah perlahan menjadi kekesalan bila terlalu banyak, terutama bagi yang memiliki kendaraan. Selain itu, mahasiswa tidak bisa lagi tinggal berdiam diri didalam kamar menikmati kehangatan heater; harus keluar menghadiri kelas, diskusi, ikut seminar, dan lain-lain dimana harus menembus dinginnya suhu. Di kota saya, Bethlehem, beruntung tahun ini musim tidak seburuk tahun lalu. Salju turun beberapa kali dan temperatur sudah beberapa kali minus 10 derajat celcius; hari rabu ini pun akan kembali turun salju dan suhupun akan tempus minus 14 derajat.

Dengan memakai penutup telinga, sarung tangan, dan jaket saya mulai berangkat ke kampus yang hanya berjarak sekitar sepuluh menit dari rumah. Tetapi, kelas saya ada di Mountain Top campus, harus naik bus untuk sampai kesana. Lehigh University punya bus gratis yang disiapkan untuk mahasiswa yang akan kuliah di Mountain Top. Kampus ini termasuk salah satu kampus terluas di Amerika; ada tiga tempat, yaitu lower campus, mountain top, dan goodman campus. Masing-masing kampus punya fungsi yang berbeda-beda, misalnya lower campus merupakan pusat kantor-kantor dan perpustakaan, mountain top tempatnya jurusan engineering dan education belajar, sedangkan goodman campus adalah pusat olahraga, berbagai lapangan mulai dari football, hockey, dan yang lainnya terhampar luas di goodman campus. Tidak sulit bagi mahasiswa untuk berpergian dari satu kampus ke kampus lainnya karena ada bus service. Untuk melihat jadwal bus, mahasiswa tinggal download aplikasi yang tersedia di app store. Jadi, bisa dengan mudah mengatur waktu kapan harus bernagkat ke halte bus.

Bus Serivice yang membawa mahasiswa ke Mountain Top Campus
Bus Service yang membawa mahasiswa ke Mountain Top Campus

Di semester musim semi ini, ada satu mata kuliah yang sangat saya tunggu-tunggu. Mata kuliah ini tentang “experiencing the United Nations”, artinya mahasiswa akan banyak mengunjungi kantor Persekutuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ada New York, termasuk dengan eksplorasi Non-Government Organizations (NGOs) yang bekerja dibawah PBB. Mengunjungi PBB bukanlah hal yang baru bagi saya atau pun mahasiswa Lehigh lainnya. Kurang lebih satu dekade sudah partnership antara Lehigh dan United Nations berlangsung, dan Lehigh University sudah menjadi anggota ke-enam didalam PBB yang tercatat sebagai sebuah NGO tapi berupa universitas. Bila semester perkualiahan sudah mulai begini, akan mulai banyak kesempataan menghadiri acara-acara di PBB dan harga tiket kadang dipotong setengah sampai gratis. Inilah mata kuliah pembuka semester musim semi hari ini, I feel so excited about it! Katanya, pendaftaran sudah ditutup jauh sebelum waktunya disebabkan banyak mahasiswa yang berminat.

Salah satu nilai tambah dan keuntungan dari kuliah di luar negeri adalah ada banyak kesempatan untuk mahasiswa terlibat dalam aktifitas-aktifitas berskala internasional. Organisasi internasional atau pun sosok tokoh yang dulunya hanya bisa dilihat lewat TV dan dibaca dari buku sudah berada dalam jangkauan kaki. Saya ingat waktu masih duduk di bangku SMP selalu ditanya siapa sekretaris umum PBB? Oleh sebab itu, nama Kofi Annan tidak perlu hilang dari ingatan saya, meskipun tidak terlalu mengerti apa itu PBB. Sekarang, kesempatan berkunjung ke kantornya Kofi Annan terbuka dengan lebar dan mudah. Saya ingat waktu di Inggris pernah menonton pidato populer Malala di YouTube, gadis yang coba dibunuh oleh tentara Taliban dan akhirnya memenangkan Nobel Perdamaian tahun lalu. Semester lalu, bisa menghadiri langsung diskusi bersama Malala dan Ban ki moon, Sekretaris Umum PBB. Seperti tumbuhan, jika berada di lahan yang subur dan penuh nutrisi, pasti bisa tumbuh besar dan berkembang biak dengan baik, mungkin begitulah gambaran studi di kampus luar negeri yang memiliki koneksi internasional dan fasilitas belajar yang bagus untuk mahasiswanya.

Ini hari pertama masuk kelas, tapi ternyata hari pertama juga saya terlambat. Pagi hari tadi sibuk baca-baca materi yang akan dibahas untuk kelas hari ini, membuat saya lupa untuk masak, padahal harus makan. Sarapan pagi sudah di skip, tidak mungkin berlanjut dengan makan siang pula. Kalau tadi keuntungan belajar di luar negeri, yang satu ini mungkin hal yang cukup menyebalkan. Kita harus memikirkan mau makan apa; mau makan diluar keseringan mahal, mau murah masak sendiri tapi makan waktu, belum lagi hasil masakan yang didapat jauh dari kata lezat. Soal makanan, tinggal di Indonesia rasanya adalah pilihan yang terbaik. Nasi padang harga sepuluh ribuan lebih dari cukup untuk mengisi perut. Beruntunglah mahasiswa yang hobi masak; andai saya bisa tinggal bersama mereka..he.

Semester musim semi sudah dimulai, ibarat genderang perang sudah ditabuh. Tidak ada lagi waktu untuk berleha-leha dan main-main. Belajar di luar negeri perlu berhati-hati, jangan sekali-sekali meremehkan. Teman saya yang baru pertama kali belajar di Amerika sudah kena batunya; dia merasa nialinya baik-baik saja, semua mata kuliah dilalui dengan baik, ternyata hasil IPK yang didapat jauh dibawah standar yang diharapkan. Sebenarnya, ketika studi S2 di Inggris, saya juga mendapatkan pengalaman yang sama. Di semester satu percaya diri sekali, semua mata kuliah dilewati dengan mudah sambil tersenyum bangga, eh, ternyata nilai yang keluar jauh dari harapan. Saya jadi menyimpulkan,” If you feel safe, you may get the opposite”. Jadi, lebih baik merasa unsafe dan tidak nyaman selalu, jadi bisa lebih berhati-hati dan terus memperbaiki sebanyak mungkin. Itu yang saya lakukan di semester lalu, dan hasil yang didapatkan lebih dari yang diharapkan.

– – – – – – – – – – –

Budi Waluyo I BBM 7DCB0622 I Line ID: Sdsafadg I Twitter @01_budi